AI Mengubah Gym, Venue, dan Event Olahraga China Jadi Jauh Lebih Efisien

Author: Redaksi Android62

Kecerdasan buatan kini merambah hampir setiap lapisan industri olahraga China. Teknologi ini tidak lagi hanya dipakai sebagai pelengkap, melainkan sudah menjadi alat utama untuk mendorong konsumsi olahraga, menekan biaya, dan mengubah cara layanan diberikan kepada pengguna.

Dampaknya terlihat paling jelas pada tiga sektor sekaligus, yakni kebugaran, pengelolaan venue, dan penyelenggaraan acara. Di masing-masing area itu, AI dipakai untuk membaca data lebih cepat, menyesuaikan layanan lebih akurat, dan menjalankan operasi dengan biaya yang lebih efisien.

Gym makin personal dengan bantuan AI

Di pasar gym China, latihan kebugaran berbasis AI yang dipersonalisasi sudah menjadi tren arus utama. Shuhua Sports, pemasok alat kebugaran untuk Komite Olimpiade China, meluncurkan solusi gym berbasis AI untuk menjawab permintaan latihan yang lebih ilmiah.

Sistem itu mengumpulkan data kardiopulmoner pengguna melalui treadmill pintar dan mengukur kekuatan otot lewat perangkat uji digital. Hasilnya dikirim secara real-time ke mini-program di ponsel untuk evaluasi pra-latihan, penyusunan program oleh AI, panduan saat latihan, dan penyesuaian berdasarkan performa.

Wakil presiden Shuhua Sports, Shi Yong, menyebut sistem tersebut bekerja seperti pelatih pribadi digital dengan biaya yang lebih terjangkau. Menurut dia, pendekatan ini memungkinkan tiap pengguna mendapat rencana latihan yang berbeda sekaligus membantu pengelola gym menyesuaikan strategi secara fleksibel.

Penerapan AI di kebugaran juga meluas ke perangkat lain. Impulse Fitness yang berbasis di Qingdao mengembangkan stair climber pintar untuk pelatihan profesional, Ease Future dari Hangzhou membuat robot pijat untuk meredakan nyeri setelah olahraga, dan Suzhou Qiber memadukan sepeda kebugaran dengan permainan interaktif.

Venue olahraga tidak lagi sekadar disewakan

Perubahan besar juga terjadi pada pengelolaan tempat olahraga. AI kini menjadi bagian penting dalam pengembangan dan operasional harian fasilitas olahraga, termasuk peningkatan skala kecil di venue olahraga umum di berbagai wilayah China.

Metaspace, perusahaan pembuat kubah bertekanan udara, membangun kerangka manajemen AI untuk venue olahraga. Sistem berbasis algoritma itu dapat menyesuaikan kondisi lingkungan dalam ruangan secara real-time, mengotomatiskan pemeliharaan peralatan, dan memangkas konsumsi energi.

Platform cerdas yang sama juga dipakai untuk menganalisis arus pengunjung, meningkatkan layanan pelanggan, dan mengelola konsumsi. Dengan begitu, pengelola venue tidak hanya mengawasi gedung, tetapi juga membaca perilaku pengguna dan pola pemakaian fasilitas.

Engineer senior di Hefei Institutes of Physical Science, Akademi Ilmu Pengetahuan China, Chen Liangfeng, menilai arah baru itu mengubah peran stadion dari sekadar tempat menyewakan fasilitas menjadi pengelola aktivitas olahraga pengguna. Ia menekankan bahwa daya saing venue ke depan bukan cuma ditentukan oleh perangkat keras paling canggih, tetapi oleh kemampuan memahami pelanggan secara nyata.

Biaya acara olahraga ikut ditekan

AI juga mulai mendefinisikan ulang cara kompetisi olahraga dirancang dan dijalankan. Digitalisasi membuat penyelenggara bisa memangkas biaya, mempercepat proses, dan menghadirkan pengalaman yang lebih mulus bagi peserta maupun penonton.

Li Chungang, wakil direktur komite pariwisata olahraga di Asosiasi Taman Nasional dan Situs Wisata China, memperkenalkan sistem acara cerdas untuk lomba lari jalan raya, bersepeda, dan orienteering. Platform digital itu dilengkapi modul pencatatan waktu real-time yang terdistribusi.

Menurut Li, sistem tersebut membantu memangkas biaya sekaligus mempermudah penyelenggaraan lomba. Kota Tua Lijiang sudah mengadopsinya untuk mendukung pencatatan kehadiran secara luring dan pemeringkatan daring secara real-time, sehingga acara olahraga skala kecil bisa digelar sepanjang tahun.

Di level yang lebih luas, pemanfaatan AI pada acara olahraga juga terlihat dari contoh internasional. Lektor Fakultas Teknik Olahraga di Universitas Olahraga Beijing, Cui Yixiong, menyinggung penggunaan teknologi perekaman bullet-time pada Olimpiade Paris 2024 dan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, serta iklan televisi multibahasa berbasis AI di UEFA Euro 2024.

Contoh itu menunjukkan bahwa AI bukan hanya alat bantu belakang layar. Teknologi ini juga mulai membentuk cara acara olahraga diproduksi, disiarkan, dan dikonsumsi oleh audiens yang semakin beragam.

Cui menilai turnamen olahraga dapat membangun ekosistem digital yang terus berkembang secara mandiri. Syaratnya adalah kolaborasi lintas industri yang lebih dalam antara penyelenggara, penyedia teknologi, lembaga penyiaran, dan penyedia data olahraga.

Wakil ketua sekaligus sekretaris jenderal Federasi Peralatan Olahraga China, Luo Jie, mengatakan AI telah merambah seluruh lapisan industri olahraga China. Menurut dia, teknologi ini bergeser dari opsi tambahan menjadi mesin wajib yang mendorong konsumsi olahraga dan membentuk ulang lanskap olahraga domestik.

Pola yang sama terlihat di kebugaran, venue, dan acara olahraga. Ketiganya kini bergerak ke arah layanan yang lebih presisi, operasi yang lebih hemat, dan pengalaman pengguna yang lebih personal.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru