Sebanyak 185 ambulans relawan yang tergabung dalam Paguyuban Sedulur Ambulans Klaten menjadi kekuatan penting dalam layanan transportasi warga di Kabupaten Klaten. Armada ini bergerak di luar ambulans milik rumah sakit, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan Klaten, sehingga posisinya menjadi pelengkap dalam ekosistem pelayanan publik daerah.
Layanan yang dijalankan Paguyuban Sedulur Ambulans Klaten juga ditegaskan gratis untuk masyarakat. Ketua Paguyuban Sedulur Ambulans Klaten, Husni Thamrim, menyampaikan bahwa relawan tetap bisa menerima infak dari warga yang ingin memberi, tetapi pelayanan tetap diberikan dengan sepenuh hati.
Pengukuhan paguyuban ini dilakukan oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, di Pendapa Kabupaten Klaten. Keberadaan para relawan ambulans itu kini semakin mendapat pengakuan sebagai bagian dari kerja kemanusiaan yang membantu mobilitas warga di banyak wilayah Klaten.
Acara pengukuhan turut dihadiri Forkopimda, Ketua DPRD Edy Sasongko, Pj Sekda Jaka Purwanto, kepala OPD, serta sekitar 400 relawan SAK. Kehadiran banyak unsur pemerintahan dan relawan memperlihatkan bahwa layanan ambulans berbasis komunitas telah mendapat perhatian serius dari daerah.
Armada relawan yang aktif di lapangan
Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, menjelaskan bahwa sebagian ambulans tidak hadir saat pengukuhan karena sedang bertugas melayani masyarakat. Kondisi itu menunjukkan bahwa armada SAK memang aktif bergerak di lapangan, bukan sekadar hadir dalam kegiatan seremonial.
Menurut Anggit, pengukuhan paguyuban penting untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Sinergi dengan Dinas Kesehatan dibutuhkan agar pelayanan transportasi SAK bisa berjalan lebih cepat dan terarah saat kebutuhan warga muncul.
Ia juga menilai penguatan koordinasi ini membantu menyamakan langkah layanan di lapangan. Dengan pola kerja yang lebih rapi, akses warga terhadap transportasi darurat maupun sosial diharapkan menjadi lebih mudah terhubung.
Jejaring lintas komunitas yang menyatu
Kekuatan SAK tidak hanya terletak pada jumlah armadanya, tetapi juga pada latar belakang para relawannya. Anggotanya berasal dari beragam komunitas dan unsur keagamaan, mulai dari Muhammadiyah, NU, MTA, LDII, hingga forum keagamaan Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Komposisi itu menunjukkan bahwa gerakan ambulans relawan di Klaten dibangun dengan semangat kebersamaan. Layanan yang diberikan pun tidak hanya bergantung pada kendaraan dan pengemudi, tetapi juga pada koordinasi sosial antarberbagai kelompok masyarakat.
Husni menegaskan kembali bahwa armada SAK berada di luar ambulans milik fasilitas kesehatan resmi. Penegasan ini penting agar masyarakat memahami peran SAK sebagai mitra pelengkap, bukan pengganti layanan kesehatan pemerintah dan rumah sakit.
Dukungan daerah untuk layanan kemanusiaan
Bupati Hamenang menyambut baik pengukuhan Paguyuban SAK dan menyebut para relawan sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Ia berharap mereka dapat menjadi garda terdepan dalam membantu pelayanan masyarakat di Klaten.
Dalam penjelasannya, Hamenang juga menekankan bahwa fungsi utama ambulans relawan SAK adalah transportasi. Ia membedakan peran itu dari ambulans rumah sakit, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan yang menjalankan layanan kesehatan.
Pemisahan peran tersebut membuat posisi SAK menjadi jelas di tengah kebutuhan warga. Di satu sisi, relawan hadir untuk membantu mobilitas masyarakat yang membutuhkan kendaraan cepat, sementara di sisi lain layanan resmi pemerintah tetap berjalan sesuai kewenangannya.
Dengan 185 ambulans relawan yang tersebar di berbagai wilayah Klaten, paguyuban ini memiliki modal sosial yang besar untuk mendukung layanan kemanusiaan. Dukungan pemerintah daerah, kerja relawan lintas komunitas, dan komitmen layanan gratis menjadi dasar penting agar armada SAK terus bergerak melayani warga.
