Di kelas Rp 2 jutaan, pilihan HP kini tidak lagi selonggar dulu. Kenaikan harga komponen, kebutuhan memori yang makin besar, serta permintaan fitur yang lebih lengkap membuat banyak ponsel di rentang ini harus berkompromi pada layar, storage, atau konektivitas.
Meski begitu, masih ada sejumlah perangkat yang dinilai paling aman untuk kebutuhan harian, terutama bagi pelajar dan pekerja lapangan seperti ojek online. Faktor yang paling sering menjadi pembeda adalah storage UFS, baterai besar, dukungan NFC, dan ketahanan bodi terhadap kondisi penggunaan berat.
| Model | Harga | Konfigurasi | Poin Utama |
|---|---|---|---|
| Samsung Galaxy A07 | Rp 2,5 juta | 6/128 GB | Update panjang, Helio G99, IP54 |
| itel S26 Ultra | Rp 2,7 juta | 8/256 GB | Layar lengkung, fingerprint dalam layar, NFC |
| Infinix Hot 70 | Rp 2,6 juta | 6/128 GB | IP65, UFS, 45W, baterai 6.000 mAh |
| POCO M7 | Rp 2,7 juta | 8/256 GB | Baterai 7.000 mAh, layar 144Hz, NFC |
| Redmi Note 15 | Rp 2,9 juta | 6/128 GB | AMOLED, 108 MP, UFS 2.2, 45W |
| iQOO Z10 Lite | Rp 2,9 juta | 8/128 GB | IP68/IP69, AMOLED 120Hz, UFS |
Samsung Galaxy A07, pilihan yang mengutamakan kestabilan
Samsung Galaxy A07 hadir dengan harga sekitar Rp 2,5 juta dan memori 6/128 GB. Perangkat ini cocok untuk pengguna yang lebih mementingkan ketenangan pemakaian jangka panjang daripada spesifikasi yang paling agresif.
Keunggulan utamanya ada pada janji pembaruan sistem yang panjang, yakni hingga 6 kali atau 4 kali versi Android. Di atas kertas, ponsel ini juga membawa chipset Helio G99, layar PLS 90Hz, baterai 5.000 mAh, kamera utama 50 MP, selfie 8 MP, dan rating IP54.
Namun, Galaxy A07 belum mendukung NFC dan resolusi layarnya masih HD+. Untuk pengguna yang ingin ponsel awet dipakai dan stabil, kompromi itu masih tergolong wajar.
itel S26 Ultra, unggul di layar dan kapasitas besar
Di harga sekitar Rp 2,7 juta, itel S26 Ultra tampil dengan konfigurasi 8/256 GB. Kombinasi ini membuatnya terasa lega untuk pelajar yang menyimpan banyak aplikasi, dokumen belajar, dan file multimedia.
Daya tarik lain ada pada layar lengkung dan fingerprint di dalam layar, dua fitur yang jarang muncul di kelas harga ini. Spesifikasinya mencakup chipset Unisoc T7300, layar Curve AMOLED 1.5K 144Hz, baterai 6.000 mAh, kamera utama 50 MP, selfie 32 MP, dan NFC.
Kekurangannya, pengisian daya hanya 18 Watt dan daya tahan baterainya disebut biasa saja. Karena itu, keunggulannya lebih menonjol pada tampilan dan kapasitas, bukan pada kecepatan isi ulang.
Infinix Hot 70, cocok untuk yang mengejar efisiensi
Infinix Hot 70 berada di kisaran Rp 2,6 juta dengan memori 6/128 GB. Perangkat ini menarik bagi pengguna yang butuh bodi lebih tahan dan pengisian cepat untuk mobilitas harian.
HP ini sudah membawa rating IP65, storage UFS, layar 120Hz, baterai 6.000 mAh dengan pengisian 45W, kamera utama 50 MP, dan NFC. Infinix juga menjanjikan 3 kali pembaruan versi Android untuk model ini.
Di sisi lain, layar IPS HD+ yang dipakai masih berada di bawah standar warna 100% sRGB dan hanya tersedia satu mikrofon. Bagi pengguna yang lebih fokus pada daya tahan dan efisiensi, kekurangan tersebut masih dapat diterima.
POCO M7, paling besar untuk kebutuhan intensif
POCO M7 masuk ke daftar ini dengan harga sekitar Rp 2,7 juta dan konfigurasi 8/256 GB. Kapasitas besar di RAM dan penyimpanan membuatnya cocok untuk penggunaan berat sepanjang hari.
Spesifikasinya terdiri dari chipset Snapdragon 685, storage UFS, layar 6,9 inci IPS Full HD+ 144Hz, baterai 7.000 mAh, kamera utama 50 MP, dan NFC. Baterai jumbo menjadi nilai tambah utama bagi pengguna yang sering jauh dari stopkontak.
Ukuran bodinya memang lebih besar dan bobotnya juga cukup berat. Karena itu, ponsel ini lebih nyaman bagi pengguna yang memprioritaskan daya tahan daripada kepraktisan saat digenggam.
Redmi Note 15, seimbang di banyak sisi
Redmi Note 15 dibanderol sekitar Rp 2,9 juta dengan memori 6/128 GB. Ponsel ini berada di posisi yang rapi di antara layar, kamera, dan ketahanan baterai.
Perangkat ini memakai chipset Helio G100, storage UFS 2.2, layar AMOLED FHD+, baterai 6.000 mAh dengan pengisian 45W, kamera utama 108 MP, dan NFC. Kombinasi tersebut membuatnya terasa matang untuk kelas Rp 2 jutaan.
Kapasitas 6/128 GB kini juga disebut sebagai batas bawah baru di kelas ini. Karena itu, pengguna perlu lebih rajin mencadangkan data agar penyimpanan tidak cepat penuh.
iQOO Z10 Lite, paling siap untuk kondisi berat
iQOO Z10 Lite dipasarkan sekitar Rp 2,9 juta dengan konfigurasi 8/128 GB. Perangkat ini paling menonjol untuk pengguna yang sering berada di lapangan dan membutuhkan ponsel tahan kondisi ekstrem.
Daya tarik utamanya ada pada rating IP68 dan IP69, yang membuatnya lebih siap menghadapi air dan debu. Spesifikasinya juga mencakup chipset Snapdragon 685, storage UFS, layar AMOLED 120Hz FHD+, baterai 6.000 mAh, dan NFC.
Kelemahannya ada pada performa yang belum setara Helio G99 serta penyimpanan yang masih 128 GB. Meski begitu, bagi pekerja seperti ojek online, aspek durabilitasnya menjadi alasan paling kuat untuk dilirik.
Mana yang paling cocok untuk kebutuhan berbeda
Jika mengejar pembaruan software panjang, Samsung Galaxy A07 masih paling aman. Jika mengutamakan layar premium dan storage besar, itel S26 Ultra lebih menonjol di kelasnya.
Infinix Hot 70 unggul untuk pengisian cepat dan ketahanan bodi, sedangkan POCO M7 paling cocok untuk pengguna yang membutuhkan baterai sangat besar. Redmi Note 15 menawarkan keseimbangan fitur, sementara iQOO Z10 Lite paling relevan untuk kerja lapangan yang menuntut ketahanan air dan debu.
Di tengah pasar yang masih tertekan kenaikan harga komponen, calon pembeli yang memang sudah butuh perangkat baru disarankan tidak terlalu lama menunda. Kelas HP murah Rp 2 jutaan berpotensi semakin ketat, baik dari sisi harga maupun spesifikasi yang tersedia.
