Saham PT Astra International Tbk atau ASII justru melemah saat perusahaan mengumumkan pembagian dividen tunai jumbo dari laba bersih tahun buku 2025. Pada perdagangan hari itu, saham ASII ditutup turun 3,79 persen ke level Rp6.350.
Tekanan pada saham tersebut terjadi meski Astra baru saja menyetujui pembagian dividen tunai senilai Rp15,7 triliun. Keputusan itu muncul dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Dividen besar dari laba 2025
Astra menggunakan laba bersih konsolidasian sebesar Rp32,76 triliun sepanjang 2025 sebagai dasar pembagian dividen. Dari jumlah itu, perseroan menetapkan dividen tunai Rp390 per saham, dengan nilai maksimal mencapai Rp15,7 triliun.
Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menyampaikan bahwa para pemegang saham telah menyetujui penggunaan laba bersih konsolidasian untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Ia juga menjelaskan bahwa pembagian sebesar Rp390 per saham sudah disetujui dalam RUPST.
Besarnya dividen tersebut menunjukkan bahwa Astra masih menjaga profitabilitas dan tetap menyiapkan imbal hasil bagi pemegang saham. Di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis, keputusan ini menjadi salah satu sorotan utama dari hasil rapat tahunan perseroan.
Sudah ada pembagian interim sebelumnya
Pembagian dividen Astra tidak seluruhnya diberikan sekaligus. Sebagian dana sudah disalurkan lebih dahulu melalui dividen interim pada 31 Oktober 2025.
Pada saat itu, perseroan membagikan Rp98 per saham atau setara Rp3,96 triliun. Boy Kelana Soebroto menyebut bahwa nilai dividen tunai yang disetujui RUPST sudah mencakup pembayaran interim tersebut.
Artinya, sisa dividen final yang masih akan dibayarkan adalah Rp292 per saham. Skema ini membuat total pembagian tetap sesuai keputusan perusahaan, meski pencairannya berlangsung dalam dua tahap.
Jadwal pembayaran dividen final
Astra menetapkan pembayaran dividen final pada 25 Mei 2026. Hak atas dividen itu diberikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 6 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Bagi investor, tanggal pencatatan tersebut menjadi penentu utama untuk memastikan kepemilikan saham tercatat sebagai penerima dividen final. Dengan begitu, daftar pemegang saham pada waktu itu akan menjadi dasar perusahaan dalam menyalurkan sisa laba tahun buku 2025.
Pasar merespons dengan tekanan jual
Walau pembagian dividen besar lazim dianggap sebagai kabar positif, respons pasar pada hari pengumuman justru berlawanan. Saham ASII dibuka di Rp6.600, lalu bergerak melemah sepanjang sesi pertama.
Pada perdagangan hari itu, saham sempat menyentuh kisaran Rp6.325 sebelum akhirnya ditutup di Rp6.350. Penurunan sebesar 250 poin atau 3,79 persen ini menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup kuat di bursa.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa dividen jumbo tidak selalu langsung mendorong harga saham naik. Meski begitu, Astra tetap menunjukkan kapasitas keuangan yang solid karena mampu membagikan dividen tunai dalam jumlah besar sambil mempertahankan laba bersih konsolidasian Rp32,76 triliun dan menyiapkan pembayaran final pada 25 Mei 2026.







