65,8% Garis Pantai Pantura Tergerus, Krisis Pesisir Ini Makin Mengkhawatirkan

Author: Redaksi Android62

Kerusakan garis pantai di Pantai Utara Jawa sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. BRIN mencatat 65,8% garis pantai dari Kabupaten Serang hingga Kabupaten Situbondo telah terdampak abrasi, sementara ancaman lain seperti kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah terus menekan kawasan ini.

Situasi tersebut membuat pantura tidak hanya kehilangan daratan, tetapi juga menghadapi tekanan besar pada permukiman warga, tambak, infrastruktur publik, dan jalur ekonomi yang selama ini menjadi penopang utama kawasan pesisir. Dalam beberapa titik, laut bahkan sudah masuk jauh ke daratan dan mengubah bentang pesisir secara permanen.

Terjangan air laut sudah masuk ke permukiman dan tambak

Di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut merangsek hingga 4 kilometer ke daratan. Dampaknya, infrastruktur publik terendam secara permanen dan lebih dari 1.000 hektare tambak warga ikut terdampak.

Kerusakan serupa juga terlihat di titik lain. Di Legonkulon, Subang, intrusi air laut sejauh 2 kilometer merendam 700 hektare tambak, sedangkan di Krangkeng, Indramayu, abrasi menggerus jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer.

Delta yang seharusnya menambah daratan justru paling rentan

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, memaparkan temuan itu dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim serta Focus Group Discussion bertema “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari untuk Integrasi Sains, Inovasi, dan Ketahanan Pesisir” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Ia menilai tekanan di pantura tidak berdiri sendiri karena wilayah ini juga memikul beban pembangunan dan aktivitas ekonomi yang sangat padat.

Menurut BRIN, erosi justru paling masif terjadi di lingkungan delta yang secara alamiah menjadi area sedimentasi. Kondisi itu berkaitan dengan perubahan di hulu, seperti kanalisasi, pembelokan sungai, dan pembangunan bendungan yang memutus suplai sedimen ke muara.

Pantura dibangun di atas wilayah yang rapuh

BRIN menjelaskan bahwa 84% Pantai Utara Jawa tersusun dari endapan pluvial dan endapan delta yang belum terkonsolidasi kuat. Secara geologi, kondisi ini membuat tanah mudah mengalami erosi dan pemampatan.

Kerentanan itu semakin besar karena 83% panjang pantura berada pada elevasi di bawah 10 meter. Bentuk lahan yang rendah membuat kawasan ini sangat sensitif terhadap perubahan muka air dan mundurnya garis pantai.

Erosi menang jauh dari akresi dalam dua dekade terakhir

Analisis perubahan garis pantai menggunakan Citra Satelit Sentinel pada periode 2000 hingga 2024 menunjukkan laju erosi mencapai 65,8%. Sementara itu, akresi atau penambahan daratan hanya 34,2%.

Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi hilang akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru. Di Demak, air laut kembali masuk sejauh 5 hingga 6 kilometer ke daratan dan menelan sawah serta kawasan permukiman.

Amblesan tanah memperparah krisis pesisir

Selain abrasi dan kenaikan muka air laut, pantura juga menghadapi penurunan muka tanah. Berdasarkan data geospasial 2017-2023, laju amblesan tertinggi tercatat di Demak sebesar 16 cm/tahun, disusul Jakarta 15 cm/tahun, Sidoarjo 14 cm/tahun, dan Pekalongan 11 cm/tahun.

Surabaya mengalami penurunan muka tanah 8 cm/tahun, Brebes 7 cm/tahun, sedangkan Serang, Cirebon, dan Indramayu masing-masing 6 cm/tahun. Berdasarkan pemodelan data altimetri 1993-2025, kenaikan muka air laut di pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun, atau terakumulasi 15,5 sentimeter dalam 32 tahun.

Tubagus menegaskan bahwa persoalan ini bukan isu lokal. Pantura Jawa merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga krisis pesisir di kawasan ini menyentuh kepentingan yang jauh lebih luas.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru