Ancaman banjir dan longsor di Jawa Tengah membuat pembahasan soal geoteknik tidak lagi berhenti di ruang kelas. Di Universitas Muhammadiyah Surakarta, isu itu diangkat sebagai bagian penting dari upaya membangun infrastruktur yang lebih tahan bencana dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.
Melalui Seminar Nasional XV, Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UMS mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan praktisi dalam satu forum. Tema yang diangkat, “Tantangan dan Strategi Geoteknik dalam Pembangunan Infrastruktur Tahan Bencana dan Perubahan Iklim”, menegaskan bahwa persoalan infrastruktur kini membutuhkan kerja bersama dari banyak pihak.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menilai masa depan infrastruktur tidak bisa diserahkan pada satu sektor saja. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri karena perubahan lingkungan bergerak cepat dan menuntut respons yang sama cepatnya.
Harun juga mengingatkan bahwa suhu di kota-kota besar disebut telah naik sekitar dua derajat dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Kondisi itu ikut memengaruhi material bangunan seperti bata, beton, dan besi, sehingga pembangunan perlu memikirkan daya tahan sekaligus adaptasi terhadap iklim.
Menurut dia, bangunan tidak cukup hanya kuat secara struktur. Infrastruktur juga harus mampu bertahan dalam lingkungan yang terus berubah, terutama di daerah yang memiliki kerentanan bencana tinggi.
Risiko Daerah Menjadi Sorotan
Dari sisi kebencanaan, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Tengah, Drs. Wahyudi Fajar, M.Si., memaparkan bahwa sejumlah wilayah di Jawa Tengah memiliki risiko banjir dan longsor yang tinggi. Ia menjelaskan bahwa wilayah tengah Jawa didominasi batuan tua yang sudah mengalami pelapukan, sedangkan kawasan Pantura memiliki karakteristik dataran endapan.
Wahyudi juga menyoroti kawasan bekas Selat Muria yang kini menjadi daratan. Wilayah seperti Grobogan, Pati, Demak, Kudus, dan Jepara disebut berpotensi tinggi mengalami banjir karena secara alami berada di jalur aliran air.
Ia menegaskan bahwa banjir menjadi bencana dengan tingkat risiko tertinggi di Jawa Tengah. Karena itu, peran akademisi dan lulusan teknik sipil dibutuhkan dalam perencanaan drainase, jembatan, talud, dan sistem pengendalian air.
Riset dan Kasus Lapangan Bertemu di Satu Forum
Dari lingkungan akademik, dosen Teknik Sipil UMS Gayuh Aji Prasetyaningtiyas, S.T., M.Eng., Ph.D., memaparkan riset tentang interaksi akar tanaman dan tanah dengan metode centrifuge. Penelitian itu bertujuan memahami pengaruh akar terhadap kestabilan lereng pada kondisi tanah jenuh sebagian.
Gayuh menjelaskan bahwa simulasi dilakukan hingga 15 kali gravitasi bumi untuk memodelkan kondisi lereng berskala besar. Sebelum pengujian, peneliti perlu memeriksa karakteristik tanah, termasuk direct shear dan soil water characteristic curve.
Ia menerangkan bahwa soil water characteristic menggambarkan kekuatan tanah saat berhadapan dengan air, baik ketika menguap maupun saat basah. Setelah itu, peneliti mempelajari morfologi akar tanaman sebelum uji centrifuge dan pengamatan pergerakan tanah dilakukan.
Seminar tersebut juga menghadirkan narasumber dari PT. Tetrasa Geosinindo, Pria Ardhana, S.T., M.T., yang membahas penanganan longsor di Ungaran, Semarang, pada 2021. Peristiwa itu sempat memutus akses jalan setelah hujan berintensitas tinggi memicu longsoran besar.
Pria menjelaskan bahwa longsor dipicu pelapukan lereng dan rembesan air drainase yang masuk ke bidang gelincir tanah. Kerusakan semakin parah karena curah hujan tinggi dan drainase bocor yang perlahan membentuk retakan di dalam tanah.
Penanganan longsor dilakukan lewat analisis kondisi tanah, pemodelan lereng, dan pembangunan struktur perkuatan dengan kombinasi dinding penahan beton serta geosintetik. Tantangannya tidak kecil, karena jalur itu tetap harus dipakai untuk lalu lintas dan logistik masyarakat.
Source: news.ums.ac.id