Di tengah dorongan smartphone AI, angka 12GB mulai naik kelas menjadi batas yang terasa aman untuk penggunaan yang lebih berat. Kapasitas itu memberi ruang lebih lega saat ponsel dipakai untuk gaming, multitasking, dan berbagai fitur AI generatif yang kini semakin sering dijalankan langsung di perangkat.
Perubahan ini tidak berarti 8GB langsung usang. Untuk pemakaian harian seperti media sosial, streaming video, navigasi, dan komunikasi, RAM 8GB masih cukup relevan pada 2026.
Kenapa 12GB makin dilihat sebagai titik aman
Beban kerja smartphone sekarang tidak lagi sesederhana membuka aplikasi biasa. Ringkasan teks otomatis, editing foto berbasis AI, penerjemahan real-time, sampai pemrosesan model bahasa kecil tanpa cloud membuat ponsel butuh memori yang lebih longgar.
Di kondisi seperti itu, 12GB mulai dianggap lebih pas karena memberi ruang tambahan agar aplikasi tidak mudah dimuat ulang di latar belakang. Performa pun lebih stabil saat banyak tugas berjalan bersamaan.
8GB masih ada, tetapi ruang geraknya lebih sempit
Untuk kebutuhan dasar, 8GB belum kehilangan fungsi. Pengguna yang hanya mengandalkan ponsel untuk aktivitas ringan masih bisa menjalankan perangkat dengan nyaman.
Namun, situasinya berubah saat ponsel dipaksa menghadapi game berat, editing video mobile, atau penggunaan fitur AI generatif secara intensif. Pada titik itu, 8GB mulai terasa sempit bagi perangkat yang ingin menjaga performa tetap konsisten.
Segmen premium mulai bergerak ke 16GB hingga 24GB
Di atas 12GB, pasar juga melihat dorongan ke kapasitas yang lebih besar. Varian 16GB hingga 24GB mulai banyak diarahkan ke smartphone gaming dan flagship ultra-premium yang memang punya kebutuhan khusus.
Kapasitas sebesar itu bukan untuk semua orang. Fokus utamanya ada pada gaming kompetitif, multitasking ekstrem, dan pemrosesan AI tingkat lanjut yang membutuhkan sumber daya lebih besar.
Samsung, Xiaomi, dan OnePlus ikut mengubah arah pasar
Samsung termasuk salah satu pemain yang paling agresif dalam mendorong RAM besar. Lini Galaxy S Ultra dan Galaxy Z Fold dalam beberapa generasi terakhir hadir dengan kapasitas tinggi untuk mendukung Galaxy AI dan multitasking layar lipat.
Xiaomi dan OnePlus juga memakai pendekatan serupa. Keduanya mengandalkan RAM besar untuk gaming dan pengolahan AI lokal lewat HyperOS serta OxygenOS.
Apple memilih jalur yang berbeda. iPhone tetap bertumpu pada optimasi iOS dan efisiensi Apple Silicon, meski Apple juga mulai menaikkan RAM pada lini iPhone Pro untuk mendukung Apple Intelligence dan fitur AI generatif yang diperkenalkan sejak 2025.
Jenis memori dan chipset ikut menentukan pengalaman
Selain kapasitas, jenis RAM juga berpengaruh. LPDDR5X kini makin luas dipakai di smartphone premium karena menawarkan bandwidth lebih tinggi dan efisiensi daya yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
Teknologi ini membantu ponsel menangani beban AI dan gaming tanpa membuat konsumsi baterai melonjak tajam. Di sisi lain, virtual RAM atau memory expansion juga makin sering digunakan karena bisa meminjam sebagian penyimpanan internal sebagai RAM tambahan.
Meski berguna dalam kondisi tertentu, virtual RAM tetap tidak setara dengan RAM fisik. Kinerjanya masih bergantung pada kecepatan storage internal, sehingga tidak bisa menggantikan memori utama sepenuhnya.
Dorongan ke RAM yang lebih besar juga datang dari chipset generasi baru. Qualcomm, MediaTek, dan Apple merancang Snapdragon 8 Elite, Dimensity flagship terbaru, serta Apple A-series generasi baru untuk menjalankan model AI langsung di perangkat.
Arsitektur seperti itu membuat kebutuhan memori ikut naik dibanding aplikasi mobile konvensional. Karena itu, keseimbangan antara RAM, efisiensi daya, dan kemampuan AI menjadi fokus utama pengembangan smartphone saat ini.
Pasar Indonesia ikut ikut terdorong ke 12GB
Di Indonesia, tren ini juga berubah menjadi strategi pemasaran. Banyak perangkat kelas menengah kini ditawarkan dengan RAM 12GB untuk menarik pengguna muda yang aktif bermain game, membuat konten, dan menjalankan banyak aplikasi sekaligus.
Meski begitu, 8GB belum sepenuhnya hilang dari pasar. Untuk pengguna standar, kapasitas itu masih relevan pada 2026 selama kebutuhan utama tetap seputar komunikasi, hiburan ringan, dan penggunaan harian.
Yang berubah adalah standar rasa aman di mata pembeli. Pengguna yang mengandalkan AI generatif, game berat, dan produktivitas mobile makin sering melihat 12GB sebagai pilihan yang lebih tenang untuk pemakaian jangka panjang.
