Sebagian besar Jawa Tengah diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026, saat zona musim yang terdampak mencapai 83,3 persen. Pada fase itu, cuaca kering akan terasa paling luas di provinsi ini, sehingga periode pertengahan kemarau perlu dicermati dengan lebih serius.
Perkiraan tersebut menjadi semakin penting karena El Nino mulai aktif memengaruhi Indonesia pada Juni 2026. BMKG menyebut fenomena iklim global itu berintensitas sedang hingga kuat, sehingga berpotensi memperkeras musim kemarau yang memang sedang berlangsung di sejumlah wilayah.
Di Jawa Tengah, kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih kering, tetapi juga cenderung lebih panjang dari biasanya. Berdasarkan Buletin Musim Kemarau 2026 dari Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, durasinya diprediksi berlangsung 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima sampai enam bulan.
Di beberapa bagian Kabupaten Pati dan Rembang, musim kering bahkan bisa bertahan jauh lebih lama. BMKG memperkirakan durasinya mencapai 25 hingga 27 dasarian, setara sekitar delapan sampai sembilan bulan.
Wilayah yang lebih dulu masuk puncak kemarau
Tidak semua daerah di Jawa Tengah mencapai puncak kemarau pada waktu yang sama. Pada Juli 2026, fase puncak diperkirakan lebih dulu muncul di Kota Surakarta, sebagian besar wilayah Kabupaten Kudus, sebagian besar wilayah Kabupaten Blora, serta sebagian wilayah Kabupaten Demak, Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo.
Sejumlah wilayah kecil di Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri juga diperkirakan masuk puncak kemarau pada bulan yang sama. Luasan zona musim untuk periode Juli tercatat 14,8 persen, sehingga bagian awal musim kering masih menyisakan wilayah yang akan menyusul pada bulan berikutnya.
Agustus menjadi periode terluas
Puncak kemarau pada Agustus 2026 diperkirakan menjadi yang paling luas cakupannya di Jawa Tengah. Selain kota-kota besar seperti Tegal, Pekalongan, Semarang, Salatiga, dan Magelang, fase ini juga mencakup Kabupaten Brebes, Tegal, Kendal, Semarang, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.
Pada periode yang sama, sebagian besar wilayah Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri juga masuk puncak kemarau. Selain itu, sebagian wilayah Demak, Sragen, dan Karanganyar serta sebagian kecil Kudus dan Blora turut berada dalam fase ini.
Sisa wilayah pada September
Memasuki September 2026, wilayah yang masih berada di puncak kemarau tinggal Kepulauan Karimunjawa. Luasan zona musim yang tercatat pada periode itu hanya 1,9 persen, menandakan mayoritas wilayah lain sudah melewati fase paling kering.
Pola ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah akan merasakan puncak kemarau secara bertahap, dengan tekanan terbesar terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kering. Saat El Nino aktif sejak Juni, kondisi tersebut membuat perhatian pada ketersediaan air dan cuaca kering menjadi semakin relevan di banyak daerah.
El Nino tahun ini diperkirakan berakhir sekitar Maret hingga Mei 2027 dengan intensitas moderate hingga kuat. Dengan rentang aktivitas seperti itu, musim kemarau 2026 di Jawa Tengah berpotensi terasa lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal, terutama di wilayah yang puncaknya jatuh pada Juli dan Agustus.
Source: regional.kompas.com






