Penghargaan Demokrasi dan Perdamaian 19 April yang diterima An Se-young menjadi penegasan bahwa sorotan terhadap dirinya kini tidak hanya datang dari prestasi di lapangan. Pebulu tangkis tunggal putri Korea Selatan itu memperoleh pengakuan yang mengaitkan pencapaian olahraga dengan keberaniannya bersuara soal persoalan yang ia hadapi setelah Olimpiade Paris 2024.
An menerima penghargaan tersebut di Pusat Pers Korea, Seoul, pada 19 April. Selain plakat, ia juga membawa pulang hadiah uang 50 juta won setelah dinilai tetap tampil di level tertinggi meski harus melewati cedera dan tekanan internal.
Pencapaian ini menambah daftar panjang capaian An di dunia bulu tangkis. Atlet berusia 24 tahun itu disebut berhasil mempertahankan posisi nomor satu dunia selama 140 pekan, sebuah capaian yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu pemain paling dominan saat ini.
Dalam momen penerimaan penghargaan, An menekankan bahwa pengakuan tersebut tidak ia raih sendirian. Ia menyebut dukungan banyak orang menjadi bagian penting dari perjalanan yang membawanya sampai ke titik ini.
“Penghargaan ini bukan hasil dari upaya saya sendiri, tetapi hasil gabungan dari kerja keras dan hati semua orang yang mendukung saya,” kata An, dikutip dari Yonhap News.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa penghargaan yang diterimanya punya makna lebih luas daripada sekadar catatan prestasi individu. An kini dipandang bukan hanya sebagai juara di lapangan, tetapi juga sebagai figur yang berani menyuarakan masalah yang dihadapi atlet.
Sorotan terhadap dirinya memang menguat setelah kritik yang ia lontarkan terkait manajemen cedera dan pola kerja Asosiasi Bulu Tangkis Korea atau BKA. Dari sana, ia mendorong adanya perubahan tata kelola agar perlindungan terhadap atlet tidak sekadar berpusat pada hasil pertandingan.
Sikap yang menonjol di luar arena
An juga menyinggung nilai yang ia pelajari dari pengalaman bertanding. Ia menyebut bahwa dunia olahraga membentuk mental pantang menyerah dan membiasakan dirinya untuk tumbuh bersama orang-orang di sekelilingnya.
“Nilai-nilai terpenting yang dipelajari di lapangan adalah pola pikir untuk tidak pernah menyerah sampai akhir dan sikap untuk tumbuh bersama dengan orang-orang di sekitar saya,” ujarnya.
Ucapan itu memberi gambaran bahwa penghargaan ini tidak hanya menilai prestasi, tetapi juga karakter dan pengaruh moral yang melekat pada dirinya. Sebagai atlet dari klub Samsung Life Insurance, An menegaskan keinginannya untuk terus menjaga integritas dalam setiap langkah.
Ia juga berjanji akan terus mengevaluasi diri agar tindakan sekecil apa pun bisa memberi dampak positif. “Saya akan selalu merenungkan diri sendiri sehingga bahkan tindakan terkecil pun dapat memiliki dampak positif,” kata An.
Latar kontroversi yang ikut membentuk sorotan
Nama An sempat menjadi pusat perhatian publik ketika audit parlemen pada Oktober 2024 memunculkan serangan karakter dari mantan pejabat BKA. Dalam forum itu, pejabat tersebut melontarkan tuduhan mengenai perilaku An di lingkungan pelatihan nasional dan memberi kesan seolah sang atlet tidak menunjukkan sikap hormat.
Tuduhan itu kemudian dibantah oleh Kepala Pusat Pelatihan Nasional Jincheon, Jang Jae-geun. Sejumlah anggota parlemen juga menyatakan penolakan terhadap upaya pengucilan terhadap An, sehingga persoalan tersebut berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas tentang hubungan antara atlet dan struktur organisasi di belakang mereka.
Penghargaan Demokrasi dan Perdamaian 19 April sendiri didirikan pada 2020 oleh Universitas Nasional Seoul untuk memperingati Revolusi 19 April. Dengan masuk dalam daftar penerima, An Se-young bergabung dengan para tokoh seperti mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon dan aktor An Sung-ki.







