Barcelona mengunci gelar LaLiga setelah menundukkan Real Madrid 2-0 di Spotify Camp Nou. Hasil itu bukan hanya menutup persaingan di papan atas, tetapi juga memperlihatkan jarak yang lebar antara dua raksasa Spanyol sepanjang musim ini.
Di kubu Madrid, musim berjalan dengan pola yang berbalik tajam dari harapan awal. Tim sempat memimpin klasemen dengan keunggulan hampir 10 poin dan bahkan memenangi El Clasico pertama di Bernabeu, sebelum semuanya perlahan runtuh karena masalah internal yang terus membesar.
Awal yang menjanjikan lalu berubah arah
Real Madrid sebenarnya memulai musim dengan sangat kuat di bawah Xabi Alonso. Posisi puncak klasemen sempat mereka kuasai dengan selisih yang terasa aman, dan kemenangan atas Barcelona di El Clasico pertama memberi sinyal bahwa Madrid punya kendali penuh atas persaingan gelar.
Namun, stabilitas itu tidak bertahan lama. Situasi mulai goyah setelah Alonso terlibat perseteruan di ruang ganti usai berselisih dengan Vinicius Junior, lalu tekanan dari publik dan manajemen ikut meningkat setelah Madrid kalah di final Piala Super Spanyol.
Kondisi tersebut membuat posisi Alonso makin sulit. Pada Januari 2026, ia akhirnya meninggalkan Bernabeu, meski Madrid menyebut kepergiannya sebagai pengunduran diri dan banyak pihak menilai ada dorongan dari Presiden Florentino Perez.
Arbeloa masuk, masalah tidak ikut reda
Setelah Alonso pergi, Madrid menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih interim dari Castilla. Pergantian itu tidak memberi efek perbaikan yang diharapkan karena performa tim justru turun dan mereka mulai kehilangan poin penting secara beruntun.
Di Liga Champions, situasinya juga jauh dari nyaman. Madrid harus melewati fase play-off, lalu memang berhasil menyingkirkan Benfica asuhan Jose Mourinho, sebelum akhirnya terhenti di perempat final usai kalah agregat 5-2 dari Bayern Munich.
Arbeloa juga menghadapi beban tambahan berupa badai cedera yang membuat tugasnya semakin berat. Akibatnya, masalah Madrid tidak berhenti di lapangan, tetapi merembet lebih jauh ke dalam dinamika ruang ganti.
Ketegangan yang bocor ke publik
Sejumlah media lokal Spanyol menyebut ada pemain yang mulai tidak lagi menghormati Arbeloa sebagai pelatih. Sorotan juga mengarah ke Kylian Mbappe, sosok yang sebelumnya sangat diinginkan publik Madrid.
Di luar itu, ketegangan internal semakin terlihat setelah pertikaian antar pemain ikut bocor ke publik. Antonio Rudiger disebut berselisih dengan Alvaro Carreras, sementara Federico Valverde terlibat masalah dengan Aurelien Tchouameni.
Manajemen Madrid kemudian turun tangan dengan memberikan sanksi kepada pemain yang terlibat. Klub juga memburu pihak yang diduga membocorkan konflik internal itu ke luar tim, karena situasi semacam itu dianggap memperburuk suasana yang sudah panas.
Barcelona tetap stabil sampai trofi dikunci
Saat Madrid sibuk dengan konflik dan penurunan performa, Barcelona justru menjaga ritme permainan mereka. Konsistensi itu menjadi pembeda utama sepanjang musim dan membuat Blaugrana tetap berada di jalur juara hingga trofi akhirnya dipastikan di kandang sendiri.
Kemenangan 2-0 atas Madrid menjadi penegasan akhir atas stabilitas Barcelona di bawah Hansi Flick. Bagi Madrid, hasil itu terasa pahit karena mereka harus menyaksikan rival utama mengangkat piala untuk kedua kalinya pada musim ini.
Kekalahan tersebut juga menandai puasa gelar kedua secara beruntun bagi Los Blancos. Seusai laga, Arbeloa meminta maaf kepada suporter dan mengakui bahwa musim ini berjalan buruk bagi Real Madrid, sambil menegaskan bahwa tim harus bekerja lebih keras, belajar dari kesalahan, dan mencari cara untuk bangkit lagi.
Source: bola.bisnis.com






