Helios Horizon menarik perhatian setelah baterai solid-state miliknya diklaim mampu mendorong pesawat listrik berawak itu ke tingkat performa yang jauh lebih tinggi. Perusahaan menyebut teknologi baru tersebut memberi dua kali lipat jangkauan dan waktu terbang dibanding baterai kendaraan listrik konvensional.
Lonjakan itu menjadi penting karena penerbangan listrik masih bergulat dengan dua hambatan utama, yakni daya simpan dan keselamatan. Helios Horizon mencoba menjawab keduanya lewat baterai baru, sistem pesawat khusus, dan rancangan yang memang disiapkan untuk terbang hingga stratosfer.
Dorongan terbesar datang dari baterai baru
Paket baterai solid-state yang dipakai Helios Horizon disebut jauh lebih ringkas, tetapi menyimpan energi lebih besar daripada sel lithium-ion yang sebelumnya digunakan perusahaan dan hampir semua kendaraan listrik. Teknologi ini mengganti sebagian atau seluruh elektrolit cair dengan material padat, sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Dalam pengujian internal, Helios juga menyebut baterai ini lebih tahan terhadap kerusakan, panas berlebih, dan thermal runaway dibanding baterai lithium-ion konvensional. Bagi pesawat listrik, karakter seperti ini menjadi krusial karena keselamatan tetap menjadi tuntutan utama.
Sebelum pembaruan itu, baterai lithium-ion Helios Horizon menghasilkan 260 watt-jam per kilogram. Kini, paket solid-state-nya naik ke 410 Wh/kg, perubahan yang langsung memperbesar potensi daya jelajah pesawat.
Perusahaan juga menyebut baterai tersebut dapat diisi dari hampir kosong hingga 80 persen dalam waktu kurang dari 15 menit. Kombinasi densitas energi yang lebih tinggi dan pengisian cepat inilah yang dipakai Helios untuk menilai penerbangan listrik komersial bisa menjadi lebih masuk akal secara operasional.
Pesawatnya juga dirancang khusus untuk efisiensi
Helios Horizon dibangun oleh pendiri sekaligus kepala pilot uji, Miguel Iturmendi, di atas rangka Pipistrel Taurus. Pesawat ini tidak hanya mengandalkan baterai baru, tetapi juga memakai sistem khusus untuk penyaluran daya, manajemen baterai, propulsi, dan kontrol termodinamika.
Perubahan pada airframe ikut mendukung tujuan itu. Helios menambahkan ekstensi sayap dan panel surya agar karakter penerbangannya sesuai dengan misi yang disiapkan perusahaan.
Iturmendi menilai teknologi ini untuk pertama kalinya memberi baterai yang mampu menyediakan jarak tempuh dan waktu pengisian yang dibutuhkan penerbangan listrik komersial. Ia juga menekankan bahwa keamanan tetap harus menjadi syarat utama yang akan dituntut publik.
Uji terbang dipakai untuk memvalidasi konfigurasi baru
Penerbangan uji dilakukan di Zephyrhills Municipal Airport, Florida. Pengujian itu dipakai untuk memvalidasi bobot dan keseimbangan pesawat setelah baterai baru dipasang.
Helios Horizon sendiri sudah memegang rekor ketinggian dunia untuk pesawat listrik di kelas bobotnya. Pesawat ini memang disiapkan untuk terbang ke stratosfer dan sebelumnya sudah mencapai 24.000 kaki dalam penerbangan terdahulu.
Target berikutnya jauh lebih tinggi, yakni di atas 40.000 kaki. Ketinggian itu berarti melampaui banyak pesawat penumpang dan menjadi sasaran penting dalam pengembangan berikutnya.
Dengan sistem manajemen daya dan propulsi yang ada, Iturmendi memperkirakan Helios Horizon bisa menuntaskan penerbangan stratosfer dengan sekali pengisian daya. Perusahaan juga menyatakan akan melakukan lebih banyak penerbangan uji pada akhir tahun saat teknologi baterai solid-state ini terus dimatangkan.
