Lebih dari 1.700 instalasi dari 600 sistem operasi berbeda kini bisa dijelajahi tanpa harus berburu perangkat lawas. Koleksi itu disimpan dalam Virtual OS Museum, sebuah arsip digital yang berjalan lewat emulator dan mencakup lebih dari 250 platform.
Yang membuatnya menarik bukan hanya jumlahnya, tetapi juga rentang sejarah yang ditampung. Di dalamnya ada Manchester Baby, komputer stored-program pertama di dunia dari 1948, sampai build awal Android pada 2011.
Arsip yang terasa seperti perpustakaan sejarah komputer
Virtual OS Museum tidak hadir seperti museum fisik pada umumnya. Pengunjung tidak perlu datang ke gedung tertentu, karena sistem operasi yang tersimpan bisa diunduh lalu dijalankan langsung dari komputer.
Pendekatan ini membuat pengalaman menjelajahnya terasa seperti membuka perpustakaan digital raksasa. Isinya bukan sekadar file lama, melainkan jejak perkembangan sistem operasi dari berbagai era dan platform.
Koleksi sebesar ini juga memberi ruang bagi sistem yang jarang ditemui di tempat lain. Banyak OS lawas, eksotis, dan langka bisa dicoba tanpa harus memiliki perangkat keras aslinya.
Di antara isi arsip tersebut, ada juga beragam varian DOS dalam jumlah besar. Selain itu, tersedia MOS untuk komputer lawas Acorn BBC Master dan NitrOS-9 yang membawa fitur modern ke komputer Tandy Radio Shack CoCo dari era 80-an.
Dirakit konsisten oleh satu orang
Skala proyek ini makin menonjol karena sebagian besar pengerjaannya dilakukan oleh satu orang. Sosok di balik Virtual OS Museum adalah Andrew Warkentin, seorang developer sekaligus sejarawan OS.
Warkentin mulai mengumpulkan image sistem operasi sejak 2003. Dari proses panjang itu, arsip digital ini tumbuh menjadi koleksi besar yang merangkum banyak cabang sejarah komputasi.
Keberadaan proyek seperti ini menunjukkan bahwa pelestarian perangkat lunak lama tidak selalu bergantung pada institusi besar. Arsip yang disusun konsisten dalam waktu panjang juga bisa menjadi pintu masuk penting untuk memahami evolusi komputer.
Pengalaman yang lebih dekat ke sejarah daripada pemakaian harian
Meski bisa dijalankan, koleksi ini memang lebih cocok dipandang sebagai dokumentasi sejarah. Image OS yang tersedia umumnya hanya memuat aplikasi bawaan dari sistem operasi masing-masing.
Saat pertama kali dibuka, fungsi yang muncul biasanya sangat terbatas. Pengguna umumnya hanya akan menemukan aplikasi dasar seperti kalkulator, file manager, atau pengolah teks sederhana bawaan pabrik.
Kondisi itu justru memperlihatkan betapa berbeda wajah perangkat lunak lama dibanding sistem modern. OS lawas cenderung minimalis dan sangat bergantung pada konteks perangkat keras serta perangkat lunak tambahan yang kini sulit ditemukan.
Untuk sistem yang sangat tua seperti CTSS, tantangannya bahkan lebih besar. Mencari program tambahan untuk dipasang kembali bukan perkara mudah, sehingga eksplorasi antarmuka sering menjadi daya tarik utamanya.
Ukuran unduhan besar, tetapi cakupannya sepadan
Akses ke koleksi seluas ini memang menuntut kesiapan teknis. Pengguna perlu menyiapkan kuota internet dan ruang penyimpanan yang besar sebelum mulai mengunduh.
Versi penuh Virtual OS Museum memiliki ukuran 127 GB dalam format zip. Ukuran itu sudah mencakup seluruh image sistem operasi yang ada di dalam koleksi.
Ada juga edisi Lite untuk pilihan yang lebih ringan. Namun, file awalnya tetap besar, yakni 14 GB, karena versi ini hanya akan mengunduh image saat dibutuhkan.
Besar kecilnya file itu sejalan dengan luasnya arsip yang disediakan. Koleksi ini bukan paket ringkas berisi beberapa OS populer, melainkan kumpulan besar yang merekam banyak platform dan banyak periode perkembangan komputasi.
Bagi yang menyukai nostalgia, museum digital ini menawarkan pengalaman yang lebih personal daripada sekadar melihat cuplikan layar. Menyalakan kembali Windows 95, misalnya, bisa menghadirkan sensasi yang berbeda dari dokumentasi biasa, sambil memperlihatkan betapa cepat antarmuka dan konsep komputasi berubah dari masa ke masa.
Source: inet.detik.com