Arus pembelian bersih investor asing menjadi penopang paling kuat bagi IHSG saat ini. Hingga pertengahan April 2026, aliran dana masuk tercatat mencapai Rp1,23 triliun dan banyak masuk ke saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, TLKM, BRMS, serta ASII.
Minat yang mengarah ke saham-saham unggulan itu menunjukkan pasar masih memusatkan perhatian pada emiten yang memiliki likuiditas tinggi. Dalam kondisi indeks yang bergerak naik turun, saham blue chip tetap menjadi tujuan utama transaksi di pasar reguler karena dianggap lebih solid secara fundamental.
Peluang IHSG menuju resistance 8.390
Secara teknikal, IHSG masih membuka ruang penguatan dengan target terdekat di area resistance 8.390. Mandiri Sekuritas menilai indeks berpeluang lebih dulu menguji rentang 8.332 sampai 8.354 sebelum mencoba menembus level yang lebih tinggi.
Di sisi bawah, support IHSG berada di 8.181. Posisi ini memberi bantalan teknikal apabila pasar mengalami koreksi jangka pendek, sehingga pergerakan indeks masih memiliki ruang untuk berfluktuasi tanpa langsung kehilangan arah utama.
BBCA dan BMRI kembali jadi magnet dana asing
Sektor perbankan kembali muncul sebagai pusat perhatian karena BBCA dan BMRI termasuk saham yang paling banyak diburu investor asing. Masuknya dana pada dua emiten besar ini ikut memperkuat dorongan bagi IHSG, mengingat bobot sektor perbankan yang besar di pasar.
Selain BBCA dan BMRI, TLKM juga masuk daftar saham yang menyerap aliran dana asing. BRMS dan ASII pun ikut mendapat perhatian beli, memperlihatkan bahwa minat investor mancanegara tidak hanya tertuju pada bank besar, tetapi juga merambah emiten berkapitalisasi besar lain yang dinilai likuid.
Buyback emiten ikut menjaga sentimen pasar
Di luar arus asing, pasar juga memperoleh dukungan dari program buyback yang dijalankan sejumlah emiten. Langkah ini umumnya dipakai perusahaan untuk menjaga kestabilan harga dan meredam tekanan jual ketika volatilitas meningkat.
Sejumlah emiten besar telah menyiapkan dana khusus untuk aksi tersebut. Indocement Tunggal Prakarsa mengalokasikan Rp750 miliar untuk periode Mei 2026 hingga Mei 2027, sementara Kalbe Farma menyiapkan Rp500 miliar untuk April hingga Juli 2026.
Wintermar Offshore Marine juga merancang buyback senilai Rp59,84 miliar pada April 2026. Autopedia Sukses Lestari menyusul dengan alokasi Rp20 miliar untuk pelaksanaan pada Mei 2026, yang menambah daftar penopang pasar dari sisi korporasi.
Risiko teknikal masih perlu dicermati
Meski peluang penguatan masih dominan, pasar tetap berhadapan dengan potensi area jenuh beli saat indeks berada di level tinggi. Situasi ini membuat IHSG dapat bergerak lebih cepat dan rawan terkoreksi bila muncul tekanan dari luar negeri.
Salah satu faktor yang terus diperhatikan adalah arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Spekulasi mengenai suku bunga The Fed masih relevan karena dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang dan ikut memberi tekanan pada rupiah.
Di tengah kondisi tersebut, disiplin dalam mengelola risiko tetap penting saat IHSG mendekati resistance. Diversifikasi ke sektor defensif seperti farmasi dan konsumsi juga dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio jika laju indeks mulai tertahan di area atas.







