B50 Mulai Masuk Pasar Besok, Pengguna Mobil Diesel dan Genset Perlu Waspada Hal Ini

Author: Redaksi Android62

B50 mulai didistribusikan secara bertahap di SPBU seluruh Indonesia besok, dan bahan bakar ini pada dasarnya dinilai aman untuk mobil diesel maupun genset. Namun, masa awal peralihan justru menjadi fase yang paling perlu diwaspadai karena kondisi mesin, kebersihan sistem bahan bakar, dan cara penyimpanan bisa memengaruhi hasil pemakaian.

Campuran baru ini terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, dalam hal ini kelapa sawit, dan 50 persen solar fosil. Pemerintah menyiapkan masa transisi hingga 1 Oktober 2026 agar badan usaha dapat menghabiskan stok B40 lama sekaligus menuntaskan proses pencampuran sesuai standar.

Masih bisa ditemui B40

Dengan skema bertahap tersebut, masyarakat masih berpotensi menemukan B40 di sejumlah titik penjualan dalam beberapa waktu ke depan. Kebijakan ini dibuat agar kualitas bahan bakar yang masuk ke tangki kendaraan dan genset tetap terjaga selama implementasi penuh berlangsung.

Sudah diuji di enam sektor

Pemerintah menyebut B50 tidak diterapkan tanpa persiapan teknis. Pengujian dilakukan intensif sejak awal 2025, lalu dilanjutkan dengan uji serentak di enam sektor mulai 9 Desember 2025.

Enam sektor itu meliputi otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, pembangkit, dan kereta. Untuk kendaraan otomotif, uji jalan bahkan ditempuh hingga 50.000 kilometer guna melihat dampak jangka panjang pada mesin.

Sektor Uji B50 Keterangan
Otomotif Uji jalan hingga 50.000 kilometer
Tambang Termasuk dalam pengujian serentak
Alat pertanian Termasuk dalam pengujian serentak
Kelautan Termasuk dalam pengujian serentak
Pembangkit Termasuk dalam pengujian serentak
Kereta Termasuk dalam pengujian serentak

Aman, tetapi ada catatan penting

Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus dari Universitas Sumatera Utara menilai hasil uji secara umum menunjukkan B50 aman untuk sebagian besar parameter teknis. Meski begitu, ia menegaskan keamanan itu tetap bergantung pada mutu bahan bakar, distribusi yang benar, dan kondisi mesin yang dirawat sesuai standar.

Catatan itu penting karena populasi mesin diesel di Indonesia sangat beragam. Ada mesin lama, dan ada pula mesin modern dengan sistem injeksi yang lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar serta kebersihan komponen.

Efek pembersih bisa memicu filter cepat tersumbat

Salah satu sifat teknis biodiesel yang perlu diperhatikan adalah efek detergen atau pembersih. Saat pertama kali beralih ke B50, bahan bakar ini dapat melarutkan deposit lama yang menempel di dinding tangki.

Kotoran yang terangkat lalu ikut mengalir dalam sistem bahan bakar. Akibatnya, filter bahan bakar berpotensi lebih cepat tersumbat dibandingkan pola pemakaian sebelumnya.

Karena itu, pengguna disarankan memeriksa filter lebih sering pada masa awal penggunaan B50. Menyiapkan filter cadangan juga dinilai penting, terutama untuk kendaraan diesel yang sebelumnya lama menggunakan bahan bakar dengan endapan di tangki.

Potensi konsumsi sedikit lebih tinggi

Perubahan lain yang perlu dihitung adalah konsumsi bahan bakar. Secara ilmiah, biodiesel memiliki nilai kalor sedikit lebih rendah dibandingkan solar fosil murni.

Data pengujian menunjukkan konsumsi bahan bakar bisa naik sekitar 1 sampai 3 persen dibandingkan B40. Artinya, B50 cenderung sedikit lebih boros dalam hitungan liter per kilometer atau liter per jam.

Angka tersebut masih dinilai dalam batas wajar menurut paparan akademis yang disampaikan Tulus. Namun, informasi ini tetap relevan bagi pemilik armada, pengguna kendaraan harian, dan pelaku usaha yang menghitung biaya operasional secara ketat.

Genset memerlukan perhatian pada penyimpanan

Pengguna genset menghadapi tantangan tambahan karena bahan bakar sering disimpan sebagai cadangan dalam waktu lama. Dalam kondisi itu, sifat biodiesel yang lebih mudah menyerap air dibandingkan solar fosil perlu diwaspadai.

Penyimpanan B50 terlalu lama tanpa rotasi stok dapat memicu degradasi oksidatif, kenaikan keasaman, pembentukan sedimen, hingga pertumbuhan mikroba di dalam tangki. Risiko tersebut makin besar bila tangki kotor, lembap, atau tidak tertutup rapat.

Tulus menyarankan tangki penyimpanan tetap bersih, kering, dan tertutup rapat. Rotasi stok dengan prinsip First-In First-Out atau FIFO juga penting agar bahan bakar tidak terlalu lama mengendap.

Bagi pemilik mobil diesel, alat kerja, maupun genset, masa transisi menuju B50 bukan hanya soal mengganti jenis BBM di SPBU. Fase ini juga menuntut pemeriksaan tangki, filter, selang, dan pola penyimpanan agar bahan bakar baru bekerja sesuai hasil uji yang sudah dijalankan.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru