YouTube memperketat syarat monetisasi bagi kanal yang mengandalkan produksi video otomatis berkualitas rendah untuk mengejar klik dan pendapatan iklan. Mulai Kamis, 16 Juli 2026, konten yang tidak autentik, terlalu seragam, atau berpotensi menyesatkan tidak lagi memenuhi syarat dalam YouTube Partner Program.
Langkah ini tidak melarang penggunaan kecerdasan buatan secara menyeluruh. YouTube tetap membuka ruang bagi AI sebagai alat kreatif, tetapi meminta kreator menunjukkan gagasan, pengolahan editorial, dan sudut pandang manusia.
3 Jenis Konten yang Kehilangan Monetisasi
Kebijakan baru tersebut menargetkan tiga pola konten yang dinilai tidak memberi nilai berarti bagi penonton maupun ekosistem kreator. Ketiganya mencakup video berulang, konten yang memainkan emosi, serta persona sintetis yang memberi arahan pada topik berisiko tinggi.
| Kategori | Ciri Utama | Contoh |
|---|---|---|
| Konten generik dan berulang | Format AI, CGI, atau templat dipakai dengan variasi minim | Video dan tutorial berulang tanpa perspektif baru |
| Konten manipulatif | Dirancang untuk memancing emosi atau klik secara mengganggu | Video penyelamatan hewan yang direkayasa |
| Persona AI untuk topik sensitif | Avatar sintetis memberi saran dalam bidang berisiko | Nasihat kesehatan, keuangan, dan hukum |
1. Konten Generik dan Berulang
Jenis pertama mencakup unggahan yang memakai formula sama secara berulang dengan pembaruan substansi yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Video semacam ini dapat dibuat melalui AI, CGI, maupun templat yang ditujukan untuk menghasilkan banyak unggahan dalam waktu singkat.
YouTube menilai pola tersebut bermasalah ketika teknologi dipakai untuk menggandakan format tanpa cerita, analisis, atau nilai kreatif baru. Otomatisasi penuh tidak lagi cukup untuk mempertahankan pendapatan iklan.
2. Konten Manipulatif
Pengetatan tidak hanya menyasar video yang dibuat dengan AI. YouTube juga menyoroti materi yang sengaja memanipulasi emosi penonton demi memperoleh klik.
Salah satu contoh yang disebut ialah video penyelamatan hewan yang ternyata direkayasa atau dipentaskan. Praktik itu dinilai mengganggu karena mengeksploitasi respons emosional audiens tanpa memberi informasi yang dapat dipercaya.
3. Persona AI untuk Topik Sensitif
Avatar atau persona AI yang memberikan arahan seputar kesehatan, keuangan, dan hukum juga tidak dapat dimonetisasi. Area tersebut dianggap sensitif karena saran yang keliru berpotensi memengaruhi keputusan penting pengguna.
Pembatasan ini menempatkan risiko misinformasi sebagai salah satu pertimbangan utama. Konten yang tampak meyakinkan tidak otomatis dianggap layak menerima pendapatan iklan jika arahan yang diberikannya berpotensi menyesatkan.
AI Tetap Diterima sebagai Alat Kreatif
Kepala Kepercayaan dan Keamanan YouTube, Matt Halprin, menyampaikan kepada Creator Insider bahwa AI masih dapat membantu kreator menghasilkan karya berkualitas tinggi. Batasnya muncul ketika teknologi itu hanya dipakai untuk membuat video seragam dengan usaha yang sangat minim.
Fenomena yang dibidik sering disebut AI slop, yaitu materi digital berkualitas rendah hingga menengah yang dibuat secara cepat tanpa perhatian serius pada akurasi, kedalaman, nilai edukasi, atau kualitas artistik. Bentuknya dapat berupa video, artikel, gambar, musik, podcast, hingga ilustrasi yang diproduksi otomatis melalui perintah teks sederhana.
Menjaga Kepercayaan Penonton dan Pengiklan
Ledakan video otomatis berisiko memenuhi feed dengan konten berulang, judul pancingan klik, serta informasi yang belum diverifikasi. Situasi tersebut dapat menyulitkan penonton membedakan materi yang tepercaya dari konten yang semata-mata dirancang untuk menarik perhatian.
Beritasatu melaporkan bahwa peneliti Stanford Internet Observatory memperingatkan ledakan materi AI dapat menciptakan kebisingan digital yang mengaburkan fakta penting. YouTube pun berkepentingan menjaga kualitas platform ketika bersaing dengan televisi tradisional dan layanan streaming untuk memperoleh anggaran iklan.
Analisis The Guardian menemukan sembilan dari 100 kanal teratas yang ditelaah berisi video AI, dengan salah satu videonya meraih lebih dari 362 juta penayangan. Bagi kreator, kebijakan ini menegaskan bahwa AI perlu menjadi pendukung karya orisinal, bukan mesin produksi spam.
