Penggunaan AI dalam pengembangan game kini terlihat punya dampak bisnis yang nyata. Studi Game Oracle menyimpulkan bahwa game yang mengungkap penggunaan AI cenderung menerima ulasan lebih sedikit dan penjualan yang lebih lemah, terutama ketika datang dari studio yang sudah mapan.
Temuan itu menjadi sorotan karena efek negatifnya justru paling keras pada developer yang punya rekam jejak, anggaran, dan basis penggemar. Bagi studio seperti itu, AI tidak sekadar memicu perdebatan, tetapi juga berkaitan dengan penurunan performa pasar yang cukup besar.
Dampak yang paling jelas di angka awal rilis
Game Oracle meneliti hampir 10.000 rilis Steam antara Januari dan Oktober 2025. Hasilnya, game dengan disclosure AI rata-rata hanya memperoleh 4 ulasan pada bulan pertama setelah rilis, sedangkan game tanpa AI meraih 7 ulasan.
Perbedaan itu juga terlihat pada tingkat partisipasi pemain. Hampir 20% game dengan disclosure AI tidak mendapat satu ulasan pun, sementara pada game non-AI angkanya sekitar 15%.
Ketika sampel dibatasi pada game yang sudah mengantongi setidaknya 100 ulasan, selisih skornya tetap muncul. Game yang memakai AI mencatat rata-rata 84,6%, sedangkan game tanpa AI berada di 88,3%.
Efek paling berat justru menimpa studio besar
Untuk memperkuat temuannya, Game Oracle membangun model statistik kausal yang mengontrol pengalaman developer, dukungan publisher, genre, dan tanggal rilis. Pendekatan ini dipakai agar perbandingannya lebih adil dan tidak sekadar bergantung pada angka mentah.
Dalam model itu, game yang mengungkap penggunaan AI menerima sekitar 53% lebih sedikit ulasan dibanding game non-AI dalam kelompok yang sebanding. Dalam gambaran sederhana, jika game tanpa AI mendapat 100 ulasan, game AI di skenario serupa hanya sekitar 47 ulasan.
Ross Burton, PhD, Head of Product and Data di Game Oracle, menyebut penurunan itu sangat berat bila studio yang memiliki talenta, anggaran, dan pengalaman justru memilih bereksperimen dengan AI. Ia juga menilai kondisi itu makin kontras karena faktor-faktor yang sama biasanya justru mampu mendorong penjualan 20% hingga 65%.
Bukan sekadar penolakan terhadap AI
Burton tidak menafsirkan hasil tersebut sebagai boikot total dari pemain terhadap teknologi AI. Ia melihat kemungkinan lain, termasuk bahwa AI kerap muncul bersama keputusan pengembangan yang membuat sebuah game terasa kurang matang.
Studi itu juga menunjukkan nuansa berbeda pada studio pemula. Developer yang belum berpengalaman dan tidak punya anggaran pemasaran hampir tidak merasakan dampak negatif besar dari disclosure AI, karena posisi mereka memang sudah rentan sejak awal.
Dengan kata lain, AI tampak menjadi beban tambahan yang paling terasa ketika game datang dari studio yang sebenarnya punya modal kuat. Pada titik itu, stigma AI berubah dari sekadar perdebatan etis menjadi faktor yang ikut memukul hasil komersial.
Steam dan contoh yang ikut mempertegas tren
Sejak Valve mewajibkan disclosure AI dari developer pada Januari 2024, isu ini makin terlihat di Steam. Banyak halaman game kini memuat penjelasan singkat tentang penggunaan AI, mulai dari aset, musik, hingga pengisian suara.
Game Oracle juga mencatat bahwa sekitar 21% game yang rilis di Steam pada 2025 sebelum November memuat disclosure penggunaan AI. Di saat yang sama, Steam Next Fest memperlihatkan banyak game baru yang tampak jelas dibuat dengan bantuan teknologi tersebut.
Studi itu menyinggung The Finals dan Suck Up! sebagai contoh keberhasilan yang tetap memakai AI. Sebaliknya, Black Ops 7 dan Jurassic World Evolution 3 disebut sebagai contoh brand yang terkena dampak negatif karena penggunaan AI.
Burton menutup temuannya dengan sikap hati-hati terhadap teknologi ini. Menurutnya, AI bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dipakai dengan cermat karena AI bukan pengganti kerja keras, melainkan alat untuk meringankan beban kerja.







