Intel kembali mencuri perhatian pasar setelah muncul sinyal kesepakatan awal untuk memproduksi sebagian chip Apple. Kabar itu langsung mengangkat saham Intel lebih dari 13% pada Jumat dan sempat membawa harga ke rekor intraday baru di $130.57.
Lonjakan tersebut menunjukkan betapa cepatnya sentimen terhadap Intel berubah. Nilai sahamnya kini sudah jauh melampaui puncak penutupan era dot-com di $75.81 pada tahun 2000, sekaligus meninggalkan level sekitar $18.96 yang terlihat 52 minggu lalu.
Peluang besar dari pelanggan yang sangat besar
Bagi Intel, kerja sama yang dibicarakan dengan Apple bukan sekadar tambahan pesanan biasa. Jika berlanjut, Intel akan masuk ke rantai pasok salah satu pelanggan chip terbesar di dunia dan berpotensi membuka pintu bisnis foundry yang jauh lebih strategis.
Belum ada kejelasan produk mana yang akan dibuat Intel untuk Apple. Namun skala bisnis Apple memberi gambaran besarnya peluang, karena perusahaan itu mengirim lebih dari 200 juta iPhone per tahun, ditambah jutaan iPad dan Mac.
Pada tahap awal, Intel disebut kemungkinan akan menangani produk dengan volume lebih kecil terlebih dahulu. Negosiasi antara kedua perusahaan juga dikabarkan sudah berlangsung lebih dari setahun, dan chip pertama yang dibuat Intel untuk Apple diperkirakan baru hadir sekitar 18 bulan lagi.
Langkah Apple untuk mengurangi ketergantungan
Di sisi Apple, pembicaraan ini juga punya arti penting karena perusahaan tersebut selama ini hampir sepenuhnya bergantung pada TSMC untuk pasokan chip. Kerja sama dengan Intel dapat menjadi cara untuk memperluas diversifikasi pasokan di luar satu pemasok utama.
Perubahan ini juga menarik karena selama bertahun-tahun Intel justru berada di bawah tekanan besar dari para pesaingnya. Nvidia dan AMD terus menekan posisinya, sementara Apple sendiri telah membangun ketergantungan kuat pada TSMC melalui rantai pasok chipnya.
Dorongan dari Gedung Putih
Dimensi politik dari kesepakatan ini juga tidak kecil. Presiden Trump secara pribadi mendorong Tim Cook dalam pertemuan di Gedung Putih, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick juga ikut terlibat dalam pendekatan tersebut.
Bagi pemerintahan Trump, kerja sama itu dapat dipandang sebagai kemenangan politik karena sejalan dengan dorongan untuk memperkuat manufaktur chip di Amerika Serikat. Untuk Apple, partisipasi dalam skema ini juga berpotensi membantu memperbaiki hubungan dengan pemerintah Trump.
Perhatian pemerintah terhadap Intel sendiri sudah lebih dulu besar. Pada Agustus lalu, pemerintah AS membeli 433.3 juta saham Intel seharga $20.47 per saham dan mengambil 9.9% kepemilikan senilai total $8.9 miliar melalui CHIPS and Science Act serta program semikonduktor aman, menurut pengajuan Intel ke SEC.
Dengan harga saham Intel yang kini diperdagangkan di atas $120, nilai kepemilikan itu sudah membengkak menjadi lebih dari $50 miliar. Trump juga sempat mengklaim melalui Truth Social pekan lalu bahwa pemerintah telah membuat Amerika Serikat “over 30 Billion Dollars.”
Intel berusaha membalik keadaan
Kabar tentang Apple datang saat Intel memang sedang mencari momentum baru. Setelah kepemilikan pemerintah tersebut, Intel meluncurkan chip Panther Lake sebagai produk pertamanya yang memakai proses manufaktur 18A, lalu menerima investasi $5 miliar dari Nvidia dan suntikan $2 miliar dari SoftBank.
CEO Intel Lip-Bu Tan, yang mengambil alih pada Maret 2025 setelah bertahun-tahun perusahaan itu kehilangan pangsa pasar ke AMD, Nvidia, dan Apple Silicon, terus mencari mitra serta pelanggan baru. Dalam kondisi seperti itu, kontrak dengan Apple bisa menjadi bisnis terbesar yang berhasil diamankan Intel sejauh ini.
Intel juga masih harus menghadapi tekanan kuat dari AMD. Pada Oktober lalu, AMD mengamankan kesepakatan GPU 6 gigawatt dengan OpenAI, termasuk ketentuan bahwa OpenAI dapat membeli hingga 10% ekuitas AMD.
Dengan latar persaingan itu, Intel sedang bertaruh bahwa pelanggan foundry dapat membuka fase baru pertumbuhan. Jika kesepakatan Apple benar-benar berjalan, langkah tersebut bisa menjadi momentum paling besar dalam proses pemulihan Intel sejauh ini.







