Pola intermittent fasting tidak selalu aman untuk semua orang, terutama ketika tubuh membutuhkan asupan yang stabil dan cukup. Pada sejumlah kondisi, membatasi waktu makan justru dapat memperbesar risiko kekurangan energi, nutrisi, hingga gangguan metabolisme.
Ahli gizi Ana Reisdorf, MS, RD, Founder GLP-1 Hub, menekankan bahwa ada kelompok tertentu yang perlu lebih berhati-hati sebelum mencoba pola makan ini. Mengutip Eat This! Not That yang dilansir www.beautynesia.id, kondisi tubuh dan kebutuhan nutrisi seseorang menjadi penentu utama apakah puasa terjadwal ini sesuai atau tidak.
Diabetes tipe 1 menjadi salah satu kondisi yang paling perlu diwaspadai. Pada kelompok ini, kestabilan gula darah adalah prioritas utama, sehingga pola makan yang tidak teratur dapat memicu fluktuasi yang ekstrem. Ana Reisdorf menjelaskan bahwa keadaan itu bisa meningkatkan risiko kelelahan hingga komplikasi serius jika dilakukan tanpa pengawasan medis yang ketat.
Orang yang mengonsumsi obat GLP-1 juga perlu mempertimbangkan dampaknya dengan serius. Saat obat ini digabungkan dengan intermittent fasting, asupan kalori dapat turun terlalu rendah. Dalam penjelasan Ana Reisdorf, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan, penurunan massa otot, dan gangguan metabolisme.
Kelompok dengan kebutuhan nutrisi tinggi tidak kalah rentan. Atlet dan pekerja fisik, misalnya, membutuhkan energi serta protein yang cukup setiap hari untuk menjaga performa tubuh. Jika waktu makan dibatasi terlalu ketat, kebutuhan itu bisa sulit dipenuhi secara optimal dan tubuh berisiko mengalami underfuel atau kekurangan asupan.
| Kelompok | Alasan Perlu Berhati-hati | Dampak yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Diabetes tipe 1 | Perlu kestabilan gula darah | Fluktuasi ekstrem, kelelahan, komplikasi |
| Pengguna obat GLP-1 | Asupan kalori bisa terlalu rendah | Kelelahan, penurunan massa otot, gangguan metabolisme |
| Kebutuhan nutrisi tinggi | Butuh energi dan protein cukup | Performa tubuh bisa menurun |
| Perempuan hamil | Memerlukan nutrisi stabil untuk janin | Risiko kekurangan energi dan nutrisi |
| Menopause atau perimenopause | Perubahan hormon bisa makin tidak stabil | Asupan yang dibatasi ekstrem berisiko |
Perempuan hamil, menopause, dan perimenopause juga masuk kelompok yang perlu waspada. Pada kehamilan, tubuh membutuhkan nutrisi yang stabil untuk mendukung perkembangan janin. Sementara itu, pada fase menopause dan perimenopause, perubahan hormon dapat semakin tidak stabil bila asupan makanan dibatasi secara ekstrem.
Usia 40 tahun ke atas menjadi perhatian lain yang sering terlewat. Seiring bertambahnya usia, massa otot menurun secara alami, sedangkan kebutuhan protein justru meningkat untuk menjaga kekuatan tubuh. Ana Reisdorf menilai intermittent fasting bisa membuat kebutuhan tersebut lebih sulit terpenuhi, sehingga risiko kehilangan massa otot dan penurunan metabolisme ikut meningkat.
Pada akhirnya, tren diet tidak selalu memberi hasil yang sama pada setiap orang. Karena itu, keputusan untuk menjalani intermittent fasting perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebutuhan nutrisi, dan pertimbangan medis masing-masing agar tidak berubah menjadi pola makan yang justru merugikan.







