ADOC Mulai Uji Enam Bulan, Angkatan Darat AS Rapikan Data yang Tercecer di Banyak Sistem

Angkatan Darat Amerika Serikat mulai menempuh pendekatan baru untuk mengurangi kekacauan pengelolaan data lewat Army Data Operations Center atau ADOC. Pusat ini dibentuk agar personel bisa menemukan, memilah, dan mengirimkan data yang tepat dengan lebih cepat saat dibutuhkan dalam operasi.

Fokus ADOC bukan menambah penumpukan informasi, melainkan mempersingkat waktu yang selama ini habis hanya untuk mencari data yang tersebar di banyak sistem. Dengan alur yang lebih rapi, keputusan operasional diharapkan bisa diambil lebih cepat dan berbasis data yang tepercaya.

Masalah yang dihadapi militer bukan kekurangan data, melainkan kesulitan mengaksesnya dengan cara yang praktis. Letnan Jenderal Jeth Ray menegaskan bahwa para komandan “tidak kekurangan data” dan di medan tempur maupun lingkungan enterprise tersedia “tons of data”.

Pernyataan itu menggambarkan situasi yang selama ini dialami banyak satuan. Data tersedia dalam jumlah besar, tetapi manfaatnya sering tertahan karena sulit dicari, tidak seragam, atau tersebar di berbagai sistem yang tidak selalu saling terhubung.

Tata kelola menjadi sama pentingnya dengan teknologi

ADOC tidak hanya bergantung pada perangkat lunak atau kecerdasan buatan. Pusat ini juga dirancang sebagai mekanisme tata kelola agar penggunaan data tetap terkendali dan sesuai kebutuhan organisasi.

Di balik ADOC, ada tiga tim dengan fungsi berbeda. Salah satunya adalah FINISH Cell, yang berisi data engineer untuk mengatasi hambatan ketika data sulit diakses atau sulit dimanfaatkan.

Ada juga tim yang bekerja sepanjang waktu menerima permintaan bantuan lalu meneruskannya ke pihak yang paling mungkin memberi solusi. Pola ini dibuat agar persoalan data tidak dibiarkan menumpuk terlalu lama sebelum ditangani.

Tim ketiga adalah data integration cell yang menangani kewenangan ADOC, peninjauan kebijakan, dan cara lembaga ini menampung model kecerdasan buatan. Struktur tersebut menunjukkan bahwa persoalan data di militer tidak hanya teknis, tetapi juga menyangkut aturan dan pembagian otoritas.

Menjembatani sistem lama dan kebiasaan baru

Salah satu sasaran penting ADOC adalah membantu personel yang kesulitan menggunakan sistem baru. Ini menjadi penting karena penerapan kecerdasan buatan kerap menambah lapisan teknologi sekaligus mengubah cara kerja yang sudah lama dipakai.

Angkatan Darat Amerika Serikat masih menggunakan metode penyimpanan data yang berbeda antar cabang dan fungsi. Sebagian sistem itu juga belum diperbarui, sehingga muncul hambatan kompatibilitas yang lazim terjadi pada sistem lama.

Kondisi tersebut ikut mendorong munculnya data silo. IBM mendefinisikan data silo sebagai “isolated collections of data that prevent data sharing between different departments, systems and business units.”

Dalam konteks militer, silo data bisa memperlambat aliran informasi yang dibutuhkan untuk operasi. Karena itu, ADOC diposisikan sebagai jembatan agar data dapat bergerak lebih lancar antarsistem dan antarsatuan.

Diuji selama enam bulan

Program ADOC dimulai dengan uji coba selama enam bulan yang berjalan hingga sekitar Oktober. Tahap ini dipakai untuk melihat seberapa efektif model baru tersebut dalam membantu pengelolaan data di tubuh Angkatan Darat.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam program ini tidak diarahkan untuk menggantikan peran manusia. Teknologi tersebut dipakai untuk mempercepat akses ke data tepercaya yang bisa langsung digunakan dalam operasi.

Pendekatan itu juga menekankan kecepatan, ketepatan, dan kemudahan pakai. Bagi personel di lapangan, nilai utamanya terletak pada data yang bisa ditemukan dan dibagikan tanpa harus membuang banyak waktu.

Volume data yang besar menuntut akses cepat

Lingkungan militer menghasilkan data yang sangat luas, mulai dari informasi rahasia soal pergerakan pasukan hingga kebutuhan logistik seperti penyediaan makanan bagi ribuan personel. Besarnya volume tersebut membuat sistem yang cepat dan konsisten menjadi kebutuhan mendasar.

Kemampuan menemukan data yang relevan dengan sigap juga menjadi penentu efisiensi kerja. Jika akses makin mudah, proses pengambilan keputusan pun dapat berlangsung lebih lancar di tengah situasi yang menuntut respons cepat.

Letnan Jenderal Christopher Eubank dari Army Cyber Command menekankan hal serupa. Ia mengatakan bahwa akses yang mulus ke data tepercaya dan bisa ditindaklanjuti akan membantu komandan dan prajurit membuat keputusan yang tepat serta cepat.

Bukan pendekatan yang sepenuhnya baru

Upaya menyatukan informasi agar lebih mudah digunakan sebenarnya sudah pernah muncul dalam sejarah militer Amerika. Sekitar 1950, militer AS mengembangkan SAGE atau Semi-Automatic Ground Environment, yakni rangkaian sistem radar darat untuk mendeteksi pesawat musuh dan membantu respons cepat.

ADOC membawa semangat yang mirip, yaitu menyatukan sistem agar arus informasi menjadi lebih lancar. Dalam konteks sekarang, tujuannya bukan hanya mempercepat pencarian data, tetapi juga memastikan data yang sudah tersedia bisa dipakai secara efektif pada saat diperlukan.

Dengan desain seperti itu, ADOC menjadi salah satu langkah terbaru Angkatan Darat Amerika Serikat untuk memastikan data militer tidak berhenti sebagai kumpulan informasi yang besar, melainkan berubah menjadi sumber yang benar-benar dapat dipakai saat operasi berjalan.

Berita Terkait