Paviliun Raden Saleh kini mulai beroperasi di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan konsep yang memadukan hotel dan ruang seni dalam satu tempat. Kehadiran fasilitas ini menambah warna baru bagi ekosistem kebudayaan di TIM karena tidak hanya menawarkan akomodasi, tetapi juga ruang yang terhubung langsung dengan aktivitas seni.
Di tengah kebutuhan tempat menginap bagi para pelaku seni yang selama ini dirasakan belum terpenuhi, kehadiran paviliun ini menjadi jawaban yang dinilai relevan. Fasilitas tersebut diperkenalkan melalui kolaborasi Artotel Group, PT Jakarta Propertindo (Perseroda), dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Akomodasi yang dirancang dekat dengan seni
Paviliun Raden Saleh tidak diposisikan sebagai hotel biasa. Bangunan ini diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan seni dan masyarakat, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman menginap yang selaras dengan atmosfer budaya di kawasan TIM.
Chief Operating Officer Artotel Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menyebut fasilitas ini sebagai platform yang menghidupkan kembali dialog antara seni dan publik. Konsep yang dibawa adalah artistic hospitality, yaitu pengalaman bermalam yang terkoneksi langsung dengan aktivitas seni di sekitarnya.
Pendekatan tersebut membuat fungsi hotel melampaui layanan tempat bermalam semata. Pengunjung dapat berada dekat dengan kalender kegiatan seni yang berjalan di lingkungan TIM, sehingga pengalaman yang dirasakan tidak berhenti pada urusan akomodasi.
Jawaban atas kebutuhan lama pelaku seni
Bagi DKJ, keberadaan fasilitas ini punya arti penting karena kebutuhan penginapan untuk pelaku seni di TIM sudah lama dianggap mendesak. Ketua DKJ Bambang Prihadi menyebut kawasan itu pernah kehilangan wisma seni yang selama lebih dari 30 tahun menjadi penunjang utama bagi pekerja seni dari luar Jakarta.
Dalam pandangan DKJ, Paviliun Raden Saleh memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat istirahat. Ruang ini juga diharapkan bisa menjadi titik pertemuan gagasan lintas disiplin seni yang terhubung dengan program budaya di kawasan TIM.
Kehadiran fasilitas baru tersebut juga memperlihatkan upaya bersama untuk menghidupkan kembali fungsi ruang budaya yang sempat menyusut. Kolaborasi antara Artotel Group, Jakpro, dan DKJ menjadi bagian dari langkah itu.
Pameran arsip sebagai pembuka
Operasional Paviliun Raden Saleh diawali dengan pameran arsip yang digelar di Selasar Nashar, lantai 8 bangunan tersebut. Pameran ini menampilkan dokumentasi sejarah Cikini dan TIM sebagai penanda bahwa kawasan tersebut memiliki jejak panjang dalam perkembangan seni dan kebudayaan Jakarta.
Pameran bertajuk “Raden Saleh & Cikini, Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan” dibuka untuk publik mulai 21 April hingga 21 Mei 2026. Melalui pameran ini, akses publik terhadap jejak sejarah kawasan dibuka sejak awal operasional paviliun.
Kehadiran ruang pamer di dalam hotel juga menunjukkan bahwa fasilitas ini tidak hanya dibangun untuk kebutuhan komersial. Ruang tersebut diarahkan menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang hidup di dalam dan sekitar TIM.
Tarif awal dan posisi baru TIM
Pada masa pembukaan, pengelola menawarkan tarif kamar mulai dari Rp630.000 per malam. Penawaran ini memberi peluang bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman menginap di ruang yang terhubung dengan seni dan budaya.
Dengan beroperasinya Paviliun Raden Saleh, kawasan TIM mendapat tambahan pilihan akomodasi yang sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat kebudayaan. Hotel ini menggabungkan tempat bermalam, pameran arsip, dan program seni dalam satu lingkungan yang saling mendukung.
Bagi pengunjung maupun pelaku seni, kehadiran paviliun ini menghadirkan pengalaman yang lebih terintegrasi. Di tengah aktivitas budaya yang terus bergerak di TIM, fasilitas tersebut menjadi simpul baru yang mempertemukan kebutuhan menginap dengan suasana seni dan ingatan kawasan.
Source: lifestyle.bisnis.com