Di kalangan Gen Z dan milenial, properti kini makin sering dipandang sebagai bagian dari portofolio keuangan, bukan sekadar tempat tinggal. Arus kas sewa, potensi kenaikan nilai, dan stabilitas mata uang ikut masuk dalam pertimbangan saat memilih aset.
Perubahan cara pandang itu membuat Malaysia semakin banyak dilirik. Kedekatan geografis, kemiripan budaya, fasilitas publik, akses pendidikan, transportasi, dan peluang memperluas jaringan internasional menjadi alasan yang sering disebut oleh pembeli muda.
Pasar domestik yang melambat ikut mendorong pencarian ke luar negeri
Di Indonesia, pasar properti dalam beberapa periode terakhir menunjukkan perlambatan. Bank Indonesia mencatat transaksi perumahan pada kuartal I 2026 turun sekitar 25,67 persen secara tahunan.
Situasi itu berjalan beriringan dengan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Biaya Kredit Pemilikan Rumah ikut terasa lebih berat, sementara imbal hasil sewa di banyak kota besar cenderung berada di kisaran 3–5 persen.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian investor muda mulai menghitung ulang keputusan mereka. Di tengah tekanan global seperti perlambatan ekonomi dan revisi proyeksi pertumbuhan, uang tunai dinilai tidak selalu cukup aman jika hanya disimpan.
Malaysia muncul sebagai tujuan yang paling sering disebut
Kawasan seperti Kuala Lumpur dan Johor berkembang menjadi pusat aktivitas yang menarik perhatian profesional muda, keluarga muda, hingga pekerja dengan mobilitas tinggi di Asia Tenggara. Karena itu, kepemilikan properti lintas negara semakin dianggap relevan dengan gaya hidup generasi modern yang serba fleksibel.
Di saat yang sama, teknologi membuat akses ke informasi pasar luar negeri jauh lebih mudah. Data kawasan hunian, tren investasi, dan perkembangan kota dunia kini bisa dipantau hanya lewat ponsel.
Nilai tukar ikut mengubah cara hitung investasi
Dalam dua dekade terakhir, rupiah mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang utama. Ringgit Malaysia yang dulu berada di kisaran Rp2.000-an kini berada di level sekitar Rp4.400–Rp4.500, sedangkan dolar Amerika Serikat yang dulu di kisaran Rp8.000–Rp9.000 kini menembus sekitar Rp18.000.
Pergerakan itu membuat daya beli rupiah terhadap mata uang lain turun signifikan dalam jangka panjang. Bagi sebagian anak muda, faktor ini menjadi alasan tambahan untuk melirik aset luar negeri yang dianggap lebih mampu menjaga nilai.
Imbal hasil di Malaysia terlihat menarik, tetapi tidak otomatis aman
Di Malaysia, beberapa segmen properti high-rise disebut memiliki imbal hasil sewa di kisaran 5–8 persen pada lokasi tertentu. Skema pembiayaannya juga dinilai lebih ringan dibanding beberapa pasar regional lainnya.
Di kawasan Iskandar Puteri, Johor, salah satu unit tercatat mengalami kenaikan sekitar 44,2 persen dari sisi capital gain. Di Desa Park City, Kuala Lumpur, nilai properti tercatat naik 77 persen capital gain, dengan total pengembalian yang disebut bisa melampaui 100 persen ketika digabungkan dengan faktor mata uang.
Medini, Johor, juga disebut mencatat kenaikan harga sewa dengan imbal hasil yang bisa menembus lebih dari 8 persen pada kondisi tertentu. Meski begitu, performa seperti ini tetap sangat bergantung pada lokasi, waktu masuk, harga beli awal, dan pemilihan unit.
CEO FAR Capital, Faizul Ridzuan, menilai banyak investor gagal karena masuk di harga yang tidak tepat atau tanpa memahami struktur pasar. Ia menegaskan bahwa imbal hasil maksimal hanya bisa dicapai jika investor masuk di posisi harga yang tepat.
Yang berubah bukan hanya pasar, tetapi juga cara berpikir
Fenomena ini memperlihatkan perubahan mindset yang lebih besar dari sekadar pindah minat ke negara tetangga. Generasi muda tidak lagi melihat properti sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai aset yang harus bekerja bersama mobilitas hidup dan rencana keuangan mereka.
Di tengah dunia yang makin terhubung, batas antara investasi lokal dan internasional perlahan memudar. Bagi banyak anak muda, pertanyaannya kini bukan lagi hanya soal membeli rumah di mana, melainkan bagaimana aset itu bisa tumbuh bersama hidup yang mereka bangun.
