Arthur Hayes menilai perebutan di pasar perpetual futures sudah memasuki fase baru, karena Wall Street mulai melirik arena yang selama ini banyak dikuasai Hyperliquid. Ia melihat tekanan terhadap platform itu tidak akan muncul secara perlahan, melainkan datang tajam ketika pemain besar dari bursa tersentral dan bursa TradFi masuk lebih agresif.
Bagi Hayes, inti kekuatan Hyperliquid ada pada arus biaya perdagangan yang terus mengalir. Biaya itu dipakai untuk membeli HYPE di pasar terbuka, lalu token tersebut dihapus permanen dari peredaran, sehingga membentuk kelangkaan dan menopang narasi nilai token.
Perps yang dulu niche kini jadi rebutan
Instrumen perpetual futures kini tidak lagi dipandang sebagai ceruk kripto semata. Hayes menilai produk itu telah berubah menjadi medan kompetisi yang menarik minat pemain besar, termasuk Binance dan bursa tradisional keuangan.
Daya tariknya terletak pada struktur kontrak yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Trader bisa tetap memegang posisi tanpa batas waktu, sementara pembayaran berkala menjaga harga kontrak tetap selaras dengan pasar spot.
Dalam pandangan Hayes, perubahan ini membuat pasar perps semakin strategis. Ia memperingatkan bahwa begitu lalu lintas transaksi bergeser ke pesaing, fondasi bisnis Hyperliquid bisa ikut terguncang.
Ketergantungan pada volume tetap jadi titik rawan
Hayes menegaskan model Hyperliquid sangat sensitif terhadap penurunan volume perdagangan. Selama biaya transaksi tetap tinggi dan stabil, mekanisme pembelian kembali HYPE bisa terus bekerja dengan kuat.
Namun, jika pangsa pasar menyusut, tekanan langsung terasa pada mesin pertumbuhan platform. Ia melihat model seperti ini sebagai “cash story” yang bergantung pada kemampuan platform menghasilkan kas dari aktivitas perdagangan.
Data dari dashboard Dune menunjukkan Hyperliquid telah membeli kembali 26,6 juta HYPE. Dari jumlah itu, 579.603 HYPE sudah dihapus permanen dari peredaran, dengan nilai akumulasi pembelian sekitar $1,56 miliar pada harga saat ini.
Pertumbuhan cepat Hyperliquid belum berhenti
Sejak debut pada 2023, Hyperliquid tumbuh menjadi salah satu nama paling menonjol di perdagangan derivatif kripto. Lonjakan minat terhadap token HYPE ikut memperkuat sorotan terhadap platform tersebut.
Pada minggu lalu, HYPE sempat menembus di atas $75 sebelum bergerak di sekitar $59 pada hari Minggu, menurut CoinGecko. Dalam tujuh hari, aset itu turun 14%, meski sebelumnya sempat mencatat puncak baru.
Ekspansi platform juga meluas ke aset dunia nyata. Pada Oktober, Hyperliquid menambah dukungan untuk derivatif emas dan perak, lalu pada Selasa akun resminya menyebut total nilai posisi terbuka di pasar itu telah mencapai $3 miliar.
Pengakuan yang datang dari pasar yang sulit diabaikan
Hayes mengakui Hyperliquid punya pencapaian yang membuat banyak pelaku pasar harus memperhatikan platform ini. Salah satu contohnya adalah kemampuannya menjadi tempat perdagangan untuk aset yang biasanya tidak likuid pada akhir pekan, terutama minyak.
Ia menyebut momen itu sebagai titik penting ketika banyak pengkritik kripto terpaksa mengakui bahwa harga dan penemuan harga untuk variabel penting bisa terjadi di platform perdagangan kripto. Menurutnya, sorotan seperti itu membantu menempatkan Hyperliquid di pusat perhatian pasar.
Di saat yang sama, Hayes juga menunjukkan sikap yang berubah cepat terhadap HYPE. Sehari setelah wawancara itu, ia menulis di X bahwa ia baru saja menjual seluruh simpanan HYPE miliknya, bersama satu aset digital lain.
Ia menyebut sejumlah alasan, termasuk ekspektasi kenaikan harga energi, deretan IPO yang menyedot likuiditas, dan perubahan sikap Presiden Trump soal AI. Ia juga menulis, “Time to take profit,” kurang dari dua bulan setelah menerbitkan esai yang memprediksi HYPE akan mencapai $150 pada Agustus 2026.
Meski begitu, Hayes tetap menilai masuknya pemain besar ke pasar ini tidak bisa dihindari. Ia memperkirakan pada tahun depan akan muncul produk TradFi yang cukup likuid dengan arsitektur perpetual swap, sehingga persaingan untuk Hyperliquid akan semakin nyata.
