Kesan mahasiswa di mata dosen sering kali terbentuk dari hal-hal kecil yang terjadi di luar ujian dan IPK. Cara berkomunikasi, sikap saat mengikuti kelas, dan tanggung jawab dalam menjalani perkuliahan dapat memengaruhi penilaian secara tidak langsung.
Di banyak kampus, kebiasaan yang tampak sepele justru lebih cepat menurunkan kesan positif daripada kemampuan akademik semata. Dosen tetap dituntut profesional dalam menilai mahasiswa, tetapi perilaku sehari-hari kerap menjadi pembeda yang mudah terlihat.
1. Terlalu sibuk dengan HP saat kelas berlangsung
Gadget memang menjadi bagian dari kegiatan belajar saat ini, tetapi dosen biasanya dapat membedakan mahasiswa yang membuka materi dan yang justru sibuk scrolling media sosial atau membalas chat. Sikap terlalu fokus pada HP saat kelas berlangsung bisa terbaca sebagai tanda kurang menghargai usaha pengajar.
Kontak mata dan respons sederhana sering kali sudah cukup menunjukkan bahwa mahasiswa memperhatikan penjelasan di kelas. Kebiasaan kecil seperti ini dapat membentuk kesan yang lebih baik tanpa harus selalu berbicara aktif.
2. Tidak sopan saat berkomunikasi
Cara menghubungi dosen juga ikut dinilai, termasuk lewat pesan singkat. Chat tanpa salam, bahasa yang terlalu santai, atau pesan yang dikirim pada jam kurang pantas dapat menimbulkan kesan kurang profesional.
Etika komunikasi tetap penting dijaga meski percakapan hanya berlangsung lewat ponsel. Bahasa yang sopan tidak harus kaku, tetapi cukup untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
3. Mengabaikan tenggat tugas
Tenggat tugas bukan sekadar batas administratif, melainkan bagian dari alur perkuliahan yang disusun agar penilaian berjalan sesuai rencana. Mahasiswa yang sering menyerahkan tugas melewati batas waktu bisa dianggap kurang bertanggung jawab.
Jika alasan yang diberikan berubah-ubah, kesan yang muncul biasanya semakin buruk. Dosen dapat mempertanyakan keseriusan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah ketika kedisiplinan seperti ini terus berulang.
4. Pasif sepanjang semester, lalu protes saat nilai keluar
Tidak semua mahasiswa harus aktif berbicara di kelas, karena sebagian memang lebih nyaman menyerap materi dengan mendengarkan. Namun, masalah muncul ketika sepanjang semester hampir tidak pernah bertanya, berdiskusi, atau menunjukkan keterlibatan, lalu protes saat nilai keluar.
Dosen umumnya lebih menghargai mahasiswa yang berusaha aktif selama proses belajar daripada yang baru muncul ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan. Keterlibatan selama perkuliahan sering dipandang sebagai bentuk keseriusan mengikuti mata kuliah.
5. Terlambat datang berulang kali
Keterlambatan sesekali masih bisa dimaklumi, terutama jika ada keadaan mendesak. Tetapi jika terjadi hampir di setiap pertemuan, dosen biasanya menilai mahasiswa kurang menghargai waktu.
Kebiasaan datang terlambat juga dapat mengganggu jalannya kelas. Saat dosen sedang menjelaskan materi, kehadiran yang terlambat dapat memecah konsentrasi dan memberi kesan kurang disiplin.
6. Terus mencari alasan, bukan mengakui kesalahan
Semua orang bisa melakukan kesalahan, termasuk mahasiswa. Yang membedakan adalah cara menyikapinya ketika kesalahan itu terjadi.
Mahasiswa yang berani mengakui kelalaian dan meminta maaf biasanya lebih dihargai daripada yang selalu menyalahkan keadaan atau orang lain. Sikap bertanggung jawab menunjukkan kedewasaan sekaligus kemauan untuk belajar dari kesalahan.
Pada akhirnya, reputasi baik di kampus tidak hanya lahir dari hasil akademik. Kebiasaan sederhana seperti datang tepat waktu, menjaga etika komunikasi, dan jujur saat berbuat salah sering kali memberi pengaruh besar terhadap cara dosen memandang mahasiswa.
Source: www.idntimes.com






