Rekor Mayweather Mulai Terancam, Abel Mendoza 44-0 Makin Dekat ke Puncak Tinju

Floyd Mayweather Jr masih berdiri sebagai ukuran tertinggi dalam kesempurnaan tinju profesional dengan rekor 50 kemenangan tanpa kalah. Di belakang bayang-bayang itu, Abel Mendoza mulai menekan dari jarak yang semakin dekat dengan catatan 44 kemenangan tanpa kekalahan.

Petinju asal Texas tersebut juga menunjukkan daya rusak besar di atas ring. Dari 44 kemenangannya, 32 diraih lewat knockout, sebuah angka yang membuat posisinya makin diperhitungkan di kelas aktif saat ini.

Laga terbarunya di Dallas, Texas, menambah bobot perjalanan Mendoza. Ia mengalahkan Javier Rodriguez dan merebut sabuk WBA-NABA, hasil yang memperkuat reputasinya sebagai petinju tak terkalahkan yang terus bergerak naik.

Usia Mendoza yang masih 30 tahun memberi ruang panjang untuk menambah kemenangan. Meski jalan menuju 50-0 masih jauh, laju konsisten yang ia tunjukkan membuat namanya ikut masuk dalam percakapan tentang rekor legendaris Mayweather.

Di sisi lain, nama Mayweather tetap sulit digeser dari standar emas dunia tinju. Selain menyelesaikan karier profesional tanpa kekalahan, ia juga mencatat 27 kemenangan knockout dan sembilan gelar juara dunia di berbagai kelas.

Catatan itulah yang membuat setiap petinju tak terkalahkan selalu dibandingkan dengannya. Mendoza belum melewati batas itu, tetapi pencapaiannya sejauh ini sudah cukup untuk menarik perhatian karena jarak menuju rekor sempurna mulai terasa lebih nyata.

Sementara itu, dunia olahraga juga memberi sorotan pada pencapaian lain yang sama kuatnya dalam sejarah. Michael Phelps masih dikenang lewat delapan medali emas yang ia raih di Olimpiade Beijing 2008, sebuah tonggak yang mengubah cara publik memandang batas prestasi atlet.

Pada ajang tersebut, Phelps mematahkan rekor Mark Spitz yang sebelumnya mengoleksi tujuh emas pada Olimpiade Munich 1972. Medali emas kedelapannya datang saat ia membantu tim Amerika Serikat merebut nomor estafet 4×100 meter gaya ganti putra.

Di ranah voli, perhatian publik mengarah pada Megawati Hangestri Pertiwi. Atlet andalan Timnas Voli Putri Indonesia itu semakin disorot setelah aktivitasnya di luar lapangan memicu banyak reaksi di media sosial.

Megawati lahir pada 20 September 1999 dan telah membangun reputasi sebagai salah satu pemain voli paling menonjol dari Indonesia. Namanya kian populer ketika memperkuat Daejeon CheongKwanJang Red Sparks di V-League Korea Selatan, tempat publik menjulukinya “Megatron” karena daya ledak serangannya.

Sorotan atas aktivitas di luar voli ikut memperluas citra Megawati di mata publik. Banyak respons memuji kemampuannya menjaga keseimbangan antara karier profesional dan kehidupan pribadi, sementara sebagian netizen menggambarkannya seperti sosok eksekutif sukses yang juga menjalankan peran sebagai atlet.

Perjalanan kariernya juga memasuki babak baru bersama Suwon Hyundai E&C Hillstate untuk musim 2026-2027. Klub juara Liga Voli Korea Selatan itu memproyeksikan Megawati sebagai kekuatan utama di sektor serangan bersama pemain asal Amerika Serikat, Jordan Wilson.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait