Sedikitnya 12 negara kini memantau warganya setelah wabah hantavirus yang mematikan dikaitkan dengan kapal pesiar berbendera Belanda, M/V Hondius. Sejauh ini, delapan kasus yang terhubung ke kapal itu telah dikonfirmasi atau masih diduga, dan tiga di antaranya berakhir dengan kematian.
Yang membuat penyelidikan ini terus meluas adalah perpindahan penumpang ke banyak negara sebelum karantina penuh diterapkan. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut penelusuran kontak, investigasi, dan protokol isolasi masih berlangsung, sementara masa inkubasi hantavirus yang bisa panjang membuat kasus tambahan masih mungkin muncul.
Jejak infeksi lintas negara
Pemerintah kesehatan di Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat ikut memantau perkembangan ini. Di Amerika Serikat, badan kesehatan di lima negara bagian juga menelusuri orang-orang yang berada di kapal, dan seluruh yang tercatat dilaporkan tidak bergejala.
Di Georgia dan Texas, masing-masing ada dua orang yang dipantau. Arizona dan Virginia masing-masing memantau satu orang, sedangkan California memantau jumlah yang tidak disebutkan.
Strain yang jadi perhatian
Hantavirus sendiri merupakan keluarga virus langka yang umumnya menular ke manusia lewat kontak dengan kotoran atau air liur tikus yang terkontaminasi. CDC Amerika Serikat menyebut infeksinya kerap memicu gangguan paru dan pernapasan yang bisa menjadi berat.
Pada kapal ini, strain yang teridentifikasi adalah Andes virus. Strain tersebut menjadi perhatian khusus karena dikenal sebagai satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, meski penularannya terjadi lewat kontak dekat yang berlangsung lama.
Kasus awal yang memicu rangkaian wabah
Kasus yang diduga memulai rangkaian ini adalah seorang pria Belanda berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal pada 11 April. Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, pria itu mulai bergejala pada 6 April, kurang dari sepekan sebelum meninggal.
Saat itu hantavirus belum dicurigai karena gejalanya menyerupai penyakit pernapasan lain, sehingga tidak ada sampel yang diambil. Kini pria tersebut diyakini sebagai kasus hantavirus pertama di kapal.
Istrinya yang berusia 69 tahun turun dari kapal saat bersandar di Saint Helena pada 24 April. Ia meninggal dua hari kemudian di Afrika Selatan setelah kondisinya memburuk selama penerbangan ke Johannesburg, dan darahnya kemudian terbukti positif Andes virus.
Sebelum naik kapal pada 1 April, pasangan ini sempat melakukan perjalanan mengamati burung di Argentina, Chile, dan Uruguay. WHO mengatakan mereka mengunjungi lokasi yang menjadi habitat spesies tikus pembawa Andes virus.
Pasien lain yang teridentifikasi
Seorang pria dewasa asal Inggris datang ke dokter kapal pada 24 April dengan gejala pernapasan dan tanda pneumonia. Dua hari kemudian kondisinya memburuk, lalu ia dievakuasi secara medis dari Pulau Ascension ke Afrika Selatan dan dirawat di unit perawatan intensif.
Tes kemudian mengonfirmasi bahwa ia terinfeksi Andes virus. Otoritas kesehatan Afrika Selatan dan WHO sempat menyebut kondisinya kritis, namun Maria Van Kerkhove kemudian mengatakan kondisinya membaik.
Ada pula penumpang perempuan asal Jerman yang meninggal di atas kapal pada 2 Mei. WHO menyebut ia mulai demam pada 28 April lalu berkembang menjadi gejala pneumonia, sementara pihak operator kapal menyatakan jenazahnya masih berada di kapal.
Evakuasi dan hasil pemeriksaan terbaru
Tiga orang dievakuasi dari kapal dan diterbangkan ke Belanda untuk mendapat perawatan medis. Dua di antaranya, seorang penumpang Belanda dan seorang awak kapal asal Inggris, sempat menunjukkan gejala virus dan digambarkan dalam kondisi serius oleh operator kapal, tetapi Van Kerkhove mengatakan keduanya kini stabil.
Orang ketiga yang dievakuasi adalah seorang penumpang Jerman. Ia tidak menunjukkan gejala pada hari evakuasi, tetapi diketahui dekat dengan perempuan Jerman yang meninggal pada 2 Mei, lalu kembali ke Jerman menurut WHO.
Seorang pria Swiss yang turun di Saint Helena juga dinyatakan positif Andes virus setelah bergejala dan menjalani pemeriksaan di Zurich. Saat ini ia dirawat di kota tersebut.
Pada Jumat pagi, seorang pejabat WHO mengonfirmasi kepada CBS News bahwa seorang pramugari KLM yang sempat kontak dengan penumpang kapal dan dirawat di Belanda untuk pemantauan telah dites negatif hantavirus. Kementerian Kesehatan Prancis juga menyebut delapan warga negara Prancis yang pernah kontak dengan perempuan Belanda yang meninggal dalam penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg, dan satu di antaranya mengalami gejala ringan serta masih menunggu hasil diagnostik.







