Di pasar mobil keluarga, Toyota Avanza berhasil menekan banyak pesaing karena menawarkan paket yang dianggap paling masuk akal bagi konsumen. Mobil ini punya harga yang terjangkau, muat tujuh penumpang, dan tetap bisa diandalkan untuk menghadapi beragam kondisi jalan.
Dampak dari penerimaan pasar itu terasa besar, termasuk bagi Nissan. Saat Avanza melaju di segmen LMPV, Nissan belum punya model yang benar-benar hadir di kelas yang sama, sehingga perusahaan terdorong untuk menyiapkan jawaban yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar.
Tekanan besar dari Avanza
Avanza bukan hanya laris, tetapi juga ikut mengubah cara pabrikan membaca selera konsumen. Kehadirannya membuat banyak keluarga menilai bahwa mobil yang paling dibutuhkan adalah kendaraan yang praktis, muat banyak, dan tidak rewel saat dipakai harian.
Menurut artikel referensi Radar Blitar, pabrikan yang belum memiliki produk sekelas Avanza mulai kehilangan pangsa pasar di segmen mobil keluarga. Situasi itu membuat persaingan bergeser, karena model yang tidak cocok dengan kebutuhan utama konsumen perlahan tersisih.
Nissan merasakan tekanan paling besar karena saat itu masih bertumpu pada model MPV yang lebih premium seperti Serena. Kondisi tersebut membuat Nissan belum punya produk yang masuk ke level Low Multi Purpose Vehicle atau LMPV untuk berhadapan langsung dengan Avanza.
Grand Livina lahir sebagai respons
Untuk menjawab situasi itu, Nissan memilih turun ke kelas yang lebih terjangkau. Dari langkah inilah Grand Livina kemudian lahir dan diposisikan sebagai penantang di segmen yang sama dengan Avanza.
Grand Livina diluncurkan pada 2007 untuk mengisi celah pasar yang sudah lebih dulu dikuasai Toyota. Meski menyasar keluarga, Nissan tidak membuat mobil ini dengan pendekatan yang sama, karena sejak awal Grand Livina diberi identitas yang berbeda.
Nissan menonjolkan kenyamanan berkendara dan kesan elegan agar Grand Livina tidak terasa seperti sekadar peniru rivalnya. Dimensinya yang lebih rendah membuat tampilannya kerap disamakan dengan station wagon, sehingga kesan visualnya terasa lebih halus.
Nyaman di jalan mulus, tapi ada batasnya
Karakter itu membuat Grand Livina punya daya tarik tersendiri. Mobil ini dikenal memiliki handling yang baik dan suspensi yang empuk, sehingga enak dipakai di jalan perkotaan dengan permukaan yang mulus.
Namun, keunggulan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan mayoritas pembeli mobil keluarga di Indonesia. Banyak konsumen tidak hanya mencari kenyamanan, tetapi juga mobil yang siap menghadapi jalan rusak dan situasi jalan yang tidak rata.
Di titik itu, Grand Livina dinilai kurang fleksibel dibanding Avanza. Mobil Nissan ini terasa lebih cocok untuk pengguna yang lebih sering melewati jalan bagus, sedangkan pasar utama membutuhkan kendaraan yang serbaguna.
Mengapa Avanza tetap lebih kuat
Toyota Avanza menawarkan kombinasi yang lebih dekat dengan kebutuhan harian banyak keluarga. Ground clearance yang tinggi dan reputasinya sebagai mobil yang tahan banting membuat model ini lebih percaya diri dipakai di berbagai kondisi.
Kelebihan tersebut menjadi alasan Avanza lebih mudah diterima luas. Saat konsumen mencari mobil keluarga yang praktis, mudah dirawat, kuat, dan siap dipakai di banyak situasi, Avanza tampil sebagai pilihan yang lebih meyakinkan.
Grand Livina memang menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda, tetapi daya tariknya lebih sempit. Mobil ini punya tempat tersendiri bagi pengguna yang mengutamakan kenyamanan, namun belum cukup untuk menggeser dominasi Avanza di pasar utama.
Persaingan keduanya akhirnya menunjukkan dua pendekatan yang berbeda di segmen mobil keluarga. Avanza memperkuat posisinya sebagai mobil keluarga yang praktis dan serbaguna, sementara Grand Livina dikenang sebagai model yang nyaman tetapi kesulitan menandingi kebutuhan nyata di jalan rusak yang banyak ditemui konsumen.
