Aktivis Palestina Luka Serius Usai Taser Dan Dugaan Hantaman Palu Saat Penangkapan Di Filton

Author: Redaksi Android62

Di ruang sidang Inggris, rekaman video dan kesaksian memunculkan gambaran bahwa penangkapan aktivis Palestine Action di fasilitas Elbit Systems di Filton berlangsung dalam situasi yang keras. Leona Kamio disebut mengalami luka serius setelah terkena taser di lengan dan pinggul, sementara cedera lain dikaitkan dengan hantaman palu besar saat operasi itu berlangsung.

Ketika rekaman diputar di pengadilan, petugas Peter Adams terlihat mengarahkan taser ke arah Kamio sebelum menjatuhkannya ke lantai. Dalam kesaksiannya, Kamio mengatakan sengatan itu sangat menyakitkan dan langsung membuat tubuhnya kaku.

Kamio juga menggambarkan momen penangkapan itu sebagai kacau dan menyakitkan. Ia menyebut lengannya diputar ketika petugas berusaha menarik pergelangan tangannya, sementara dirinya berteriak kesakitan.

Di rekaman yang sama, Kamio terdengar memprotes tindakan petugas dengan ucapan, “Kamu benar-benar memukulku.” Adams lalu menanggapi dengan menyebut rekan Kamio terlebih dulu menyerang petugas menggunakan palu, meski Kamio menegaskan dirinya tidak mengetahui siapa yang menyebabkan luka hantaman palu pada tangannya.

Laporan medis yang dibawa ke persidangan ikut menjadi dasar penilaian atas cedera yang dialami Kamio. Dari paparan di ruang sidang, perkara ini tidak hanya menyoroti cara penangkapan dilakukan, tetapi juga dampak fisik yang muncul setelahnya.

Samuel Corner juga menjadi sorotan dalam sidang tersebut karena mengakui telah memukul seorang petugas polisi. Namun, ia menjelaskan bahwa tindakannya terjadi ketika matanya terkena semprotan Pava yang membuat pandangannya terganggu dan fokusnya hilang.

Corner mengatakan sensasi dari semprotan itu terasa sangat membakar. Ia menuturkan bahwa kondisi tersebut membuatnya tidak sadar orang yang dihadapinya adalah petugas polisi berseragam, dan ia mengira sosok itu merupakan petugas keamanan pribadi yang bersikap agresif terhadap rekan-rekan wanitanya.

Ia juga menyatakan tidak berniat menyebabkan cedera serius kepada siapa pun. Pengakuan itu menjadi bagian penting dalam sidang yang sama, karena jaksa dan pembela sama-sama menyoroti keadaan saat kontak fisik terjadi di dalam area pabrik.

Di sisi lain, Kamio menjelaskan alasan keterlibatannya dengan Palestine Action. Ia menyebut tujuannya adalah menghentikan operasional pabrik senjata yang dinilai penting bagi industri militer dan dianggap bisa menimbulkan kerugian lebih besar terhadap manusia.

Sebagai guru TK, Kamio mengatakan keselamatan anak-anak baginya berada di atas perlindungan properti perusahaan. Ia juga menyebut Elbit Systems sebagai perusahaan yang sangat jahat karena dipandang menjadi bagian penting dari kekuatan militer Israel.

Aksi di Filton disebut sebagai bagian dari kampanye global Palestine Action untuk menutup operasional Elbit Systems di berbagai lokasi. Para aktivis memandang fasilitas itu sebagai target utama karena perannya dalam produksi teknologi militer yang dikaitkan dengan konflik di Palestina.

Dalam persidangan, lima terdakwa lain juga menghadapi dakwaan perusakan properti terkait aksi paksa masuk ke pabrik tersebut. Perkara Kamio dan Corner kini memperlihatkan dua lapisan masalah sekaligus, yakni penggunaan alat pengendali dalam penangkapan dan pembelaan para terdakwa atas aksi yang mereka lakukan.

Fakta-fakta yang muncul di ruang sidang membuat operasi penangkapan di Filton menjadi perhatian hukum yang lebih luas. Jaksa menyoroti dugaan kekerasan terhadap petugas, sementara para terdakwa berusaha menjelaskan tindakan mereka sebagai bagian dari penolakan terhadap industri senjata yang mereka kaitkan dengan penderitaan warga Palestina.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru