Rasa Aman dari Aplikasi Pelacak Hiu Bisa Menyesatkan, Ini Penjelasan Ahli

Aplikasi pelacak hiu kerap memberi kesan seolah laut bisa dibaca seperti peta keamanan yang terus diperbarui. Namun, para ahli justru mengingatkan bahwa layar yang tampak kosong tidak otomatis berarti perairan di bawahnya aman.

Wildlife biologist sekaligus host Shark Week, Forrest Galante, menilai kekeliruan terbesar ada pada cara publik menafsirkan data. Aplikasi semacam Ocearch hanya menampilkan hiu yang sudah diberi tag oleh peneliti atau pejabat pemerintah, bukan seluruh hiu yang ada di laut.

Deteksi bukan berarti gambaran utuh

Galante menjelaskan bahwa kemunculan satu hiu bertag di dekat pantai sering langsung dianggap sebagai tanda bahaya. Sebaliknya, ketika tidak ada deteksi, banyak orang buru-buru menyimpulkan laut sedang aman, padahal dua anggapan itu sama-sama bisa keliru.

Tag yang tiba-tiba diam juga tidak selalu berarti hiu lenyap dari area itu. Hiu bisa berpindah, perangkat tag bisa berhenti mengirim sinyal, atau hewan tersebut bergerak keluar dari jaringan deteksi.

Mengapa aplikasi ini tetap populer

Ketertarikan terhadap pelacak hiu biasanya meningkat pada musim panas, saat banyak orang memeriksa kemunculan hiu dengan pola yang mirip mengecek prakiraan cuaca. Menurut Galante, kebutuhan akan kepastian membuat teknologi semacam ini terasa menenangkan bagi sebagian pengguna, terutama ketika menyangkut keselamatan pribadi.

Ia membandingkan kebiasaan sekarang dengan akhir 1990-an atau awal 2000-an, ketika orang pergi ke pantai dengan penerimaan yang lebih besar bahwa laut adalah ruang liar. Kini, teknologi membuat banyak orang berharap ada informasi yang selalu aktif dan selalu akurat.

Masalahnya, alam tidak bekerja dengan jadwal yang bisa ditebak. Satwa liar bergerak tanpa mengikuti keinginan manusia, sehingga hasil pelacakan tidak bisa dibaca secara hitam-putih.

Risiko paranoia dan fokus yang berlebihan

Galante juga menilai aplikasi pelacak hiu dapat memicu paranoia yang tidak perlu. Di sisi lain, pengguna bisa terlalu terpaku pada hiu dan melupakan konteks risiko yang sebenarnya saat berenang di laut.

Ia mengingatkan bahwa keberadaan hiu di laut bukanlah hal luar biasa. Meski begitu, serangan hiu tetap tergolong sangat jarang, sehingga ketakutan publik sering kali lebih besar daripada risiko faktual yang tercatat.

Florida Museum of Natural History melalui International Shark Attack File mencatat hanya ada 65 gigitan hiu tanpa provokasi pada manusia dan 29 gigitan yang diprovokasi di seluruh dunia pada 2025. Data itu menunjukkan bahwa angka kejadian jauh lebih kecil dibandingkan kekhawatiran yang kerap muncul di publik.

Cara membaca telemetry hiu dengan benar

Galante tidak menyarankan orang berhenti memakai aplikasi pelacak hiu. Ia menekankan bahwa telemetry hiu seharusnya dipahami sebagai alat informasi, bukan jaminan keamanan.

Baginya, telemetry hiu lebih tepat dipandang sebagai cuplikan situasi, bukan kamera keamanan langsung. Deteksi positif hanya menunjukkan posisi seekor hiu bertag pada momen tertentu, tetapi informasi itu tetap berguna bagi ilmuwan yang meneliti migrasi, penggunaan habitat, dan perilaku hiu.

Manfaat lain juga terlihat pada sisi konservasi. Program pelacakan membantu publik memahami hiu sekaligus mendukung riset yang memperkaya pengetahuan tentang hewan laut tersebut.

Pada akhirnya, aplikasi pelacak hiu tetap berguna selama dipakai dengan pemahaman yang tepat. Informasinya dapat menambah kewaspadaan, tetapi keselamatan di pantai tetap bergantung pada kesadaran bahwa data tersebut terbatas, tidak mencakup semua hiu, dan tidak bisa dijadikan kepastian mutlak.

Berita Terkait