Rasa takut mencoba hal baru pada anak tidak selalu menunjukkan kurangnya minat atau kemampuan. Sikap orang tua saat merespons ketakutan itu dapat menentukan apakah anak merasa aman untuk melangkah atau justru memilih menghindar.
Dukungan yang tenang tidak berarti memaksa anak segera berani. Anak sering kali perlu waktu untuk mengamati, bertanya, dan mengenali aktivitas baru sebelum bersedia terlibat.
Keraguan anak dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, mulai dari membayangkan kegagalan hingga merasa belum siap menghadapi lingkungan baru. Karena itu, respons keluarga perlu disesuaikan dengan penyebab yang dirasakan anak.
| Penyebab Keraguan | Respons Orang Tua |
|---|---|
| Berpikir akan gagal | Mengajak anak menilai kekhawatiran secara logis |
| Merasa kurang didukung | Menanyakan minat dan hal yang membuat tidak nyaman |
| Takut pada situasi baru | Memvalidasi perasaan tanpa menghakimi |
| Belum siap mengikuti kegiatan | Memberi kesempatan mengenal aktivitas lebih dahulu |
| Meragukan kemampuan diri | Mengingatkan keberhasilan saat menghadapi tantangan sebelumnya |
1. Membantu Anak Memeriksa Pikiran Pesimis
Anak dapat kehilangan semangat mencoba ketika ia sudah meyakini kegagalan sebelum kegiatan dimulai. Keyakinan itu membuatnya menutup kesempatan untuk mengetahui kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
Orang tua dapat membuka percakapan tentang hal yang paling dikhawatirkan anak. Pendekatan ini lebih membantu dibanding langsung mengatakan bahwa ketakutannya tidak masuk akal.
Psychology Today, seperti dikutip CNN Indonesia, menyarankan anak mengenali bagian “otak khawatir” yang membayangkan hal menakutkan dan bagian “otak berpikir” yang menilai kenyataan. Anak kemudian dapat diajak membedakan risiko yang benar-benar ada dengan bayangan buruk yang belum tentu terjadi.
2. Menunjukkan Dukungan terhadap Minat Anak
Anak dapat ragu melangkah bila merasa minatnya terlalu banyak dikekang atau tidak dipahami. Perasaan tidak didukung membuat kegiatan baru tampak lebih menegangkan daripada seharusnya.
Orang tua dapat menanyakan aktivitas yang ingin dicoba anak serta bagian yang membuatnya tidak nyaman. Jawaban anak dapat menjadi dasar untuk menentukan dukungan yang paling sesuai.
Beberapa anak mungkin lebih siap setelah melihat kegiatan dari dekat atau mencari informasi melalui internet. Gambaran awal ini membantu mereka memahami apa yang akan dihadapi tanpa harus langsung ikut serta.
3. Mengakui Rasa Takut sebagai Perasaan yang Nyata
Ketakutan anak tetap nyata meski orang dewasa memandang situasinya sederhana. Respons yang meremehkan atau menghakimi dapat membuat anak enggan menjelaskan apa yang dirasakannya.
Validasi dapat dilakukan dengan mengakui keraguan anak sambil mengingatkan minat yang ia miliki. Anak yang takut bergabung kelas renang, misalnya, dapat diingatkan bahwa ia menyukai renang dan bisa mencari cara agar lebih nyaman.
Langkah tersebut tidak menuntut anak menjadi berani secara mendadak. Fokusnya ialah menemukan cara yang terasa cukup aman untuk menghadapi situasi yang ditakuti.
4. Memberi Waktu untuk Persiapan
Aktivitas baru kerap terasa berat karena anak belum tahu apa yang akan berlangsung di dalamnya. Kurangnya persiapan dapat membuat anak merasa tidak memiliki kendali atas situasi yang akan dihadapi.
Sebelum mengikuti kegiatan berenang, anak dapat diajak melihat lingkungan tempat renang terlebih dahulu. Jika ingin mencoba sepak bola, anak dapat memulai dengan bermain sederhana di halaman belakang.
Kesempatan melihat dan berlatih membuat anak lebih mengenal aturan maupun suasana kegiatan. Persiapan sederhana juga dapat membangun rasa kompeten sebelum anak bergabung dengan kelompok.
5. Mengingatkan Anak pada Keberhasilan Sebelumnya
Keraguan terhadap kemampuan diri dapat berkembang dari pikiran pesimis yang dibiarkan berulang. Pada kondisi ini, anak membutuhkan bukti konkret bahwa ia pernah menghadapi tantangan dan mampu melewatinya.
Orang tua dapat mengingatkan pengalaman saat anak belajar berenang atau menyesuaikan diri ketika masuk sekolah baru. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa rasa takut tidak selalu menghentikan proses berkembang.
Orang tua juga dapat berbagi pengalaman sendiri ketika menghadapi sesuatu yang belum dikenal. Dukungan yang konsisten, pengakuan atas perasaan, dan ruang untuk bersiap dapat memperkuat keberanian anak mencoba hal baru.
