Pemerintah Tiongkok menyiapkan sedikitnya 173 program pelatihan bagi aparatur pemerintah Indonesia untuk periode 2024-2026. Skema itu mencakup program bergelar dan non-gelar, dan disesuaikan dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia.
Program kerja sama teknis tersebut dipandang bukan sekadar pelatihan singkat. Pemerintah Indonesia menilai inisiatif itu sebagai investasi jangka panjang melalui peningkatan kapasitas, transfer pengetahuan, dan perluasan jejaring internasional.
Alumni dinilai sebagai penghubung yang terus hidup
Dalam forum Alumni Gathering Indonesia-China Technical Cooperation Program Silk Road Night Market Reunion di Gedung Krida Bhakti, Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, peran alumni kembali mendapat sorotan. Mereka dinilai bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga jembatan yang membantu memperluas kerja sama dan pertukaran pengetahuan di kedua negara.
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menyebut program peningkatan kapasitas yang dijalankan pemerintah Tiongkok telah menjadi salah satu fondasi hubungan bilateral selama lebih dari dua dekade. Menurut dia, lebih dari 4.000 pegawai pemerintah Indonesia dari berbagai bidang telah mengikuti program ini.
Bidang yang tercakup meliputi administrasi publik, pembangunan industri, inovasi teknologi, manajemen kebencanaan, hingga kesejahteraan masyarakat. Wang menegaskan bahwa kerja sama itu tidak berjalan satu arah karena Tiongkok juga belajar dari pengalaman Indonesia.
Hubungan bilateral dinilai melampaui pelatihan
Wang menilai para alumni program pelatihan adalah aset berharga bagi hubungan kedua negara. Ia berharap jaringan alumni terus berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia dan Tiongkok.
Ia juga menekankan perhatian Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Dalam pandangannya, pemberdayaan masyarakat, pertukaran pengetahuan, dan konektivitas antarmanusia menjadi energi baru bagi kemitraan strategis kedua negara.
Di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi global, Wang menyebut Indonesia dan Tiongkok tetap memiliki posisi penting sebagai mitra strategis di kawasan dan di antara negara-negara Global South. Ia menegaskan bahwa kerja sama yang dijalankan perlu memberi manfaat nyata bagi masyarakat di kedua negara.
Pemerintah Indonesia apresiasi kontribusi Tiongkok
Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara, Sari Harjanti, menyampaikan apresiasi atas dukungan Tiongkok dalam pengembangan kapasitas aparatur negara Indonesia. Mewakili Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, ia menyebut kerja sama puluhan tahun kedua negara telah menghasilkan capaian konkret di banyak sektor.
Sektor itu mencakup perdagangan, investasi, infrastruktur, energi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia. Menurut Sari, kerja sama Indonesia-Tiongkok telah memberi manfaat nyata dan terus mendukung kesejahteraan bersama.
Ia juga mengatakan minat aparatur pemerintah Indonesia untuk mengikuti program peningkatan kapasitas internasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Kesempatan yang tersedia kini tidak hanya berupa pelatihan jangka pendek, tetapi juga program pendidikan jenjang magister.
Sari menilai nilai utama dari program ini tidak hanya ada pada keterampilan yang diperoleh peserta. Persahabatan, saling pengertian, dan kepercayaan yang tumbuh di antara kedua negara juga menjadi hasil penting yang memperkuat fondasi kerja sama jangka panjang.
Komunitas alumni kemudian diharapkan terus berkembang menjadi wadah yang dinamis. Peran itu dinilai penting untuk berbagi praktik terbaik, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan menjaga hubungan antarmasyarakat tetap aktif.
Dengan jaringan yang terus hidup, alumni program pelatihan ditempatkan sebagai salah satu simpul penting dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok. Dari ruang pelatihan hingga jejaring antarlembaga, kontribusi mereka disebut ikut menjaga kerja sama teknis tetap relevan bagi pembangunan nasional.
Source: mediaindonesia.com






