Apple mencatat sinyal yang lebih kuat dari perkiraan pasar setelah permintaan terhadap iPhone 17 dan MacBook Neo ikut mengangkat proyeksi bisnis perusahaan. Reaksi investor langsung terasa ketika saham Apple sempat melonjak hampir 4 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, menyusul panduan penjualan kuartal fiskal ketiga yang berada di kisaran 14 persen hingga 17 persen.
Angka itu jauh melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya hanya sekitar 9,5 persen. Kondisi tersebut membuat prospek Apple terlihat lebih solid, terutama karena lini produk terbarunya masih berhasil menjaga minat konsumen di tengah persaingan yang makin ketat.
iPhone 17 masih jadi pendorong utama
Tim Cook menegaskan bahwa minat pasar terhadap iPhone 17 tetap sangat tinggi. Namun, Apple belum bisa sepenuhnya memanfaatkan permintaan itu karena pasokan chip masih terbatas.
“Permintaan sangat tinggi. Namun saat ini ada keterbatasan fleksibilitas dalam rantai pasok untuk mendapatkan komponen tambahan,” kata Tim Cook. Pernyataan itu menunjukkan bahwa tantangan utama Apple saat ini lebih banyak datang dari sisi pasokan ketimbang lemahnya permintaan.
Kinerja iPhone tetap menjadi bagian terbesar dalam bisnis Apple. Pada kuartal terbaru, penjualan iPhone tercatat 56,99 miliar dolar AS atau sekitar Rp927 triliun, sedikit di bawah perkiraan analis sebesar 57,21 miliar dolar AS atau sekitar Rp931 triliun.
MacBook Neo membuka ruang baru
Selain iPhone, MacBook Neo juga ikut memberi dorongan penting. Produk ini dirancang untuk menjangkau pengguna yang lebih luas, termasuk pelajar, dengan harga mulai sekitar 500 dolar AS atau sekitar Rp8,1 juta.
Sejumlah analis menilai MacBook Neo bisa memperluas posisi Apple di pasar laptop yang lebih terjangkau. Segmen ini selama ini lebih banyak diisi perangkat berbasis Chromebook, sehingga kehadiran produk baru Apple berpotensi membuat persaingan semakin langsung.
Dari sisi bisnis komputer, penjualan Mac Apple mencapai 8,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp136 triliun. Angka itu melampaui ekspektasi pasar dan memperlihatkan bahwa lini Mac masih punya peran penting dalam menopang pertumbuhan perusahaan.
Pendapatan total ikut terangkat
Gabungan performa iPhone dan Mac membantu Apple mencatat pendapatan total 111,18 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.809 triliun. Laba per saham perusahaan berada di level 2,01 dolar AS, menandakan hasil yang tetap solid di tengah dinamika pasar teknologi.
Kontribusi bisnis layanan digital juga tetap besar. Pendapatan dari layanan seperti App Store tercatat 30,98 miliar dolar AS atau sekitar Rp503 triliun, menunjukkan bahwa segmen non-perangkat masih menjadi penopang penting dalam struktur pendapatan Apple.
Pasar China juga memberi hasil yang positif. Penjualan di wilayah tersebut mencapai 20,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp333 triliun, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Biaya komponen dan strategi Apple ke depan
Di balik hasil yang kuat, Apple tetap memberi sinyal kehati-hatian. Perusahaan menyebut harga memori chip diperkirakan naik pada kuartal mendatang, dan kondisi itu dapat menekan margin keuntungan.
Tekanan biaya ini penting dicermati karena pertumbuhan penjualan yang tinggi tidak selalu berarti ruang laba yang lebih longgar. Apple perlu menjaga keseimbangan antara tingginya permintaan dan biaya komponen yang makin menantang.
Meski begitu, Apple tetap menunjukkan kekuatan modal yang besar. Perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.620 triliun untuk menjaga kepercayaan investor, sementara belanja riset dan pengembangan naik 33,5 persen menjadi 11,42 miliar dolar AS atau sekitar Rp185 triliun. Fokus itu memperlihatkan bahwa Apple terus mendorong inovasi di tengah persaingan kecerdasan buatan dan tuntutan pasar yang bergerak cepat.







