Apple kini berada di titik yang lebih sensitif dalam sengketa App Store di India. Perusahaan dilaporkan setuju menyerahkan data keuangan spesifik India kepada Competition Commission of India atau CCI, langkah yang dapat dipakai regulator untuk menghitung denda antimonopoli jika pelanggaran persaingan dinyatakan terjadi.
Perubahan sikap ini penting karena sebelumnya Apple berbulan-bulan menolak memberikan data tersebut. Di tengah posisi India yang makin strategis bagi pertumbuhan bisnis Apple, perkara yang awalnya tampak seperti sengketa regulasi kini berpotensi berubah menjadi beban finansial bernilai besar.
Data keuangan jadi kunci penentuan denda
Reuters melaporkan Apple memiliki tenggat sampai 25 Juni untuk menyerahkan data keuangan India kepada CCI. Dalam perkara antitrust di India, data seperti ini biasanya menjadi dasar regulator untuk menilai dan menghitung kemungkinan penalti.
Sikap Apple yang akhirnya melunak menandai fase baru dalam penyelidikan yang sudah berjalan lama. Sebelumnya, perusahaan menahan data sambil menggugat kerangka baru penetapan denda antitrust di India.
Kekhawatiran Apple tidak kecil karena aturan tersebut dinilai membuka peluang denda yang dihitung dari pendapatan global, bukan hanya pendapatan lokal. Dengan skema seperti itu, risiko penalti bisa mencapai nilai miliaran dolar.
Tekanan dari regulator dan pengadilan makin kuat
Upaya Apple untuk menghentikan proses juga tidak membuahkan hasil. Regulator menolak permintaan penundaan, sementara seorang hakim Pengadilan Tinggi Delhi baru-baru ini memerintahkan Apple untuk bekerja sama dalam penyelidikan.
Kondisi ini membuat ruang Apple untuk menahan proses tampak semakin sempit. Di sisi lain, CCI mendapatkan posisi yang lebih kuat untuk melangkah ke tahap berikutnya bila data yang diminta sudah masuk.
Penyerahan data keuangan tidak otomatis membuat Apple dinyatakan bersalah. Namun, langkah itu membuka jalan bagi regulator untuk menyiapkan perhitungan denda jika pelanggaran persaingan pada akhirnya terbukti.
Akar kasusnya ada pada kebijakan App Store
Sengketa ini berawal pada 2021 ketika sejumlah pihak mengajukan keberatan atas kebijakan App Store Apple. Di antara pengadu itu ada Match Group, induk Tinder, serta Alliance of Digital India Foundation.
Pokok masalahnya terletak pada posisi Apple di ekosistem aplikasi iPhone. Para pengadu mempersoalkan aturan App Store yang dinilai membatasi persaingan, terutama terkait penggunaan sistem pembayaran pihak ketiga.
Setelah penyelidikan panjang, CCI pada 2024 menyatakan Apple menyalahgunakan posisi dominannya di pasar aplikasi iPhone. Regulator menilai App Store telah menjadi “mitra dagang yang tak terhindarkan” bagi para pengembang.
CCI juga menilai pembatasan terhadap sistem pembayaran pihak ketiga menekan kompetisi. Temuan itu menjadi dasar utama tekanan regulator terhadap Apple dalam kasus yang masih berjalan tersebut.
India menjadi pasar yang tidak bisa diabaikan
Kasus ini muncul saat India justru semakin penting bagi Apple. Dalam lima tahun terakhir, pangsa iPhone di pasar smartphone India disebut naik signifikan.
Apple juga memperluas manufaktur lokal di India. Langkah itu merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendiversifikasi produksi di luar China.
Karena itu, sengketa App Store di India tidak hanya menyangkut kepatuhan terhadap aturan persaingan. Kasus ini juga bersinggungan dengan ekspansi bisnis Apple di salah satu pasar yang kini mendapat perhatian besar dari perusahaan.
Di saat pasar tumbuh cepat, tekanan hukum membuat posisi Apple makin rumit. Perusahaan memperkuat kehadiran bisnisnya, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi kemungkinan sanksi dari regulator persaingan.
Pasar kini menunggu langkah lanjutan CCI setelah temuan yang sudah ada. Jika regulator memutuskan Apple melanggar hukum persaingan, besaran penalti akan sangat dipengaruhi oleh data keuangan yang kini diminta untuk diserahkan.
Source: sundayguardianlive.com






