Isu soal pasokan senjata dari China ke Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan yang bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di tengah ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah, laporan media internasional justru menyebut Beijing sedang menyiapkan pengiriman sistem pertahanan udara untuk Tehran.
Situasi ini membuat klaim Trump bahwa China telah sepakat untuk tidak memasok senjata ke Iran dipertanyakan. Pernyataan itu ia sampaikan melalui unggahan di Truth Social, sebagaimana dikutip NDTV, dengan nada yang menegaskan bahwa China disebut mendukung langkah Amerika Serikat dalam membuka Selat Hormuz secara permanen.
Laporan yang memunculkan tanda tanya
Narasi dari Gedung Putih berhadapan dengan laporan media internasional yang memberi gambaran berbeda. CNN Internasional melaporkan bahwa China justru bersiap mengirim sistem pertahanan udara ke Iran.
Di saat yang sama, Financial Times menyebut Iran memanfaatkan satelit mata-mata milik China untuk melacak dan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat. Dua laporan itu membuat posisi Washington terlihat tidak sepenuhnya sejalan dengan perkembangan di lapangan.
Sikap resmi Beijing tetap membantah
Kementerian Luar Negeri China berulang kali menolak tuduhan bahwa negaranya memberikan dukungan militer kepada Iran. Bantahan itu menunjukkan Beijing ingin menjaga posisi resminya agar tidak dianggap ikut langsung dalam konflik yang berpotensi memperburuk hubungan dengan Washington.
Meski begitu, jika laporan pengiriman sistem pertahanan udara itu benar terjadi, hubungan keamanan antara China dan Iran tampak masih berjalan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa tekanan dari Amerika Serikat belum sepenuhnya memutus ruang kerja sama kedua negara.
Ketegangan di Teluk ikut meningkat
Di sisi lain, China juga mengecam tindakan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut pengerahan militer tambahan serta blokade hanya akan memperburuk keadaan dan melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh.
Guo menilai langkah itu juga membahayakan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut sangat penting bagi pengiriman minyak dunia, sehingga setiap peningkatan ketegangan di kawasan Teluk langsung berdampak pada stabilitas regional.
Berikut poin penting yang muncul dari perkembangan terbaru ini:
- Trump mengklaim China telah sepakat tidak memasok senjata ke Iran.
- CNN Internasional menyebut China sedang menyiapkan sistem pertahanan udara untuk Tehran.
- Financial Times melaporkan Iran memakai satelit mata-mata China untuk memantau target militer AS.
- China membantah tuduhan bahwa pihaknya memberi dukungan militer kepada Iran.
- Beijing mengecam blokade AS karena dinilai memperburuk situasi di kawasan.
Dampak politik menjelang pertemuan Trump dan Xi
Isu Iran muncul pada saat hubungan Washington dan Beijing berada dalam fase sensitif. Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 14–15 Mei, dan Xi Jinping akan melakukan kunjungan balasan ke Washington.
Kunjungan itu menjadi penting karena akan menjadi perjalanan pertama Trump ke China sejak 2017, sekaligus tatap muka pertama keduanya sejak pertemuan di Korea Selatan pada Oktober lalu. Momentum tersebut membuka ruang pembicaraan yang lebih luas mengenai Iran, perdagangan, dan stabilitas kawasan.
Bagi Amerika Serikat, setiap indikasi dukungan militer China kepada Iran dapat dipandang sebagai tantangan terhadap kepentingan keamanan regional. Sementara itu, China kemungkinan akan terus menonjolkan peran yang disebutnya konstruktif dalam menjaga perdamaian, sambil tetap menolak kebijakan Amerika Serikat yang dinilai memperuncing ketegangan di Timur Tengah.
Hubungan China dan Iran sendiri tidak hanya berkaitan dengan aspek politik, tetapi juga energi dan pengaruh geopolitik. Karena itu, isu sistem pertahanan udara ini menjadi lebih besar daripada sekadar soal persenjataan, sebab ia ikut mencerminkan arah persaingan kekuatan yang masih terus bergerak di kawasan Teluk.
Source: www.viva.co.id






