Googlebook tidak sedang diposisikan sebagai laptop Windows versi lain. Arah pengembangannya justru terlihat lebih dekat ke perangkat yang mengutamakan kemudahan, integrasi Google, dan pemakaian berbasis AI.
Pembeda paling kuat ada pada sistem operasinya. Googlebook dikabarkan memakai Aluminium OS, sebuah sistem yang berfokus pada AI dan integrasi Gemini, dengan antarmuka yang disebut mirip Android.
Cara pakai yang dibuat lebih sederhana
Pendekatan itu membuat Googlebook terasa berbeda dari laptop Windows yang sudah akrab di pasar. Jika Windows tetap dikenal sebagai platform matang dengan dukungan aplikasi yang luas, Googlebook justru diarahkan ke pengalaman yang lebih ringan dan terhubung ke ekosistem Google.
Perangkat ini juga disebut dapat memasang aplikasi Android. Karena itu, nuansa penggunaannya diperkirakan lebih dekat ke pengalaman mobile ketimbang laptop konvensional.
Desain ikut menegaskan identitas baru
Dari sisi tampilan, Googlebook membawa ciri yang tidak umum di laptop lain. Salah satu elemen yang disebut mencolok adalah lampu LED memanjang bernama Glowbar di bagian luar perangkat.
Glowbar hadir dengan warna pelangi dan belum dijelaskan fungsi pastinya. Namun, elemen itu diperkirakan tidak sekadar menjadi hiasan, melainkan dapat berperan sebagai LED notifikasi atau indikator baterai.
Walau begitu, bentuk dasarnya tetap mengikuti model clamshell seperti laptop pada umumnya. Jadi, perbedaan utama Googlebook bukan pada bentuk yang ekstrem, melainkan pada detail visual dan arah pengalaman penggunaan.
Spesifikasi masih belum sepenuhnya terbuka
Di sisi performa, banyak hal tentang Googlebook masih belum jelas. Informasi resmi mengenai spesifikasi maupun kemampuan perangkat ini belum tersedia, sehingga belum bisa dipastikan bagaimana kinerjanya untuk game, aplikasi berat, atau rendering.
CNET menyebut Googlebook nantinya mendukung prosesor berbasis ARM atau x86. Opsi yang dibahas mencakup chip dari Qualcomm, Intel, atau MediaTek, tetapi detail akhirnya masih belum dibuka.
Kondisi ini membuat Googlebook masih menyimpan banyak tanda tanya. Berbeda dengan laptop Windows yang sudah punya rekam jejak jelas, perangkat ini belum menunjukkan batas kemampuan secara terbuka.
Windows masih unggul dalam rentang penggunaan
Laptop Windows tetap berada di posisi yang kuat karena fleksibilitasnya besar. Perangkat dengan Windows tersedia dalam banyak kelas, mulai dari model yang ringan untuk kebutuhan harian hingga laptop kencang untuk bermain game dan mengolah video.
Bahkan laptop Rp5 jutaan sudah bisa dipakai untuk game ringan dan mengedit video 1080p. Di kelas yang lebih tinggi, laptop Windows dengan harga belasan hingga puluhan juta rupiah dapat menjalankan game AAA dan rendering video 4K.
Ragam penggunaan itu juga terlihat dari variasi desainnya. Ada model clamshell biasa, laptop tipis dengan bobot di bawah 2 kilogram, laptop gaming yang tebal, sampai perangkat convertible yang layarnya bisa ditekuk atau dilepas.
Arah pasar dan soal harga
Google belum membocorkan harga resmi Googlebook. Namun, jika melihat pola produk sebelumnya seperti Chromebook, perangkat ini diperkirakan bisa dipasarkan sekitar 500 dolar AS atau sekitar Rp8 jutaan.
Perkiraan itu juga disebut sejalan dengan kehadiran MacBook Neo yang dijual mulai 599 dolar AS atau sekitar Rp10 jutaan. Sementara itu, laptop Windows sendiri sudah punya rentang harga yang sangat luas, dari model entry level berbasis Intel Celeron, Intel Core i3, atau Ryzen 3 di kisaran Rp4 juta hingga Rp5 jutaan, sampai model kelas atas dengan Intel Core Ultra atau Ryzen AI yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Melihat arah ini, Googlebook tampak disiapkan bukan untuk menandingi Windows secara langsung, melainkan untuk menawarkan cara memakai laptop yang lebih sederhana dengan dukungan AI yang lebih kuat. Fokus utamanya ada pada aktivitas sehari-hari seperti mengedit foto, membuka file, menulis email, dan melakukan kustomisasi dengan lebih mudah.
Source: www.idntimes.com






