Andes virus menjadi sorotan karena merupakan satu-satunya hantavirus yang terbukti dapat menular dari manusia ke manusia, meski penularan seperti itu tergolong jarang. Di tengah perhatian atas wabah di kapal pesiar MV Hondius, Organisasi Kesehatan Dunia tetap menilai risiko terhadap populasi global secara keseluruhan masih rendah berdasarkan informasi yang tersedia.
Kasus di kapal itu melibatkan tiga penumpang yang dilaporkan meninggal dunia dan delapan kasus yang sudah terkonfirmasi. WHO juga menyebut pemantauan terhadap situasi di kapal pesiar tersebut masih berlangsung, termasuk anjuran pemantauan gejala selama 45 hari bagi siapa pun yang pernah berada di sekitar kasus terkonfirmasi.
MV Hondius membawa 147 penumpang dan kru saat perjalanan dimulai dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Notifikasi mengenai klaster penyakit pernapasan berat di kapal itu diterima oleh International Health Regulations di Inggris, setelah penumpang pertama dilaporkan meninggal pada 11 April 2026.
Korban lain menyusul setelah itu. Istrinya meninggal dua hari setelah diturunkan di Johannesburg, sementara satu korban lain wafat saat masih berada di atas kapal.
Mengapa Andes virus dipantau ketat
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menyebut Andes virus sebagai salah satu hantavirus yang umum ditemukan di Amerika Selatan. Virus ini menjadi perhatian khusus karena berbeda dari hantavirus lain yang sudah dikenal luas.
Argentina mencatat penularan hantavirus dari manusia ke manusia pertama pada 1996, dan penyebabnya adalah Andes virus di kawasan Patagonia. Meski demikian, penularan antarmanusia tetap jarang terjadi dan tidak menjadi pola utama penyebaran hantavirus.
Sampai sekarang belum ada obat antivirus spesifik maupun vaksin untuk hantavirus. Karena itu, pencegahan masih sangat bergantung pada kewaspadaan terhadap paparan hewan pengerat.
Cara virus ini menyebar
Secara global, lebih dari 50 jenis hantavirus diketahui menginfeksi hewan pengerat. Tidak semuanya berbahaya bagi manusia, tetapi puluhan di antaranya dapat menimbulkan penyakit serius.
Penularan paling sering terjadi ketika manusia bersentuhan dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Risiko juga muncul saat partikel terkontaminasi terhirup, terutama di ladang, hutan, gudang, atau tempat lain yang banyak dihuni hewan pengerat.
Masa inkubasi hantavirus berkisar antara satu hingga delapan minggu. Pada kasus Andes virus, gejala awal biasanya muncul empat hingga 42 hari setelah paparan.
Gejala awal itu dapat berupa demam, nyeri otot di paha, pinggul, dan punggung, serta gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Pada tahap lanjut, penderita bisa mengalami batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru dalam waktu singkat.
Di Asia dan Eropa, hantavirus umumnya menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS yang berkaitan dengan gagal ginjal. Namun, sejumlah varian lain memicu gangguan berbeda pada organ pernapasan.
Jejak panjang hantavirus di dunia
Hantavirus pertama kali dikenali lewat wabah yang menyerang tentara PBB saat Perang Korea pada 1951 hingga 1954. Lebih dari 3.000 prajurit saat itu mengalami demam tinggi, perdarahan, syok, hingga gagal ginjal, dan penyakit tersebut kemudian dikenal sebagai Korean hemorrhagic fever.
Penyebab pastinya baru berhasil diisolasi pada 1976 oleh virologis Korea Ho Wang Lee dan timnya. Virus itu ditemukan dari tikus ladang bergaris yang ditangkap di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan, lalu dinamai Hantaan virus.
Kelompok virus serupa kemudian disebut hantavirus, dan pada 1981 para ilmuwan mengonfirmasi hantavirus sebagai anggota baru keluarga Bunyaviridae. Berbeda dari banyak virus lain, hantavirus tidak membutuhkan serangga sebagai perantara karena hidup dan menular melalui hewan pengerat sebagai inang utamanya.
Pelajaran dari wabah di Amerika Serikat
Pandangan bahwa hantavirus hanya berkaitan dengan Asia dan Eropa berubah setelah wabah besar muncul di kawasan Four Corners, Amerika Serikat, pada 1993. Saat itu, sepasang pemuda dari komunitas Navajo di perbatasan Arizona dan New Mexico meninggal dalam selang beberapa hari akibat gagal napas mendadak.
Penyelidikan menemukan pola yang sama pada kasus lain, yaitu diawali demam dan nyeri otot sebelum berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat. Pada Juni 1993, peneliti mengidentifikasi jenis baru yang dinamai Sin Nombre virus dengan tikus rusa sebagai inang utamanya.
Berbeda dari hantavirus di Asia dan Eropa yang lebih sering memicu gangguan ginjal, Sin Nombre virus menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. Sepanjang 1993, tercatat 48 kasus terkonfirmasi di Amerika Serikat dengan tingkat kematian mencapai 56%.
Menurut laporan American Association for the Advancement of Science, wabah itu dipicu lonjakan populasi tikus rusa hingga sepuluh kali lipat. Pemicunya adalah hujan lebat setelah bertahun-tahun kekeringan, yang membuat tanaman pakan tikus tumbuh subur dan meningkatkan kontak dengan manusia.
Source: www.beritasatu.com






