Ryan Adriandhy menilai industri film Indonesia masih menghadapi celah besar dalam pengarsipan skenario. Menurutnya, naskah yang tersimpan rapi bukan sekadar dokumen produksi, melainkan aset kreatif yang bisa dipakai ulang untuk belajar dan mengembangkan ekosistem perfilman.
Ia menilai akses terhadap skrip yang terdokumentasi dengan baik akan sangat membantu penulis, sutradara, mahasiswa film, hingga calon sineas. Dengan begitu, proses kreatif di balik sebuah karya bisa dipelajari secara lebih terbuka dan menjadi bahan referensi bagi generasi berikutnya.
Arsip yang Mudah Diakses Bisa Jadi Kelas Terbuka
Dalam acara Netflix Family Festival 2026: World of Wonder di Jakarta, Sabtu (11/7/2026), Ryan mengatakan industri film Indonesia akan sangat diuntungkan jika memiliki arsip skenario film dan serial yang mudah diakses. Ia menyebut pernah menemukan koleksi naskah di perpustakaan Usmar Ismail, tetapi jumlahnya masih sangat terbatas.
Ia juga menilai penerbitan skenario dalam bentuk buku bisa menjadi jalan yang efektif. Cara itu dianggap lebih mudah dijangkau publik, terutama bagi calon penulis dan sineas yang ingin membaca naskah secara langsung.
| Bentuk Pengarsipan | Manfaat Utama | Catatan dari Ryan |
|---|---|---|
| Arsip skenario film dan serial | Memudahkan pembelajaran dan referensi kreatif | Perlu dibuat lebih mudah diakses |
| Naskah dalam bentuk buku | Lebih gampang dijangkau publik | Pernah dilakukan di Indonesia |
Praktik penerbitan naskah sebagai buku bukan hal baru di Indonesia. Ryan mengaku masih menyimpan buku skenario Janji Joni dan Ada Apa dengan Cinta? yang dulu beredar di toko buku, lengkap dengan catatan yang ia buat saat mempelajari teknik penulisan skenario.
Belajar Menulis Tidak Cukup dari Ruang Kelas
Ryan menilai pembelajaran skenario film tidak bisa bergantung pada arsip saja. Ia menyebut ada kebutuhan yang sama pentingnya di bidang pendidikan, terutama karena banyak institusi animasi masih menitikberatkan keterampilan teknis seperti penggunaan perangkat lunak dan operasional komputer.
Menurutnya, penulisan cerita belum mendapat porsi yang memadai, padahal kekuatan utama film animasi tetap berada pada narasinya. Karena itu, pendidikan animasi perlu memberi ruang lebih besar bagi skenario dan pembangunan cerita sebagai fondasi karya yang utuh.
Ia juga menjelaskan bahwa saat belajar animasi, ia tidak pernah mendapat mata kuliah khusus penulisan skenario. Ryan justru harus mengambil mata kuliah pilihan dari program live action agar bisa mempelajari teknik menulis.
Dalam pandangannya, kondisi itu ikut dipengaruhi anggapan di kalangan animator bahwa penulisan cerita bisa berjalan seiring dengan pembuatan storyboard, seperti yang kerap dikaitkan dengan metode Hayao Miyazaki. Namun, Ryan menilai pendekatan tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk semua orang.
Karena itu, ia melihat investasi pada pendidikan penulisan skenario sebagai langkah penting untuk memperkuat ekosistem animasi dan perfilman Indonesia. Ia bahkan berharap naskah Jumbo suatu saat juga bisa dirilis agar menjadi bahan belajar berikutnya bagi generasi kreator baru.
Source: lifestyle.bisnis.com






