Antrean BBM di Sumut Mengancam Distribusi, HIPMI Desak Pembenahan Rantai Pasok

Antrean BBM di sejumlah SPBU Sumatera Utara berisiko meluas menjadi gangguan bagi distribusi barang dan aktivitas usaha. HIPMI menilai kelancaran pasokan energi perlu segera dipulihkan karena keterlambatan pengiriman dapat menambah beban logistik.

Bagi pelaku usaha, ketersediaan BBM tidak hanya berkaitan dengan mobilitas kendaraan. Pasokan yang terganggu dapat memengaruhi ketepatan pengiriman, biaya operasional, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok di daerah.

Langkah Cepat di Jalur Distribusi

Pertamina Patra Niaga melakukan sejumlah penguatan operasional untuk mempercepat penyaluran BBM ke wilayah terdampak. Penambahan armada, personel, dan waktu operasional terminal menjadi bagian dari upaya mengurai antrean di SPBU.

Langkah PenangananFokus Utama
Penambahan mobil tangkiMempercepat pengiriman dari terminal BBM ke SPBU.
Penambahan personelMeningkatkan efisiensi bongkar muat dan penyaluran.
Operasional terminal 24 jamMenjaga ketersediaan stok di wilayah terdampak.
Koordinasi lintas sektorMenjaga kelancaran jalur distribusi bersama pemda dan aparat.

Penguatan armada mobil tangki dipandang penting untuk menutup kebutuhan pasokan saat antrean muncul. Namun, langkah darurat tersebut dinilai perlu diikuti perbaikan sistem distribusi agar persoalan tidak terus berulang.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong mengapresiasi respons yang dilakukan Pertamina Patra Niaga. Ia menilai normalisasi pasokan harus menjadi perhatian karena BBM merupakan komoditas strategis bagi masyarakat dan dunia usaha.

“Kelangkaan dan antrean BBM yang sempat terjadi di Sumatera Utara tentu menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan dunia usaha,” ujar Anthony dalam keterangannya yang dikutip Media Indonesia. Menurutnya, gangguan tersebut dapat memengaruhi mobilitas, distribusi barang, serta harga kebutuhan pokok.

Rantai Pasok Perlu Dievaluasi

HIPMI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok energi di Sumatera Utara. Evaluasi itu mencakup kesiapan infrastruktur logistik, pengelolaan stok, dan mekanisme pemantauan pasokan secara waktu nyata.

Pemantauan yang lebih baik dinilai dapat membantu pihak terkait mendeteksi gangguan sebelum berdampak luas pada SPBU dan pengguna. Sistem tersebut juga diperlukan agar keputusan penambahan pasokan dapat dilakukan secara lebih terukur.

Kelancaran Distribusi BBM Sumatera Utara menjadi faktor penting bagi usaha yang mengandalkan kendaraan untuk mengangkut bahan baku maupun produk. Saat kendaraan tertahan atau bahan bakar sulit diperoleh, biaya logistik berpotensi meningkat.

Kenaikan biaya pengiriman dapat memberi tekanan berantai terhadap kegiatan perdagangan di daerah. Karena itu, kepastian penyaluran energi dinilai menjadi bagian dari perlindungan terhadap keberlangsungan ekonomi lokal.

Stok Penyangga dan Pengawasan

HIPMI juga menyoroti pentingnya ketersediaan stok penyangga untuk menghadapi hambatan distribusi pada masa mendatang. Buffer stock yang memadai dapat membantu menjaga pasokan ketika jalur penyaluran mengalami gangguan.

Selain perbaikan operasional Pertamina, pengawasan terhadap distribusi turut menjadi perhatian. HIPMI menyambut inspeksi mendadak Anggota Komisi XII DPR RI Ade Jona Prasetyo di Sumatera Utara sebagai langkah untuk memantau kondisi penyaluran di lapangan.

Koordinasi antara DPR, Pertamina, pemerintah daerah, dan aparat keamanan diharapkan dapat mempercepat penanganan gangguan distribusi. Kerja sama tersebut juga diperlukan untuk mencegah kepanikan akibat informasi yang tidak akurat mengenai ketersediaan BBM.

Normalisasi pasokan diharapkan memberi kepastian bagi masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran transportasi. Pembenahan rantai pasok menjadi kebutuhan agar gangguan serupa dapat direspons lebih siap, bukan hanya melalui langkah darurat.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait