Sebanyak 16 Warga Negara Indonesia dipastikan meninggal dalam insiden kapal di perairan Perak, Malaysia. Temuan itu menjadi dasar bagi KBRI Kuala Lumpur untuk mempercepat proses identifikasi jenazah dengan bantuan sampel DNA keluarga.
Upaya tersebut dilakukan sambil KBRI terus memantau penanganan para WNI yang selamat. Pemerintah Indonesia juga menjaga komunikasi dengan keluarga korban agar perkembangan terbaru bisa segera disampaikan dan proses pencarian data pendukung berjalan lebih cepat.
Identifikasi korban dipercepat lewat DNA
KBRI Kuala Lumpur bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri keluarga yang diduga memiliki hubungan dengan para korban meninggal dunia. Dari penelusuran itu, sampel DNA keluarga menjadi bagian penting agar identifikasi jenazah bisa dilakukan lebih akurat.
Langkah ini dipilih karena data awal di lapangan belum cukup untuk memastikan identitas seluruh korban. Kesesuaian data keluarga dan sampel biologis dibutuhkan sebagai verifikasi dalam penanganan jenazah.
Koordinasi dengan Rumah Sakit Teluk Intan juga menguatkan data bahwa jumlah WNI yang meninggal dalam insiden tersebut mencapai 16 orang. Informasi itu menjadi acuan utama bagi KBRI untuk mempercepat proses identifikasi secara lebih terarah.
Akses ke penyintas terus dijaga
Di sisi lain, KBRI Kuala Lumpur sudah mendapatkan akses untuk bertemu langsung dengan 18 WNI yang selamat. Pertemuan itu digunakan untuk memverifikasi identitas, menggali keterangan tambahan, dan memeriksa kondisi mereka secara langsung.
Berdasarkan identifikasi awal, para WNI yang selamat berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. KBRI menyebut seluruh WNI yang selamat berada dalam kondisi baik dan sehat.
Selain pendataan, akses kekonsuleran juga menjadi perhatian agar perlindungan kemanusiaan bagi para WNI tetap terjaga. Penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada korban meninggal, tetapi juga pada pemenuhan hak para penyintas selama proses berjalan.
Lima WNI masih diperiksa aparat Malaysia
Masih ada lima WNI yang menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh Polis Diraja Malaysia. Pemeriksaan itu dilakukan karena mereka diduga terkait dengan tindak pengiriman migran ilegal.
KBRI Kuala Lumpur menyampaikan bahwa proses penanganan tetap berlangsung sambil menunggu hasil pemeriksaan aparat Malaysia. Perkembangan kasus itu terus dipantau agar hak-hak para WNI tetap terlindungi selama proses hukum berjalan.
Sejak informasi awal diterima pada 11 Mei, KBRI langsung bergerak dan menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak di Malaysia. Jaringan komunikasi itu mencakup Polis Diraja Malaysia, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia, IPK Perak, IPD Manjung, Jabatan Kesehatan Masyarakat, dan Rumah Sakit Teluk Intan.
KBRI Kuala Lumpur juga membuka jalur komunikasi bagi keluarga yang merasa memiliki anggota keluarga terkait insiden tersebut atau membutuhkan informasi lebih lanjut. Masyarakat dapat menghubungi Hotline Pelindungan KBRI Kuala Lumpur di nomor +60 17-668 8032 untuk membantu proses pendataan dan identifikasi.
