Liburan keluarga Meisya Siregar dan Bebi Romeo di Bali berubah menjadi momen yang mengkhawatirkan setelah putra bungsu mereka, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, nyaris tenggelam. Bambang terseret ombak ketika bermain di pantai.
Meisya dan Bebi tidak menyalahkan pihak lain atas peristiwa tersebut. Keduanya memilih mengakui bahwa pengawasan terhadap anak pada saat itu belum maksimal.
Peristiwa itu meninggalkan dampak emosional yang kuat bagi keluarga mereka. Meisya mengatakan perasaannya dan sang suami berkecamuk pada malam setelah insiden tersebut.
Reaksi Bebi Romeo juga terlihat setelah kejadian itu. Meisya menyebut suaminya tidak ingin tidur terpisah dari Bambang, meski biasanya kamar orang tua dan anak-anak berbeda.
“Apalagi Bebi jadi nggak mau pisah tidur sama Bambang—padahal biasanya kan kamar kita beda sama anak-anak. Malam setelah kejadian itu, papanya nggak mau pisah sama Bambang,” kata Meisya.
Pengawasan Orang Tua Diakui Kurang Maksimal
Meisya menilai insiden tersebut sebagai pengingat keras mengenai keselamatan anak di pantai. Ia menyatakan dirinya dan Bebi harus berjiwa besar untuk menerima adanya kelengahan sebagai orang tua.
“Kalau aku berdua sih harus berjiwa besar mengakui kalau ini adalah kelengahan kita sebagai orang tua. Malam itu perasaannya berkecamuk banget,” ujarnya.
Sebelum Bambang menuju pantai, Meisya mengatakan anaknya telah meminta izin. Ia mengaku sudah mengingatkan Bambang agar hanya bermain di pinggir dan tidak terlalu masuk ke laut karena ombak sedang pasang.
“Bambang sempat izin, ‘Bun, Bambang ke pantai ya.’ Aku jawab, ‘Ingat ya, Nak, pantainya cuma boleh di pinggirnya aja, main pasir. Kalaupun mau main ombak, ingat lautnya lagi tengah (pasang),’” tutur Meisya.
Bambang disebut menjawab siap atas pesan dari ibunya. Namun, ombak kemudian menyeretnya ketika Meisya dan Bebi sedang berbincang bersama rekan-rekan di area beach bar hotel.
Jarak Area Hotel dan Bibir Pantai
Lokasi duduk keluarga tersebut berada di area hotel, bukan tepat di bibir pantai. Dari beach bar, jarak menuju pantai disebut sekitar 400 meter hingga 1 kilometer.
Tamu hotel juga perlu menuruni tangga sebelum tiba di area pantai. Kondisi itu membuat garis pantai tidak langsung terlihat dari kursi-kursi tempat Meisya dan Bebi bersantai.
Menurut Meisya, pengalaman berada di lokasi yang sama selama empat hari turut menciptakan rasa aman. Bambang bermain di pantai tersebut setiap hari selama keluarga itu berada di Bali.
Rasa familier terhadap tempat itu justru dipandang Meisya sebagai titik kelengahan. Ia menilai lingkungan yang telah sering didatangi dapat membuat orang tua merasa seolah-olah berada di tempat yang sepenuhnya aman dan dikenal.
“Tempat itu bukan tempat asing, ibaratnya lingkungannya sudah kita kenal dan rasanya sudah kayak ‘di rumah sendiri’. Nah, itulah kelengahan kita,” kata Meisya dalam keterangannya yang dikutip hot.detik.com.
Meisya menegaskan bahwa laut dan ombak tidak bisa dipastikan perilakunya. Ia memandang kejadian itu sebagai takdir, sambil tetap menempatkan kekurangan pengawasan sebagai pelajaran penting bagi keluarganya.
Insiden tersebut menjadi pengalaman berat bagi Meisya Siregar dan Bebi Romeo di tengah liburan keluarga mereka. Pengakuan terbuka keduanya menyoroti bahwa kondisi pantai dapat berubah, termasuk di lokasi yang telah terasa akrab.
