Sungai Amazon pernah mengalir berlawanan dengan arah sekarang. Jejak geologi menunjukkan aliran purba itu bergerak dari timur ke barat, jauh sebelum sungai raksasa ini bermuara ke Samudera Atlantik seperti hari ini.
Perubahan besar itu membuat sejarah Amazon jauh lebih dinamis daripada bayangan banyak orang. Bentang alam yang kini tampak stabil ternyata menyimpan perubahan arah aliran yang dipengaruhi proses geologi dalam skala sangat panjang.
Bukti penting datang dari potongan batu permata zirkon kuno yang ditemukan Russel Mapes, peneliti geologi dari Universitas North Carolina, saat masih menempuh pendidikan pascasarjana. Material tersebut berasal dari wilayah timur, bukan dari sisi barat tempat Pegunungan Andes berada.
Mapes menjelaskan bahwa usia butiran mineral di sepanjang cekungan Amazon menunjukkan lokasi spesifik di Amerika Selatan bagian tengah dan timur. Temuan itu mendukung dugaan bahwa material tersebut terbawa ketika aliran sungai masih bergerak ke arah barat.
Petunjuk dari cekungan Amazon
Amazon saat ini bermula dari kawasan Pegunungan Andes di Peru, lalu melintasi sebagian besar Amerika Selatan sebelum berakhir di Atlantik. Namun, kondisi itu tidak selalu demikian karena alur sungai berubah seiring perubahan topografi wilayah di sekitarnya.
Para peneliti menilai sisi timur Amerika Selatan yang lebih tinggi menjadi salah satu pemicu utama. Kawasan itu terbentuk pada periode Cretaceous, sekitar 65 hingga 145 juta tahun lalu, dan menciptakan kemiringan yang memengaruhi arah gerak air.
Drew Coleman, supervisor Mapes, menegaskan bahwa Amazon yang sangat datar sangat peka terhadap perubahan kemiringan kecil. Menurutnya, perbedaan arah yang tipis saja sudah cukup untuk mengubah sistem aliran secara besar.
Peran erosi dan sedimen
Penelitian lain pada 2014 memodelkan kenaikan permukaan Andes dan menemukan adanya aliran hujan yang memicu erosi. Proses itu kemudian ikut membentuk lahan basah Pebas, yang menjadi bagian penting dalam sejarah geologi kawasan tersebut.
Penumpukan sedimen sekitar 10 juta tahun lalu menaikkan lokasi di area itu. Perubahan topografi yang terjadi setelahnya perlahan membalik arah aliran sungai hingga mengikuti pola yang dikenal sekarang.
Rekonstruksi ini menunjukkan bahwa Amazon tidak selalu mengalir ke Atlantik. Dalam fase geologi yang sangat panjang, sungai itu pernah bergerak sebaliknya sebelum akhirnya berubah arah karena kombinasi kemiringan wilayah, erosi, sedimen, dan pengangkatan permukaan.
Fakta tersebut menegaskan bahwa sungai terbesar di dunia pun bisa mengalami transformasi besar. Jejak perubahan itu masih dapat dibaca melalui batuan kuno dan pola mineral yang tersebar di sepanjang cekungan Amazon.
