5 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Menggerus Fungsi Otak

Stres berkepanjangan menjadi salah satu kebiasaan paling berisiko bagi kesehatan otak karena dapat merusak sel otak dan mengecilkan prefrontal cortex. Bagian otak ini berperan penting dalam belajar, memori, dan kejernihan berpikir.

Rudolph Tanzi dari Harvard-affiliated Massachusetts General Hospital menjelaskan bahwa tekanan emosional juga bisa membesar ketika seseorang terlalu memaksakan segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginan. Saat emosi meningkat, ia menyarankan menarik napas dalam dan menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna.

1. Stres berkepanjangan

Tekanan yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Jika tidak dikelola dengan baik, stres kronis dapat berdampak langsung pada kemampuan otak untuk memproses informasi secara jernih.

Kebiasaan ini sering muncul dalam rutinitas harian tanpa disadari, terutama ketika seseorang terus berada dalam tekanan pekerjaan, pikiran, atau tuntutan pribadi. Karena itu, pengelolaan emosi menjadi langkah penting untuk menjaga fungsi otak tetap stabil.

2. Kurang tidur

Sesudah tekanan emosional, masalah berikutnya yang tak kalah berbahaya adalah kurang tidur. Data CDC menyebut sekitar sepertiga orang dewasa belum mendapatkan tidur ideal tujuh sampai delapan jam setiap malam.

Penelitian dalam jurnal Sleep tahun 2018 menunjukkan bahwa tidur kurang dari tujuh jam berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif, termasuk mengingat, bernalar, dan memecahkan masalah. Karena itu, begadang yang dianggap sepele sebenarnya bisa mengganggu kerja otak dalam jangka panjang.

Tanzi menyarankan fokus pada tidur lebih awal, bukan memaksa tidur lebih lama. Jika sulit tidur, membaca buku dapat menjadi cara sederhana untuk membantu pikiran lebih rileks sebelum beristirahat.

3. Terlalu lama duduk

Kebiasaan duduk terlalu lama juga ikut memberi beban pada fungsi otak. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam saat bekerja, belajar, atau menatap layar, padahal rata-rata orang dewasa duduk sekitar enam setengah jam setiap hari.

Sebuah studi tahun 2018 dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa terlalu banyak duduk berkaitan dengan perubahan pada medial temporal lobe atau MTL, area otak yang penting untuk pembentukan memori. Peneliti juga menemukan bahwa orang yang duduk paling lama memiliki bagian MTL yang lebih tipis, yang disebut dapat menjadi tanda awal penurunan kognitif.

Tanzi menyarankan untuk mulai bergerak setelah duduk selama 15 sampai 30 menit. Gerakan ringan seperti berjalan keliling rumah atau melakukan stretching dapat membantu otak tetap aktif.

4. Jarang bersosialisasi

Kurang berinteraksi dengan orang lain bukan sekadar masalah suasana hati. Kesepian dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi dan dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fungsi otak.

Penelitian dalam The Journals of Gerontology: Series B pada 2021 menemukan bahwa orang yang kurang aktif secara sosial mengalami penurunan materi abu-abu otak lebih cepat. Bagian ini berperan memproses berbagai informasi penting yang diterima tubuh setiap hari.

Menurut Tanzi, interaksi yang bermakna tidak harus banyak. “Kamu tidak perlu punya banyak teman, cukup dua atau tiga orang yang benar-benar bisa diajak berbagi,” ujarnya.

5. Rutinitas yang terlihat normal, tetapi berulang

Kelima kebiasaan ini sering dianggap wajar karena muncul di tengah rutinitas harian. Namun, jika berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa perlahan memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, dan mengatur emosi.

Hal-hal kecil yang terlihat biasa ternyata dapat menjadi ancaman bagi kesehatan otak bila dibiarkan tanpa evaluasi. Karena itu, menata ulang pola duduk, tidur, interaksi sosial, dan cara mengelola stres menjadi langkah penting agar fungsi otak tetap terjaga lebih lama.

Ringkasan dampak utama

KebiasaanTemuan pentingDampak yang disebutkan
Terlalu lama dudukBerkaitan dengan perubahan pada MTLBisa terkait penurunan kognitif dan risiko demensia
Jarang bersosialisasiKurang aktif secara sosial dikaitkan dengan penurunan materi abu-abu lebih cepatBerpotensi mempercepat penurunan kemampuan berpikir
Kurang tidurTidur kurang dari 7 jam dikaitkan dengan penurunan kognitifMengganggu kemampuan mengingat, bernalar, dan memecahkan masalah
Stres berkepanjanganDapat merusak sel otak dan mengecilkan prefrontal cortexBerpengaruh pada belajar, memori, dan kejernihan berpikir

Karena banyak kebiasaan ini muncul dalam aktivitas harian yang terasa normal, evaluasi sederhana atas rutinitas menjadi penting. Perubahan kecil seperti bergerak lebih sering, tidur lebih awal, menjaga hubungan sosial, dan meredakan stres dapat membantu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Berita Terkait