5 Kebiasaan Sederhana Orang Jepang yang Diam-Diam Membuat Hidup Lebih Panjang

Harapan hidup warga Jepang tercatat mencapai 83,89 tahun, jauh di atas rata-rata global. Di balik angka itu, ada pola hidup sederhana yang dijalankan konsisten dalam keseharian.

Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah kemampuan mereka menikmati proses, bukan semata mengejar hasil. Di tengah hidup yang serba cepat, sikap ini membuat banyak orang Jepang terlihat lebih tenang dalam memaknai rutinitas dan tujuan hidup.

Hubungan Sosial yang Dijaga Rapat

Koneksi sosial yang hangat berkaitan erat dengan kebahagiaan dan umur panjang. Penelitian Harvard selama 85 tahun menunjukkan bahwa hubungan yang baik dalam hidup terkait dengan dua hal itu.

Di Okinawa, para centenarian atau orang yang diyakini hidup hingga usia 100 tahun memprioritaskan waktu bersama di pusat komunitas desa. Mereka juga kerap mengikuti pertandingan olahraga persahabatan yang memperkuat interaksi sosial sehari-hari.

Stanford Medicine juga menilai hubungan sosial membuat orang lebih bahagia. Hubungan yang memuaskan tidak hanya meningkatkan rasa bahagia, tetapi juga dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik dan usia yang lebih panjang.

Aktif Bergerak Setiap Hari

Meski sibuk, orang Jepang tetap meluangkan waktu untuk bergerak. Bentuknya tidak selalu olahraga berat, karena berjalan kaki atau tai chi juga menjadi bagian dari rutinitas yang mereka pilih.

Kuncinya terletak pada konsistensi dan jenis aktivitas yang disukai. Kebiasaan aktif bergerak seperti ini membantu tubuh tetap terjaga sekaligus mendukung perasaan lebih bahagia.

Mayo Clinic menyebut aktivitas fisik menstimulasi banyak zat kimia di otak. Dampaknya, seseorang bisa merasa lebih bahagia, lebih rileks, dan lebih sedikit cemas.

Tersenyum dan Bersyukur dalam Rutinitas

Tersenyum adalah kebiasaan kecil yang sering diremehkan, padahal efeknya besar pada suasana hati. Senyuman juga dapat menularkan energi positif kepada orang-orang di sekitar.

Menurut Dr. Isha Gupta, ahli saraf dari IGEA Brain and Spine, senyuman memicu reaksi kimia di otak. Proses itu melepaskan dopamin dan serotonin yang berkaitan dengan rasa bahagia serta penurunan stres.

“Dopamin meningkatkan perasaan bahagia kita. Pelepasan serotonin dikaitkan dengan berkurangnya stres. Tingkat serotonin yang rendah berhubungan dengan depresi dan agresi,” kata Dr. Gupta kepada NBC News. “Tingkat dopamin yang rendah juga dikaitkan dengan depresi.”

Kebiasaan lain yang juga kuat dalam kehidupan orang Jepang adalah meluangkan waktu untuk bersyukur atas hal yang dimiliki. Fokus mereka tidak berhenti pada kekurangan, tetapi diarahkan pada hal-hal baik yang sudah ada dalam hidup.

Very Well Mind menyebut sejumlah penelitian menunjukkan rasa syukur dapat mengurangi stres, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian juga mengaitkannya dengan tekanan darah yang lebih baik serta efek positif pada jantung.

Pola hidup seperti ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari perubahan besar. Dalam banyak kasus, kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus justru menjadi fondasi hidup yang lebih ringan, lebih sehat, dan lebih panjang umur.

Source: www.beautynesia.id

Berita Terkait