Altaf Ridwan Tembus Final Karting Dunia, Bangkit Dari Sasis Bengkok Di Genk

Altaf Ridwan berhasil menembus babak final FIA Karting Academy Trophy Round 1 di Sirkuit Genk, Belgia, meski sempat berada dalam situasi yang sangat sulit sejak awal. Pembalap Indonesia berusia 16 tahun itu menjadi satu-satunya wakil Tanah Air di kelas Academy Junior dan tetap mampu bersaing di tengah 54 pembalap dari berbagai negara.

Hasil tersebut muncul dari rangkaian balapan yang memperlihatkan daya juang tinggi. Di ajang yang memakai format sangat ketat itu, kemampuan pembalap benar-benar diuji karena semua peserta menggunakan spesifikasi mesin dan sasis yang identik.

Bangkit dari hasil kualifikasi yang berat

Perjalanan Altaf tidak dimulai dari posisi yang menguntungkan. Pada sesi QTT, ia hanya menempati urutan ke-46 setelah sasis gokartnya bengkok akibat insiden tabrakan sebelumnya.

Kondisi itu tidak membuat penampilannya merosot di heat race. Dari start ke-23 pada Heat 1 Grup B-C, Altaf finis di posisi ke-12 setelah menyalip 11 pembalap dan langsung mencatatkan diri sebagai peraih penghargaan Most Movers.

Pace itu berlanjut pada Heat 2 Grup A-B. Memulai balapan dari grid ke-24, ia naik 10 posisi dan finis ke-13 dengan waktu terbaik 56,2 detik.

Konsisten di tiga heat

Performa stabil Altaf juga terlihat pada Heat 3 Grup B-D. Ia старт dari posisi ke-23, lalu naik sembilan tempat sebelum finis ke-14 dengan waktu terbaik 55,07 detik.

Tiga hasil tersebut membuatnya mengumpulkan posisi gabungan yang cukup untuk bertahan di papan tengah atas. Altaf akhirnya menempati urutan ke-26 secara keseluruhan dan lolos ke final bersama 36 pembalap terbaik lainnya.

Sempat naik di final sebelum insiden terjadi

Di babak final, Altaf sempat menunjukkan daya saing yang menjanjikan. Ia bahkan sempat menembus posisi ke-19 sebelum balapan berubah karena tabrakan saat lomba masih menyisakan 17 lap.

Insiden itu melibatkan pembalap asal Kenya, Bwana Gessese. Race Direction kemudian menjatuhkan sanksi diskualifikasi kepada pembalap yang menyebabkan insiden tersebut, sementara Altaf gagal menyelesaikan balapan.

Tetap positif di tengah tekanan

Meski akhir lomba tidak berjalan sesuai harapan, Altaf tetap memandang pengalaman itu dengan tenang. Ia mengaku menikmati balapan dari posisi belakang karena memberi lebih banyak peluang untuk melakukan overtake.

“Saya senang berada di posisi belakang karena di setiap heat bisa overtake. Ini pengalaman menyenangkan dan saya selalu positif melihat segala kejadian dan masalah,” ujar Altaf Ridwan.

Sikap itu memberi warna tersendiri pada penampilannya di Genk. Di usia 16 tahun, Altaf bukan hanya mampu bertahan di persaingan internasional yang ketat, tetapi juga menunjukkan mental yang kuat saat menghadapi masalah teknis dan tekanan balapan.

Dalam format one make race seperti FIA Karting Academy Trophy, pembalap memang menjadi faktor utama. Karena seluruh peserta memakai spek mesin dan sasis yang sama, kemampuan menyalip dan menjaga konsistensi menjadi penentu hasil akhir.

Dari posisi yang sempat terpukul akibat sasis bengkok, Altaf justru tampil sebagai salah satu nama yang paling menonjol di kelasnya. Perjalanannya di Genk memberi sinyal positif bagi perkembangan motorsport Indonesia di level internasional.

Source: www.liputan6.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer