MacBook Neo langsung memicu reaksi keras di pasar setelah mencatat penjualan awal yang sangat kuat. Dalam kurang dari sebulan sejak dirilis, laptop ini dilaporkan terjual 1,1 juta unit dan bahkan disebut melampaui performa awal MacBook Air serta MacBook Pro dalam tiga minggu pertama.
Angka itu menjadi sinyal bahwa perangkat ini tidak sekadar laku karena label Apple. Dengan harga awal USD 599, MacBook Neo masuk ke segmen yang lebih terjangkau dan tetap membawa desain premium serta pengalaman macOS yang stabil.
AMD Memilih Serangan Lewat Gaming
Respons AMD datang dalam bentuk iklan untuk prosesor Ryzen AI terbarunya. Dalam materi tersebut, perusahaan membandingkan HP OmniBook X Flip yang memakai Ryzen 5 220 berbasis Zen 4 dengan MacBook Neo yang menggunakan chip Apple A18 Pro.
Pilihan sudut serangan itu tidak fokus pada harga, melainkan pada gaming. AMD menonjolkan ekosistem Windows dan akses ke perpustakaan game besar di Steam, Epic Games, serta PC Game Pass, sambil menjanjikan frame rate tinggi dan grafis tingkat lanjut tanpa perlu aplikasi pihak ketiga.
Iklan itu juga menyorot keterbatasan MacBook Neo dalam menjalankan game PC. AMD menyebut hanya 5 dari 20 game PC “teratas” yang dapat berjalan secara native di perangkat Apple tersebut.
Di bagian lain, AMD ikut membandingkan kapasitas penyimpanan awal. MacBook Neo dibekali 256GB, sedangkan HP OmniBook X Flip menawarkan 512GB, disertai layar sentuh 2-in-1 yang tidak dimiliki laptop Apple itu.
Celah yang Diincar AMD
Serangan AMD pada dasarnya menargetkan titik yang memang paling mudah diekspos dari MacBook Neo. Bagi banyak konsumen, terbatasnya dukungan game di macOS bukan hal baru, terutama pada pengguna yang mengutamakan judul-judul PC populer.
TechSpot menilai komparasi tersebut lebih banyak memperlihatkan perbedaan mendasar antara Windows dan macOS. Karena itu, pesan iklan AMD bisa terasa kuat bagi gamer, tetapi belum tentu menjadi pertimbangan utama bagi pembeli laptop tipis yang mencari perangkat kerja harian.
AMD juga membawa klaim performa lain ke dalam promosinya. Perusahaan menyebut prosesor Ryzen miliknya menawarkan multitasking 57% lebih baik, rendering konten 38% lebih cepat, dan koneksi WiFi hingga dua kali lebih kencang.
Meski demikian, klaim soal pengalaman gaming unggul tetap punya batas. GPU Radeon 740M pada Ryzen 5 220 disebut lebih cocok untuk game yang ramah spesifikasi, dan untuk banyak judul pengguna masih harus menurunkan setelan grafis ke level terendah agar nyaman dimainkan pada resolusi 1080p.
MacBook Neo Tetap Punya Daya Tarik Sendiri
Di sisi lain, daya tarik MacBook Neo tidak bertumpu pada gaming. Kombinasi harga murah, desain premium, dan stabilitas macOS justru menjadi alasan utama perangkat ini menarik perhatian pasar.
Itulah sebabnya langkah AMD lebih terasa sebagai upaya menggeser percakapan dari keberhasilan penjualan MacBook Neo ke wilayah yang masih menjadi kelemahan Apple. Ketika laptop budget dari Apple mampu mendorong rival besar membuat iklan sindiran yang sangat spesifik, dampaknya di pasar jelas tidak bisa dianggap kecil.
MacBook Neo memang masih punya keterbatasan dalam ekosistem game native, tetapi perangkat ini tidak sepenuhnya lemah untuk beban grafis ringan hingga menengah. Fakta itu membuat sindiran AMD terdengar tajam, namun belum tentu cukup untuk mengubah pandangan pembeli yang mencari laptop produktivitas dengan nilai jual tinggi.
Source: inet.detik.com






