Mayoritas analis Wall Street memandang prospek emas dalam jangka pendek dengan nada pesimistis. Sebanyak 11 dari 14 analis yang mengikuti Survei Emas Mingguan Kitco News memperkirakan harga akan turun pekan ini.
Tekanan itu datang saat emas beberapa kali menguji area US$ 4.000, level yang menjadi perhatian utama pasar. Data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai positif serta bertahannya ekspektasi kenaikan suku bunga menambah beban bagi logam mulia.
Survei Menunjukkan Perbedaan Sikap
Hasil survei memperlihatkan pandangan Wall Street jauh lebih negatif dibandingkan investor ritel. Kelompok ritel masih terpecah, dengan porsi prediksi kenaikan sedikit lebih besar daripada prediksi penurunan.
| Kelompok | Naik | Turun | Datar/Konsolidasi |
|---|---|---|---|
| Wall Street, 14 analis | 1 analis (7%) | 11 analis (79%) | 2 analis (14%) |
| Investor ritel, 169 suara | 68 suara (40%) | 61 suara (36%) | 40 suara (24%) |
Jajak pendapat daring Kitco mencatat 68 investor ritel memilih kenaikan, sedangkan 61 responden memperkirakan harga melemah. Sebanyak 40 suara lainnya mengantisipasi pasar bergerak dalam fase konsolidasi.
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai emas berpeluang bertahan dalam rentang pergerakan tertentu tanpa perubahan besar. Ia memperkirakan peluang terobosan ke atas masih terbatas sebelum pasar jelas meninggalkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Menurut Adrian Day, pembelian bank sentral pada kisaran harga saat ini tetap kuat. Permintaan tersebut dapat berfungsi sebagai penopang ketika harga emas kembali mendekati area support.
US$ 4.000 Menjadi Batas Penting
Presiden dan COO Asset Strategies International, Rick Checkan, mengambil pandangan yang lebih optimistis terhadap harga emas. Ia menilai US$ 4.000 sudah beberapa kali diuji dalam beberapa bulan terakhir dan tetap mengundang minat beli baru.
“Level tersebut harus bertahan. Saya percaya itu akan terjadi lagi,” kata Checkan. Ia menilai pasar mungkin belum siap memasuki kenaikan yang berkelanjutan, tetapi harga berpeluang bergerak lebih tinggi dari area tersebut.
Pandangan berbeda disampaikan Adam Button dari Investinglive yang mencermati pelemahan saham teknologi. Ia memperingatkan koreksi sektor itu dapat memicu aksi jual yang lebih luas pada berbagai aset.
Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, juga memperkirakan emas melemah setelah kenaikan tipis sebelumnya belum mengubah kecenderungan penurunan. Koreksi berulang di bawah US$ 4.000, menurutnya, belum memicu kapitulasi penuh karena pembelian dapat meningkat di sekitar angka bulat penting itu.
Geopolitik Berpotensi Mengubah Arah
Konflik di Timur Tengah dan risiko lonjakan harga energi membuat pergerakan emas tetap sulit dipastikan. Thu Lan Nguyen dari Commerzbank menilai kondisi tersebut dapat mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lama dan membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek.
Kuptsikevich bahkan membuka kemungkinan koreksi menuju US$ 3.300 pada September, meski peluang pemulihan jangka pendek masih ada. Risiko penurunan dapat membesar bila pasar kecewa terhadap imbal hasil perusahaan terkait AI serta pasokan saham dan obligasi perusahaan itu meningkat.
Agenda ekonomi besar diperkirakan relatif terbatas pekan ini sehingga sentimen geopolitik berpeluang lebih dominan. Pasar akan memantau kebijakan moneter Bank Sentral Eropa pada Kamis, disusul klaim pengangguran mingguan, S&P Global Flash PMI Juli, dan penjualan rumah baru Juni pada Jumat.
Source: www.liputan6.com






