Wajah alien abu-abu yang kini begitu mudah dikenali di internet ternyata terbentuk dari banyak lapisan budaya populer, bukan dari satu kisah yang berdiri sendiri. Sosok berkepala besar, bermata hitam, dan berkulit abu-abu itu tumbuh sebagai simbol modern dari rasa takut, rasa ingin tahu, dan bayangan manusia tentang kehidupan di luar Bumi.
Bentuk yang paling sering muncul di layar dan meme itu juga tidak lahir secara tiba-tiba. Gambaran tersebut menguat karena rumor, pemberitaan, film fiksi ilmiah, dan kisah penculikan alien saling mengisi selama puluhan tahun hingga akhirnya menjadi ikon yang seolah sudah akrab sejak awal.
Dari rumor langit ke istilah “piring terbang”
Gelombang awal yang sering dikaitkan dengan citra alien modern muncul di Amerika Serikat setelah 1947. Dari masa itu, istilah “piring terbang” mulai menyebar luas dan ikut membangun bayangan publik tentang benda asing di langit beserta sosok yang dianggap datang bersamanya.
Salah satu titik pentingnya ada di Roswell, New Mexico. Dugaan jatuhnya benda asing di sana memang tidak pernah menghasilkan bukti tentang alien, tetapi kisah itu justru menjadi pilar utama mitos UFO modern dan terus menempel pada imajinasi publik.
Cerita Roswell juga hidup lewat media dan percakapan masyarakat. Dalam pemberitaan lama, kisah itu disebut pertama kali muncul pada 24 Juni 1947 melalui laporan tentang pilot Kenneth Arnold yang melihat sembilan benda berbentuk bulan sabit misterius.
Arnold mengatakan benda-benda itu bergerak aneh, seperti dilemparkan di atas air. Setelah itu, surat kabar mulai memakai istilah “piring terbang”, lalu label tersebut menjadi sebutan populer untuk dugaan pesawat asing.
Beberapa minggu kemudian, peternak New Mexico WW Brazel mengaku menemukan puing logam di lahannya. Roswell Daily Record menulis bahwa ia menemukan piring terbang yang jatuh, sementara catatan resmi FBI menyebut objek itu hanya cakram heksagonal yang digantung dengan tali dari balon cuaca.
Hollywood ikut membentuk rupa alien
Setelah berita dan cerita lisan memperluas mitos UFO, Hollywood masuk dan memberi bentuk visual yang lebih kuat. Film-film pada masa itu banyak menggambarkan kontak alien sebagai pertempuran militer, selaras dengan suasana awal Perang Dingin dan ketakutan terhadap kekuatan asing.
Judul seperti The Thing from Another World, The War of the Worlds, dan Earth vs. The Flying Saucers ikut mengukuhkan kesan bahwa alien adalah ancaman dari luar. Di antara film-film itu, The Day the Earth Stood Still menonjol karena memuat banyak unsur abu-abu, mulai dari alien humanoid Klaatu hingga robot Gort dan piring terbangnya.
Jauh sebelum era film tersebut, H.G. Wells sudah memberi bayangan serupa lewat cerita pendek “Man of the Year Million” pada 1893. Ia menggambarkan makhluk masa depan dengan tubuh kecil, kepala besar, wajah mirip bulan purnama, mulut kecil, dan mata besar berkilau.
Kisah penculikan yang membuat stereotip makin kuat
Pada 1961, cerita Betty dan Barney Hill membawa tema penculikan alien ke arus utama. Kisah mereka memuat pola yang kelak sering diulang, mulai dari berkendara malam di jalan pedesaan, melihat cahaya aneh, hingga merasa dibawa ke pesawat ruang angkasa dan berhadapan dengan penculik berkulit abu-abu.
Awalnya, Barney menggambarkan sosok itu seperti Nazi, sedangkan Betty menyebutnya berhidung besar. Betty juga mengaku diperlihatkan peta bintang dari Zeta Reticuli, sistem bintang nyata yang berjarak 39,2 tahun cahaya dari Bumi.
Cerita pasangan Hill kemudian memberi pola bagi banyak kisah penculikan berikutnya. Menurut Christopher Bader dari Universitas Chapman, deskripsi alien pada masa itu sebenarnya masih beragam, termasuk sosok tinggi berambut pirang, alien Arya, hingga makhluk hitam tanpa kepala dengan kaki berselaput.
Dari layar lebar ke internet
Citra alien abu-abu akhirnya makin terkunci setelah Close Encounters of the Third Kind. Film Steven Spielberg itu dianggap mengukuhkan gambaran alien abu-abu secara permanen di benak publik, terutama lewat adegan penutupnya yang ikonik.
Setelah itu, film dan serial lain terus menjaga bentuk yang sama tetap hidup. E.T. the Extra-Terrestrial, Communion, Fire in the Sky, dan serial The X-Files yang tayang dari 1993 hingga 2002 ikut mempertebal citra tersebut di budaya populer.
Dampaknya masih terasa sampai sekarang. Laporan yang dikutip dari Today I Found Out menyebut 43 persen korban dugaan penculikan alien di AS menggambarkan penculik mereka sebagai manusia kecil abu-abu, sementara angkanya lebih tinggi di Australia dengan 50 persen dan di Kanada mencapai 90 persen.
Kepercayaan terhadap UFO dan alien juga tetap bertahan di tingkat yang lebih luas. YouGov mencatat 34 persen orang yang pernah melihat UFO percaya itu adalah pesawat ruang angkasa alien, sementara pemerintah AS merilis 1.500 halaman dokumen terkait UFO pada 2022 dan mulai memakai istilah UAP untuk fenomena anomali tak dikenal.
Karena itu, wajah alien abu-abu yang beredar di internet lebih tepat dilihat sebagai hasil penumpukan panjang berbagai pengaruh. Ia lahir dari gabungan rumor Roswell, bahasa media, film fiksi ilmiah, kisah penculikan, dan kebiasaan budaya populer yang terus mengulang bentuk yang sama.
Source: www.idntimes.com