Penyaluran bantuan pangan tetap dipacu meski pasokan kemasan sempat terganggu. Di tengah fluktuasi bahan baku plastik, pemerintah dan Bulog memilih langkah praktis dengan menyederhanakan tampilan kemasan agar distribusi tidak tersendat.
Kebijakan itu membuat proses repack bisa segera dilakukan begitu kemasan tersedia. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten, Taufan Akib, menyebut bantuan sempat terhambat saat kemasan berbahan biji plastik belum lancar masuk, tetapi alur penyaluran kembali dikebut setelah stok datang.
Kemasan dibuat lebih sederhana
Penyesuaian yang dilakukan tidak mengubah mutu kemasan yang dipakai. Perubahan hanya menyentuh tampilan luar agar produksi dan distribusi lebih efisien.
Taufan menjelaskan desain yang sebelumnya memakai gradasi empat warna dipangkas menjadi satu warna. Elemen tulisan juga dibuat lebih sederhana, sedangkan standar kualitas kemasan tetap dipertahankan.
Untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, Kanwil Bulog Jakarta Banten masih memakai desain lama. Kondisi itu terjadi karena stok kemasan yang tersedia masih cukup untuk memenuhi penyaluran program tersebut.
Percepatan penyaluran jadi prioritas
Badan Pangan Nasional sebelumnya memberi perpanjangan batas waktu penyaluran bantuan pangan hingga 31 Mei. Kebijakan itu muncul setelah Perum Bulog mengajukan permohonan perpanjangan waktu pada akhir Maret 2026.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, meminta Bulog mempercepat distribusi dengan memanfaatkan kemasan yang ada. Jika kemasan yang sesuai kriteria belum tersedia, Bulog diminta memakai kemasan lain yang sudah ada dengan menambahkan identitas program bantuan pangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.
Langkah itu diambil agar distribusi tetap bergerak saat rantai pasok kemasan belum kembali normal. Kelancaran penyaluran dijaga karena bantuan pangan menjadi salah satu instrumen penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat.
Penyaluran tetap berjalan di lapangan
Selama triwulan pertama tahun ini, program bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng gratis tetap disalurkan oleh Perum Bulog. Catatan Bapanas menunjukkan penyaluran berlangsung pada Januari hingga Maret 2026 meski ada penyesuaian teknis pada kemasan.
Jumlah Keluarga Penerima Manfaat yang sudah menerima bantuan mencapai 1,85 juta KPM. Dari total itu, 37,1 juta kilogram beras dan 7,4 juta liter minyak goreng telah diterima masyarakat.
Pada Januari dan Februari, bantuan menjangkau 992,8 ribu KPM. Sementara pada Maret, penyaluran kembali menyentuh 864 ribu KPM, menandakan program tetap bergerak di tengah penyesuaian distribusi.
Gangguan pasokan dipengaruhi kondisi lebih luas
Kendala pada kemasan disebut berkaitan dengan faktor geopolitik. Situasi tersebut mendorong pemerintah mengambil langkah yang cepat dan fleksibel agar bantuan pangan tidak berhenti hanya karena pasokan kemasan belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, penyesuaian desain dan pemakaian kemasan yang tersedia menunjukkan prioritas utama masih sama, yaitu memastikan bantuan sampai ke masyarakat. Dengan cara itu, distribusi tetap bisa berjalan tanpa menunggu kondisi pasokan kemasan kembali stabil sepenuhnya.
Source: mediaindonesia.com






