Teori bahwa Hajar Aswad adalah batu meteorit memang lama terdengar meyakinkan, tetapi justru di bagian ilmiahnya muncul sejumlah keberatan. Sejumlah ciri meteorit yang umum tidak sepenuhnya cocok dengan gambaran batu yang berada di dekat Ka’bah itu.
Perdebatan ini menarik karena Hajar Aswad tidak hanya dipandang dari sisi keyakinan, tetapi juga dari jejak material dan catatan sejarah. Di titik inilah sains mencoba membaca ulang kemungkinan asal-usulnya, tanpa langsung menganggap teori meteorit sebagai jawaban akhir.
Ciri batu yang memicu dugaan
Sebagian pembahasan tentang asal-usul Hajar Aswad merujuk pada kisah tradisional bahwa batu itu berasal dari surga. Dari sisi lain, ada pula kaitan dengan temuan material yang dianggap menyerupai batuan hasil tumbukan dari luar angkasa.
E. Thomsen dalam studi berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba menyinggung temuan Harry St John Philby di Al-Hadidah. Philby disebut menemukan kawah tumbukan meteor di Wabar pada 1932, dan kawah itu dilaporkan berukuran lebih dari 100 meter.
Di sekitar kawah dan gurun, ditemukan beberapa pecahan batuan yang diduga berasal dari peristiwa tumbukan tersebut. Dari sinilah dugaan bahwa Hajar Aswad berkaitan dengan meteorit makin sering dibicarakan.
Komposisi yang dianggap mirip
Thomsen menjelaskan bahwa pecahan batu itu terbentuk dari lelehan pasir dan silika yang bercampur dengan nikel. Campuran tersebut, menurut dia, dapat menghasilkan warna putih di bagian dalam dan cangkang hitam di bagian luar.
Ia juga mengaitkan warna hitam pada batuan dengan unsur nikel yang terbentuk akibat ledakan nikel dan besi di luar angkasa. Karena itu, Thomsen menilai pecahan Wabar memiliki kemiripan dengan gambaran Hajar Aswad.
Dalam penjelasan itu, warna putih yang pernah disebutkan pada Hajar Aswad dipandang sebagai bagian inti dari campuran zat kimia tersebut. Lapisan putih itu kemudian disebut tidak bertahan lama dan tertutup lapisan hitam di bagian luar.
Riwayat tradisional juga menyebut Hajar Aswad awalnya berwarna putih lalu berubah menjadi hitam karena menyerap dosa manusia. Sementara itu, bintik putih yang tampak pada batu diduga merupakan sisa kaca dan batu pasir.
Di sinilah sains mulai ragu
Meski Thomsen sempat menulis bahwa batu meteor itu kemungkinan adalah Hajar Aswad, ada beberapa keberatan yang membuat teori tersebut belum kokoh. Meteorit umumnya tidak mengapung, jarang pecah menjadi fragmen kecil, dan tidak mudah bertahan terhadap erosi dalam kondisi tertentu.
Keberatan-keberatan itu penting karena teori meteorit tidak cukup hanya berdiri di atas kemiripan warna atau dugaan bentuk material. Tanpa kecocokan yang lebih kuat, kesimpulan bahwa Hajar Aswad pasti berasal dari meteorit masih belum bisa diterima sebagai jawaban final.
Di titik ini, pembahasan ilmiah justru membuka ruang baru untuk membaca ulang batu tersebut dengan lebih hati-hati. Alih-alih menutup pertanyaan, temuan yang ada malah menunjukkan bahwa asal material Hajar Aswad masih menyisakan celah besar.
Masih ada kajian lain yang belum menutup pintu
Penelitian lain juga mencoba membaca usia batu itu dan menyebut usianya sejalan dengan periode yang dikenal masyarakat Arab kuno. Ada pula dugaan bahwa batu tersebut dibawa ke Makkah melalui wilayah Oman.
Namun, dugaan itu tetap berada dalam wilayah kajian dan belum menjadi kesimpulan final yang diterima semua pihak. Karena itu, asal-usul Hajar Aswad masih berdiri di persimpangan antara tradisi, sejarah, dan sains.
Di satu sisi, nilai spiritualnya terus dijaga dalam keyakinan umat Islam. Di sisi lain, pertanyaan tentang apakah batu itu benar-benar punya hubungan dengan meteorit masih tetap terbuka untuk diteliti lebih lanjut.
Source: www.cnbcindonesia.com






