Bagi banyak penggemar, Zelda II: The Adventure of Link tetap punya tempat penting dalam sejarah The Legend of Zelda. Namun bagi Shigeru Miyamoto, posisi gim itu tidak pernah benar-benar sama dengan sekuel utama yang ia anggap paling mewakili kesinambungan seri.
Pandangan itu kembali mencuri perhatian setelah potongan wawancara lama Miyamoto disorot dalam edisi khusus yang membahas 40 tahun The Legend of Zelda. Di sana, ia menyebut Zelda II sebagai “sort of a failure” dan menegaskan bahwa A Link to the Past adalah kelanjutan sejati dari gim pertama.
Komentar tersebut berasal dari wawancara tahun 2003 dengan majalah Super Play dari Swedia. Dalam obrolan itu, Miyamoto menjelaskan bahwa Zelda II awalnya lahir dari idenya sendiri, tetapi pengembangannya kemudian dikerjakan tim lain.
Ia juga menilai proses produksi gim buatannya biasanya membuat hasil akhir berkembang lebih baik. Menurut penjelasannya, hal itu tidak terjadi pada Zelda II karena permainan tersebut tetap berada pada bentuk yang sama sampai selesai, tanpa perubahan besar yang membuatnya memenuhi harapan.
Zelda II memang mengambil arah yang berbeda
Saat dirilis untuk NES pada 1987, setahun setelah The Legend of Zelda, Zelda II tampil lebih eksperimental dibanding pendahulunya. Gim ini masih mempertahankan peta tampak atas untuk menjelajahi Hyrule, tetapi sistem pertarungannya berubah menjadi side-scrolling.
Perubahan lain juga ikut hadir melalui elemen RPG, seperti poin pengalaman, peningkatan level, dan mantra. Kombinasi inilah yang membuat Zelda II terasa jauh berbeda dari gim pertama, baik bagi pemain lama maupun pemain baru.
Perbedaan itu memecah respons pemain
Eksperimen besar tersebut tidak diterima dengan satu suara. Sebagian penggemar menyukai arah baru yang diambil, tetapi sebagian lain mengkritik tingkat kesulitannya yang melonjak dan kontrol yang terasa berbeda dari gim pertama.
Di sisi lain, penilaian Miyamoto membuat posisi Zelda II sering dianggap unik dalam pembahasan seri ini. Walaupun tetap masuk dalam waralaba utama bagi banyak orang, sang kreator melihatnya lebih dekat sebagai kisah sampingan daripada lanjutan inti.
A Link to the Past diposisikan sebagai penerus utama
Dalam wawancara yang sama, Miyamoto menegaskan bahwa A Link to the Past adalah sekuel sejati dari The Legend of Zelda. Pandangan itu memperjelas mengapa ia tidak menempatkan Zelda II sebagai penerus utama dalam garis besar cerita seri.
Bagi sebagian penggemar, pernyataan tersebut ikut menjelaskan kenapa A Link to the Past sering dipandang lebih dekat dengan kesinambungan yang diharapkan dari seri awal. Sementara itu, Zelda II tetap dikenang sebagai percobaan besar yang menempuh jalur berbeda.
Sukses komersial, tetapi reputasinya tetap terbelah
Dari sisi penjualan, Zelda II bukanlah kegagalan. Gim ini terjual jutaan kopi dan sempat dipuji sebagai keberhasilan komersial besar bagi Nintendo.
Meski begitu, penerimaan pemain tidak selalu sejalan dengan angka penjualan tersebut. Dibanding banyak judul Zelda lain, Zelda II kerap berada di posisi yang lebih rendah dalam jajak pendapat penggemar maupun daftar gim terbaik di seri ini.
Kontras antara pencapaian bisnis dan reputasi di kalangan pemain itulah yang membuat komentar lama Miyamoto kembali ramai dibicarakan. Ucapan itu menambah konteks pada salah satu gim paling tidak biasa dalam sejarah The Legend of Zelda, sekaligus menunjukkan jarak pandang antara sang pencipta dan sebagian penggemar terhadap arti sebuah sekuel.
Source: www.notebookcheck.net






