AARO Tunjukkan Seniman Muda Bisa Melesat Saat Pendampingan Tak Dibuat Seragam

Author: Redaksi Android62

Pameran AARO di CAN’S Gallery Jakarta menampilkan cara yang lebih cair dalam membaca perkembangan seniman muda. Di ajang ini, karya-karya empat peserta Atreyu Moniaga Project memperlihatkan bahwa proses inkubasi bisa melahirkan bahasa visual yang berani keluar dari pola aman.

Empat nama yang tampil adalah Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry. Melalui pameran itu, AMP memperlihatkan hasil pengembangan dari program Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings #13, sekaligus menegaskan bahwa setiap peserta membawa arah eksplorasi yang berbeda.

Pendampingan yang tidak dibuat seragam

Penggagas AMP, Atreyu Moniaga, menilai tiap angkatan memiliki karakter sendiri. Karena itu, proses pendampingan tidak dijalankan dengan pola yang sama, melainkan disesuaikan dengan “DNA” masing-masing kelompok.

Ia menyebut angkatan AARO bergerak dengan cara yang lebih improvisatif dan dinamis. Karakter itu, menurut dia, menantang pendekatan pendampingan karena berbeda dari kelompok sebelumnya yang cenderung lebih konservatif dan terstruktur.

Dari inkubasi menuju praktik yang lebih matang

AMP dikenal sebagai program independen yang fokus pada pengembangan seniman muda di Jakarta. Program ini tidak hanya mengasah teknis produksi karya, tetapi juga membekali peserta dengan manajemen proyek kreatif dan pembentukan praktik artistik.

Bagi Atreyu, fase inkubasi penting untuk membangun daya tahan seniman setelah program berakhir. Karena itu, pameran seperti AARO tidak berdiri sebagai etalase hasil akhir semata, melainkan bagian dari transisi menuju praktik profesional yang lebih matang.

Bahasa visual yang bergerak ke banyak arah

Keragaman pendekatan para peserta terlihat jelas di ruang pamer. Ada eksplorasi monster imajinatif, figur surealis, patchwork emosional, sampai lanskap spiritual dengan sentuhan psychedelic.

Salah satu karya yang menonjol datang dari Red Maerra lewat Mla (2025). Karya itu disusun seperti kolase panel-panel kecil yang memadukan figur manusia, organ tubuh, bunga, dan tanaman, sehingga terasa seperti potongan memori yang saling bertabrakan.

Maerra memakai patchwork untuk menggambarkan cerita yang tidak selalu lurus. Baginya, narasi manusia sering kali acak, lompat, dan chaotic, lalu karakter itu diterjemahkan ke lapisan visual yang padat.

Spiritualitas dan lapisan yang rumit

Pendekatan berbeda ditunjukkan Oddyendry, yang banyak mengeksplorasi pengalaman spiritual dalam lingkungan Buddhis. Ia mengambil inspirasi dari thangka, lukisan gulir tradisional Tibet yang dikenal rumit dan berwarna cerah.

Eksplorasi itu dirangkum dalam seri Tungkal, yang memunculkan nuansa psychedelic lewat warna-warna ekspresif dan campur-aduk. Latar belakang Oddyendry di dunia fashion ikut membentuk keberaniannya menyusun bahasa visual yang lebih bebas.

Oddyendry memandang hubungan antarmanusia selalu kompleks dan memiliki banyak lapisan. Karena itu, karya-karyanya disusun dengan detail yang perlu dibaca perlahan, selaras dengan pandangannya bahwa interaksi manusia tidak bisa dipahami secara sederhana.

Ruang tumbuh bagi seniman muda

AARO memperlihatkan bagaimana AMP bekerja sebagai ekosistem yang memberi ruang bagi seniman muda untuk menemukan bahasa visual masing-masing. Pendampingan di dalam program ini tidak berhenti pada teknis produksi, tetapi juga bergerak ke pembentukan identitas artistik yang lebih kuat.

Melalui karya-karya yang dipamerkan di CAN’S Gallery Jakarta hingga 11 Mei 2026, proses inkubasi itu tampak menghasilkan praktik yang lebih berani dan fleksibel. Di titik ini, AARO menjadi penanda bahwa seniman muda dapat berkembang lebih jauh ketika diberi ruang untuk mencoba, mengolah, dan keluar dari pola yang terlalu mapan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru